Semakin Dangkal saja

73

KEMARAU sudah lebih satu bulan. Meskipun masih ditandai dengan turunnya hujan lebat disertai angin puting beliung, dampak kemarau telah dirasakan masyarakat di berbagai daerah.Tidak terkecuali Bandung Selatan. Selain banyak sawah yang mengalami kekeringan, hampir semua sungai kering. Kalaupun ada air yang masih mengalir, warnanya sudah berubah menjadi hitam legam dan dasar sungai tampak makin dangkal serta penuh sampah.

   Keadaan itu bukan hanya dialami sungai-sungai kecil yang bermuara ke Citarum tetapi juga diderita Sungai Citarum. Sungai yang sekarang tengah menjadi fokus penanganan pemerintah pusat, provinsi, dan kota/kabupaten, tidak terlepas dari dampak kemarau saat ini. Tampak ada penanganan Citarum lama di kawasan Bojongsoang-Baleendah. Melalui Gerakan Citarum Harum, Citarum Kolot, ditata menjadi kolam yang ditanami bibit ikan. Setiap hari banyak orang yang memancing ikan di tepi Citarum Kolot itu.

   Entah merupakan bagian dari proyek Citarum Harum atau bukan,  di sana sudah mulai ada yang memasang jaring budidaya ikan. Khawatir jaring itu bertambah dan memenuhi permukaan Citarum Kolot. Tentu saja hal itu akan berdampak buruk bagi keasrian dan keharuman Citarum. Kasus Cirata bisa saja terulang di Citarum Kolot yag sempit dan pendek itu.

    Dampak kemarau yang parah justru diderita Citarum Anyar. Aliran sungai sejak Mekarsari hingga Dayeuhkolot, di bawah jembatan baru, Baleendah, seperti dibiarkan menderita. Citarum tampak sangat dangkal, di mana-mana terdapat banyak pulau. Sangat banyak sampah yang terbawa arus dari hulu, ”beristirahat” di pulau-pulau itu, menanti datangnya musim hujan. Bersama air yang melimpah, semua sampah itu akan melaju ke arah hilir. Sebagian menjadi penghalang arus air dan mendatangkan banjir di DAS Citarum, terutama di Bojongsiang, Baleendah, dan Dayeuhkolot.

    Sudah agak lama, pasukan pelaksana Citarum Harum yang dikomandoi Pangdam III/Siliwangi itu  tidak berpatroli di kawasan Baleendah dan Dayeuhkolot. Saat ini, ketika kemarau tiba, merupakan momentum paling baik bagi pasukan Gerakan Citarum Harum, mengangkat sampah dari Citarum dan membopngkar semua pulau yang bertebaran di sepanjang DAS Citarum, terutama di kawasan Baleensdah-Dayeuhkolot. Masyarakat di sekitar kawasan itu pasti bersedia bekerja sama dengan pasukan Citarum Harum, membersihkan Citarum dari tumpukan sampah dan onggokan sedimen.

     Kita semua, pemerintah dan masyarakat, lama sekali membiarkan industri membuang limbah dan masyarakat membuang sampah ke Citarum. Pembiaran itu berjalan puluhan tahun. Akibatnya Citarum menjadi sungai paling tercemar di dunia. Sekarang setelah ada gerakan pemulihan Citarum dengan biaya triliunan rupiah, Citarum masih belum benar-benar pulih. Sampah dan sedimen masih menjadi hiasan badan sungai itu akibat pembiaran meski hanya sebentar.

     Gerakan penutupan saluran pembuangan limbah yang langsung ke sungai yang dilakukan pasukan pemelihara Citarum, harus mendapat apresiasi semua pihak. Di samping itu masyarakat masih menanti gerakan pembersihan Citarum dari sampah dan sedimen. ***