THK Dompet Dhuafa Di Indonesia dan Tujuh Negara Berkonplik

55

BISNIS BANDUNG -Tahun 2018 ini, Dompet Dhuafa melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) 1439 Hijriyah  menargetkan 25.000 ekor hewan kurban,kambing atau domba  dengan sebaran ke 34 propinsi di Indonesia serta  tujuh negara berkonflik sosial kemanusiaan , antara lain Palestina, Suriah, Myanmar, Camp pengungsi Rohingya di Bangladesh, Mindanao di Filipina, Pattani di Thailand dan Timor Leste. Alasan Dompet Dhuafa memilih  tujuh negara tersebut,  karena konflik sosial kemanusiaan berkepanjangan yang sejauh ini belum terselesaikan.

 “Kurban di luar negeri dilakukan dengan mencari mitra lokal yang dapat dipercaya dari berbagai aspek, mulai dari pemilihan hewan ternak, pengelolaan keuangan yang amanah, pelaporan yang transparan terkait pelaksanaan kurban dan pendistribusian daging kurban. Semua dilakukan dengan pengawasan oleh relawan Dompet Dhuafa terampil, terlatih dan amanah secara seksama,” Direktur Program Dompet Dhuafa Filantropi,  Muhammad Sabeth Abilawa MM.

Dikemukakan Muhammad Sabeth , program ini merupakan  komitmen Dompet Dhuafa untuk berkontribusi bagi permasalahan kemiskinan di Indonesia maupun dunia.Dompet Dhuafa harus siap untuk menyongsong dan beradaptasi atas segala perubahan yang terjadi. “Dompet Dhuafa mencoba mengindetifikasi untuk terus menjawab tantangan, terutama pada program Tebar Hewan Kurban (THK) dengan melibatkan unsur-unsur digital dan teknologi,” Muhammad Sabeth Abilawa  menegaskan kiprah organisasinya, Rabu di Bandung

Menurutnya, sejak tahun 1994, Dompet Dhuafa telah menghadirkan program Tebar Hewan Kurban (THK) dengan menyebarkan hewan kurban ke berbagai wilayah di Indonesia dan beberapa negara berkonflik sosial kemanusiaan. Tahun ini , lanjut Sabeth , adalah kali ke-26 atau tahun ke-24 penyelenggaraan Kurban THK.Tebar Hewan Kurban yang sudah bergulir sejak 1994 hingga 2017 mencapai 237.520 ekor setara dengan kambing, sementara untuk penerima manfaat sebanyak 4.911.208 kepala keluarga dengan sebaran hingga 33 provinsi di Indonesia dan pada tahun 2018 ini Dompet Dhuafa menargetkan 25.000 ekor hewan kurban setara kambing atau domba, sebab itu Dompet Dhuafa mengajak masyarakat untuk berkurban melalui THK.

Dijelaskan M.Sabet Abilawa , ada lima manfaat yang dapat dipetik dari THK ,yakni mewujudkan pemerataan daging kurban dengan mendistribusikan daging ke wilayah yang membutuhkan, masyarakat mendapatkan laporan kurban secara transparan sehingga keterpercayaan tetap terjaga, melalui THK masyarakat diajak untuk turut membantu memberdayakan peternak lokal yang sudah melalui tahapan seleksi serta pendampingan oleh Dompet Dhuafa, masyarakat juga mendapatkan hewan kurban yang berkualitas , selain itu masyarakat diajak untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan adanya penyebaran kurban yang merata , sehingga diharapkan dapat tercipta kecukupan  kebutuhan gizi .“Setiap donatur  dipersilahkan untuk menentukan lokasi kurban di luar negeri dan atau ditawarkan oleh Dompet Dhuafa untuk penentuan lokasinya,” ujar Sabeth.

Dompet Dhuafa mencatat , donatur/pekurban setiap tahunnya terus mengalami peningkatan yang  signifikan,  kesadaran masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam aksi sosial keagamaan semakin meningkat. Disamping itu, Dompet Dhuafa selalu memberikan edukasi ke masyarakat mulai dari pelajar, mahasiswa, profesional, ibu rumah tangga dan komunitas dengan berbagai kegiatan yang mengajak untuk saling berbagi.

Dari sisi penerima manfaat kurban , para penerima manfaat program ekonomi kurban menjadi mitra peternak binaan DD yang dikelola dan didampingi dengan profesional, sehingga bisa menjadi peternak mandiri dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.  Para penerima manfaat daging kurban, murni mendapatkan daging karena pelaksanaan kurban. Banyak  masyarakat Indonesia yang jarang makan daging bahkan belum pernah makan daging sama sekali.

Mengulas alasan Dompet Dhuafa menggulirkan program Tebar Hewan Kurban (THK) dijelaskan Muhammad Sabeth Abilawa, pada dasarnya , pertama untuk mengembangkan metode pemberdayaan kurban ke para peternak di pedalaman, sehingga secara ekonomi kehidupan mereka bisa menjadi lebih baik dan  berkembang dan selalu kami pantau dalam bentuk evaluasi berjenjang dan berkala untuk memastikan tingkat keberhasilan mereka sebelum dilepaskan menjadi peternak mandiri.

Kemudian diharapkan bisa mendorong semangat masyarakat dalam melahirkan gagasan-gagasannya. “Mengajak  lembaga-lembaga lain agar semangat kurban ini tidak semata-mata transaksi jual beli tetapi semangat untuk bisa membantu masyarakat dan merasakan perhatian  ketika hewan kurban sampai dan turut menikmati hewan kurban yang selama ini sebagian masyarakat jarang, bahkan sama sekali belum pernah menikmati daging kurban, ” tutur Sabeth Abilawa menambahkan. (E-018)***