Pendekatan Masih Diperlukan

70

NERACA perdagangan Indonesia – Amerika Serikat periode Januari – Mei 2018 mencapai 11,85 miliar dolar AS. Pada periode yang sama tahun 2017 nilai perdagangan kedua negara tercatat 10,65 miliar dolar AS. Artinya terjadi peningkatan nilai dari tahun ke tahun. Badan Pusat Statistik merilis data, neraca perdagangan AS-Indonesia tahun 2017 mengalami peningkatan 10 %. dibanding tahun sebelumnya.

Total perdagangan Indonesia – AS  tahun 2017 mencapai 25,91 miliar dolar AS. Dari angka itu tercatat ekspor Indonesia mencapai 17,79 dolar AS sedangkan impor Indonesia dari AS 9,12 miliar dolar AS. Nilai perdagangan Indonesia surplus terhadap AS. Ekspor Indonmesia ke AS, antara lain udang, karet alam, alas kaki, ban kendaraan, dan garmen. Impor Indonesia dari AS terutama kedelai, kapas, tepung gandum, tepung maizena, dan pakan ternak.

Dilihat dari potensi masing-masing, peluang peningkatan perdagangan kedua negara masih sangat luas. Indonesia masih memiliki produk yang berpotensi diminati warga AS. Sebaliknya Indonesia akan membeli berbagai bahan baku industri yang tidak dihasilkan Indonesia. Impor bahan baku industri itu diyakini dapat mendorong proses produksi dan nilai tambah produk Indonesia, baik untuk ekspor maupun pasar domestik.

Dalam situasi perdagangan internasional yang tidak menentu sekarang ini, timbul berbagai isu yang menghambat perdagangan kedua negara. Kebijakan Presisen AS Donald Trump yang dinilai sangat proteksionistis terhadap produk AS, perang dagang AS-China yang diprediksi akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia, serta perlakuan yang menghambat peningkatan perdagangan AS-Indonesia.

Dalam upaya peningkatan perdagangan itulah, Menteri Perdagangan Indonesia, Enggartiasto Lukita berkunjung ke AS. Menperdag melakukan pendekatan terhadap United States Trade Representative, Robert E.Lighthizer di Washington DC. Pemerintrah Indonesia berharap, pendekatan itu, dapat meningkatkan perdagangan kedua negara yang selama ini masih sangat kecil. Pada kesempatan itu Enggartiasto menjelaskan kepada Lighthizer tentang isu-isu yang menghambat perdagangan. Isu itu antara lain proses peninjauan ulang terhadap Indonesia sebagai penerima skema Generalized System of Preference (GSP).

Skema itu memungkinkan produk Indonesia mendapat potongan bea masuk. Hasilnya masih rendah yakni 1,9 miliar dolar AS. Jauh di bawah India 5,6 miliar dolar AS, Thailand 4,2 miliar dolar AS, dan Brasil 2,5 miliar dolar AS. Indonesia masih memerlukan GSP tersebut untuk meningkatkan ekspor. Barang yang masuk AS dari Indonesia dengan skema GSP itu selain karet, dan ban mobil, juga perlengkapan perkabelan, kendaraan, emas, asam lemak, perhiasan logam, alumunium, sarung tangan, alat musik, pengeras suara, keyboard, dan baterai (PR 30/7).

Pendekatanm Menperdag itu ternyata mendapat respon positif dari pemerintrah AS. Pada dasarnya pihak AS memahami apa yang dihadapi Indonesia dalam perdagangan kedua negara. Peningkatan perdagangan itu bukan semata-mata bagi kepentingan perdagangan Indonesia tetapi juga bagi kepentingan produk AS. ”Jadi sebetulnya ini kerja sama win-win, saling menguntungkan,” kata Enggartiasto Lukita kepada awak media. ***