”Dijual Kampung Adat Tanpa Perantara”

92

USAHA properti sampai hari ini masih bertahan. Di semua kota besar, pembangunan real estat, apartemen, sampai rumah sederhana, tengah gencar-gencarnya. Hampir tak ada lagi lahan kosong yang masih menganggur. Perbukitan, persawahan, dan perkebunan, mengalami perubahan fungsi. Promosi marak di mana-mana. Pembangunan masih berupa gambar sudah ditawarkan dan pembelinya juga cukup banyak.

Namun baru kali ini ada orang yang berniat menjual kampung adat. “Saya sudah tidak ada uang. Mumpung masih ada nilainya lebih baik saya jual saja,” kata Maki Sukawijaya, Ketua Adat Kampung Budaya Sindangbarang, Desa Pasir, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seperti dirilis PR 15/8. Memang belum ada iklan di media mainstream ”Dijual Kampung Adat tanpa Perantara”. Ditawarkan secara lisan sudah disampaikan Kepala Adat.

Kampung Budaya Sindangbarang itu menempati lahan seluas  8.600 meter persegi, terdiri atas 23 unit bangunan. Kampung budaya yang sedianya akan menjadi salah satu ikon Kabupaten Bogor, pada kenyataannya, tidak terpelihara dengan baik. Banyak sekali bangunan yang rusak parah. Sebelumnya, pemeliharaan dan perbaikan dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat. Akan tetapi biaya pemeliharaan itu cukup besar. Kepala adat tidak mampu lagi menyediakan biaya dari sakunya pribadi.

Pemerintah Kabupaten Bogor, bukannya tidak membantu sama sekali. Setiap tahun ada dana yang dikeluarkan pemkab. Namun jumlahnya sangat terbatas. Biaya untuk acara seren taun saja rata-rata mencapai Rp 100 juta, sedangkan bantuan tidak sampai 10 persen dari biaya tersebut.Pemkab mengeluarkan dana Rp 9 juta untuk tahun ini saja. Sedangkan kebutuhan untuk segala keperluan di luar rehablitasi, mencapai Rp 400 juta, termasuk honorarium pegawai. Menurut Maki, Gubernur Jabar, ketika masih Ahmad Haryawan, berjanji akan memasukkan pembiayaan Kampung Budaya Sindangbarang ke dalam APBD. Jumlahnya hampir Rp 1 miliar. Namun diperkiarakan dana itu bisa cair tahun 2019. ”Kemungkinan dana bantuan itu tidak jadi,” kata Maki.

Sejak dibangun, di kampung itu dilaksanakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan tradusional Sunda, seperti upacara seren taun selepas panen, pertunjukan kesenian buhun. Sebagai penunjangnya di tempat itu diselenggarakan latihan kesenian seperti jaipongan, angklung, dan silat. Pesertanya sampai 100 anak.  Kegiatan itu diharapkan dapat menarik para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Namun karena infrastruktur terutama jalan menuju kampung itu tidak memadai, hampir tidak ada turis yang datang. Pemasukan dana di luar bantuan pemerintah, khususnya dari belanja para turis, tidak masuk.

Akibatnya Kampung Budaya Sindangbarang terbengkalai.  Sampai pada puncaknya yakni rencana penjualan lahan dan semua bangunan serta isinya. Tampaknya harus ada penelitian saksama dari para ahli mengapa hal itu dapat terjadi. Pemerintah Kabupaten Bogor merasa kewalahan dalam mengelola kampung adat seperti itu. Di Kabupaten Bogor, kampung serupa itu cukup banyak. ”Kami kelompokkan mereka sebagai sanggar seni saja,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, Rahmat Surjana.

Ternyata ada kerancuan istilah antara ”kampung budaya” dan ”kampung adat”. Timbul pertanyaan apakah Sindangbarang itu kampungadat atau kampung budaya? Menurut Dinas Kebudayaan, kampung itu didirikan untuk mewadahi kegiatan budaya. Tujuannya sebagai destinasi wisata berbasis kebudayaan. Sedangkan kampung adat merupakan kampung yang sudah ada sejak zaman lampau yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena ketidakjelasan status itulah Kampung Budaya Sindangbarang digolongkan sebagai sanggar seni. Tentu saja dana bantuannya juga sangat kecil.

Sekarang Kampung Budaya Sindangbarang sudah ada, kegiatan budayanya juga berjalan. Kalau ada dana, sebaiknya pemerintrahlah yang membeli kampung yang akan dijual itu kemudian direhabilitasi dan ditata sampai menjadi destinasi wisata budaya yang menarik. Atau tawarkanlah ke pihak swasta namun tidak berubah fungsi menjadi apartemen atau kompleks perumahan mewah. Pertahankanlah kampung itu sebagai kampung budaya yang layak jual terhadap para buyers tourism dunia. ***