Dari Dua Tax ke B20

72

  ”PERKARA oplos-mengoplos, sebagian bangsa ini sungguh piawai, ya Kang!” kata Jang Ojak setelah agak lama mengotak-atik hapenya, mengharapkan aplikasinya mengisyaratkan order.

   ”Menurut saya  mah sungguh aneh. Banyak orang yang suka minum miras oplosan padahal sudah lama diketahui, akibatnya banyak yang mati setelah menenggak minuman keras bercampur macam-macam itu,” ujar Kang Oyib.

   ”Iyah, di sini saja ada tiga remaja yang jadi korban,” kata Teh Otih. ”Katanya, minuman keras itu dicampur obat nyamuk, spertus, air aki. Semuanya beracun. Teteh mah yakin, pelakunya memang berniat bunuh diri. Kata Ustad Omeng juga yang begitu mah biarkan saja, jangan dimandikan, dikafani,  apalagi disolati. Kubur saja dengan pakaian yang ia kenakan saat mati.”

   ”His jangan begitu, Teh. Kita tetap punya kewajiban memulasara jasad seseorang. Kita harus menghormati Pencipta jasad itu. Kita serahkan kembali kepada-Nya dengan keyakinan, Ia akan menghakiminya secara adil.” Hal itu disampaikan Mang Osin  yang baru masuk Warung Be-Be.

   ”Nah, Mang Osin pasti tahu, dulu otrang tua kita suka bikin nasi campur. Beras dioplos dengan apa saja, Mang?” Jang Ojak bertranya kepada Mang Osin.

   ”Dulu mah, rakyat kita sangat miskin. Sangat banyak orang yang tidak selalu punya uang untuk beli beras. Ketika Amang masih kecil, oleh ibu suka disuruh ngantre beras. Rakyat dapat membeli beras dengan harga murah tetapi harus antre. Seorang paling mendapat dua liter. Beras yang sedikit itu terpaksa dioplos dengan tepung jagung atau tepung gaplek agar cukup untuk makan sekeluarga,” ujar Mang Osin. ”Itu mah jaman dulu, jaman susah. Musah-musahan sekarang mah tidak ada lagi rakyat yang sengsara.”

   ”Sekarang juga banyak orang yang tidak mampu beli beras. Mereka makan hamburger, vitsa, spageti, dan semacamnya,” kata Jang Ojak.

   ”Itu mah bukan kekurangan tetapi karena kelebihan uang. Mereka bosan makan nasi, ya pilih makanan bangsa lain,” kata Kang Oyib.

   ”Bukan hanya miras dan nasi yang dioplos itu. Bensin juga sering dicampur, ya Kang,”  kata Jang Ojak lagi.

   ”Iya. Ada yang resmi tapi ada juga yang tidak resmi,” ujar Kang Oyib. “Dulu ada bensin 2 Tax, bensin yang dioplos memang harus karena mesin mobil atau motornya harus menggnakan bensin campur. Ada pula mobil atau motor yang menggunakan bensin murni tetapi harus diberi oli samping, ya dioplos-oplos juga.”

   ”Katanya ada yang tidak resmi. Gimana tuh?”

   ”Ketika harga minyak tanah murah, banyak oknum yang punya usaha mengoplos minyak tanah dengan solar. Hasil oplosan itu dijual ke pabrik sebagai bahan bakar mesin. Oplosannya juga bukan seleter dua liter tetapi bertengki-tengki, jumlahnya bisa puluhan ton untuk satu pabrik. Pelakunya banyak yang ditangkap, tempat pengoplosannya disegel. Sekarang mah karena harga minyak tanah mahal dan langka, pengoplosan solar mungkin tidak ada lagi.”

   ”Katanya, sekarang pemerintah, dalam hal ini Pertamina akan membuat  bahan bakar baru yang disebut B20. Itu juga oplosan solar dan biodiesel. Satu liter solar dicampur 20 persen biodiesel. Tujuannya untuk menghemat devisa. Kita tidak lagi mengimpor solar secara keseluruhan tetapi sekitar 80 persennya saja.” Kata Jang Ojak.

   ”Semoga saja oplosan yang ini tidak berakibat buruk seperti miras oplosan.” Mang Osin berdiri, setelah membayar minuman dan makanan kepada Teh Otih, mantan ASN itu pergi diikuti Kang Osin dan Jang Ojak. ***