Mengenang Pahlawan dengan Jual Bendera

83

BISNIS BANDUNG – Menyambut   ulang tahun ke 73  Kemerdekaan Republik Indonesia dimanfaatkan warga menjual bendera merah putih serta pernak-pernik lainnya. Bisnis musiman itu  kerap mendapat respons positif dari masyarakat  dengan  membeli bendera sang Saka guna  menghormati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI.

Jaja (30) dan Lufti (28)  adalah penjual bendera  di Kota Bandung yang datang  dari Leles, Garut.  Dua  saudara kandung adik-kakak  ini, menjajakan  bendera merah putih berikut pernak pernik  sejak akhir Juli 2018 di Jalan Surapati, tepatnya di belakang komplek  Pusdai  Bandung.

”Buat kami  warga  Kecamatan Leles, Garut  tibanya bulan Agustus menjadi kegembiraan, lantaran  bisa menyebar ke kota-kota besar di Indonesia untuk menjemput rezeki. Warga Leles yang menjual bendera bukan hanya di Bandung, tapi menyebar ke kota besar lainnya,” tutur Jaja kepada  Bisnis Bandung, Selasa (7/8).

Dia mengakui  berjualan bendera di penggir jalan, bukan tanpa risiko. Ada saja gangguan, aksi kekerasan dan kriminal terutama di malam atau subuh.” Ketika  dinihari yang terasa sangat dingin Senin kemarin, kami menggunakan selimut, tiba-tiba ada orang tidak dikenal menyabetkan pisau ke selimutnya. Saya langsung terbangun dan berteriak, maka orang usil itu pun segera lari, ” ujar Lufti mengisahkan pengalamannya.

Namun, peristiwa itu  tidak membuatnya takut, apalagi kapok. Mereka menyadari  tidur di trotoar atau tepi jalan raya, tentunya akan berbeda  dengan tidur di rumah sendiri, sehingga harus  siap dengan  gangguan tangan usil. ”Sejujurnya  banyak positifnya, selain jualan musiman ini  mendapat uang yang lumayan. Juga  kami bisa mengenang bagaimana pahlawan dulu merebut kemerdekaan dengan nyawa dan darah. Ya, dengan jualan ini  bisa mengenang semangat  pejuang kemerdekaan,” katanya.

Karena yang dijual adalah  simbol negara, menurut  Lufti, maka mereka sangat memperhatikan imbauan  pemerintah kota. Misalnya,  menaati aturan tidak menjajakan bendera dengan memaku  pohon serta tidak menghalangi orang yang berjalan di trotoar. Ia menjelaskan, bendera dengan panjang 90 cm dihargai Rp 15 ribu, bendera 1,2 meter Rp 37,5 ribu, bendera 1,5 meter Rp 47,5 ribu, dan bendera 1,8 meter Rp 57,5 ribu. Hampir semua bendera yang dijualnya menggunakan  kain saten.

Kemudian bendera plastik seharga Rp 25 ribu satu bungkus berisi 100 lembar, umbul-umbul dengan panjang 3-4 meter seharga Rp 37,5-47,5 ribu, dan bendera background sepanjang 10 meter seharga Rp 200-475 ribu.

“Kualitasnya tentu bagus, karena diambil dari  bos di Leles, Garut. Saya juga asli dari sana,” ujarnya seraya menambahkan,  omzet per hari bervariasi  antara Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

Sejumlah penjual  bendera sang Saka, termasuk Jaja dan Ltfi  akan tetap menjajakan bendera di  Kota Bandung hingga tanggal 16 Agustus nanti. Dan mereka sudah berjualan bendera sejak akhir Juli.(B-002)***