Gula Nasional Kehilangan Manisnya

64

MASALAH yang membelit pergulaan Indonesia masih terus berlanjut. Setelah beberapa pabrik gula berhenti berproduksi, lahan kebun tebu di beberapa daerah sudah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman dan industri, masalah yang berkaitan dengan gula semakin rumit.

Seperti dimuat KOMPAS 30/7, petani yang masih bertahan menanam tebu merasa khawatir, harga jual gula kian menjauhi biaya produksi. Pasar gula nasional mengalami kelebihan pasokan.Gula impor yang sedianya hanya disediakan bagi industri, kini banyak yang merembes ke pasar umum. Harga gula impor jauih lebih murah dibanding harga gula domestik.Akibatnya pasar gula nasional jatu,  para petani tebu dan pabrik gula kolep.

Majalengka dan Cirebon, Jawa Barat yang pernah menikmati manisnya gula sejak zaman penjajahan, kini nyaris tinggal sejarah. Pesta giling yang diadakan setiap musim panen tebu dan menjadi ajang silaturahmi serta hiburan rakyat di sekitar pabrik, sudah tidak ada lagi.

Rori, gotrok, dan pedati yang dulu menjadi sarana pengangkut tebu dari kebun tebu ke pabrik penggilingan, tinggal kenangan para orang tua saja. Daerah Subang, Indramayu, sampai ke Cirebon bagian selatan yang menjadi sentra gula di Jawa Barat, kini semakin meredup bahkan padam sama sekali.

Dari tahun ke tahun, problem gula nasional, tidak pernah menemukan solusi yang paling baik. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah tidak dapat menolong petani tebu dan pabrik gula. Petani tebu semakin malas menanam tebu. Dengan senang hati banyak pegtani pemilik lahan yang biasa digunakan sebagai kebun tebu, sekarang menjual lahannya untuk perumahan, pertokoan, atau industri yang bukan gula.

Alasan petani berhenti menanam tebu karena setiap kali panen, selalu merugi. Modal tanam sejak bibit, pupuk, dan saprotan lainnya makin hari makin mahal. Sedangkan harga jual tebu semakin rendah, belum lagi ongkos angkut dari kebun ke pabrik makin mahal pula. Pabrik gula tidak dapat meningkatkan harga pembelian tebu karena pasar gula lokal dan nasional penuh gula impor. Kalaupun pasar menerima gula lokal, harganya jauh di bawah harga pasar. Akibatnya pabrik rugi, sehingga dalam berproduksi, pabrik menekan harga tebu rakyat.

Dari tahun ke tahun, gula nasional makin terpuruk padahal kebutuhan masyarakat terhadap gula justru makin besar Pemerintah dan para ahli dituntut mencari cara paling baik agar gula nasional dapat keluar dari labirin problema yang menyulitkan semua pihak. Tampaknya pemerintah sejak awal harus memiliki data akurat tentang produksi dan kebutuhan masyarakat terhadap gula.

Kebutuhan gula rafinasi untuk industri makin meningkat. Hal itu pasti mendorong pemerintah mengimpor gula rafinasi. Namun karena datanya bisa jadi kurang akurat, impor guia industri itu selalu belebih. Impor gula rafinasi harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Sekarang menurut kabar, terdapat kelebihan pasokan gula sampai 3,7 juta ton tahun ini saja.

Pembatasan impor gula merupakan salah satu solusi yang tidak terlalu mudah karena kelemahan data. Selain itu pemerintah harus mendorong para ahli pertanian menemukan tanaman selain tebu yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan gula. Tentu saja tanaman itu harus yang mudah tumbuh tidak butuh pemeliharaan yang terlalu sulit, produktivitas dan kandungan gulanya tinggi.

Revitalisasi pabrik gula kurang efektif dan efisien sepanjang produknya tidak mampu bersaing dengan gula impor. Diharapkan pabrik gula nasional mampu memproduksi gula konsumsi dan gula industri sehingga Indonesia tidak usah mengimpor gula lagi. ***