Dampak Tak Ternilai dari Asian Games

141

OLEH: YAYAT HENDAYANA

DAMPAK (tentu saja poistif) dari penyelenggaraan Asian Games 2018 yang berlangsung baru-baru ini di Jakarta dan Palembang, sungguh luar biasa. Telah sejak penyelenggaraan pembukaan, dampak itu mendunia. Dunia menjadi semakin tahu bahwa Indonesia memiliki kemampuan  dan memiliki pesona luar biasa. Pembukaan Asian Games yang meriah namun tampil elegan, menjadi bahan perbincangan negara-negara di dunia. Bahkan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach yang disertai Presiden Dewan Olimpiade Asia Sheikh Ahmad al-Fahad al-Sabah, yang sengaja menemui Presiden Jokowi di Istana Bogor Sabtu (1/9) yang lalu, menganjurkan kepada Presiden Jokowi agar Indonesia mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade tahun 2032 mendatang. Anjuran itu tentu semakin kuat setelah Presiden IOC menyaksikan pesta Penutupan Asian Games 2018 yang begitu meriah.

            Indonesia meraih dua sukses sekaligus. Sukses penyelenggaraan, dan sukses dalam raihan prestasi. Dalam aspek prestasi, atlet-atlet kita telah menunjukkan kemampuan maksimalnya. Kemampuan yang melampaui target yang dicanangkan pemerintah. Pemerintah menargetkan sepuluh besar, ternyata kita mampu menempati posisi empat besar. Pemerintah menargetkan 16 emas, ternyata kita mampu meraih 31 emas. Sampai hari terakhir, medali yang berhasil kita raih adalah 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu, sehingga seluruh medali yang berhasil diraih berjumlah 98.

          Prestasi yang berhasil diraih oleh para atlit itu patut diapresiasi. Imbalan sejumlah Rp 1,5 miliar (ditambah rumah serta hadiah lainnya dari para sposor) tentu tidaklah seberapa dibanding dampak positif yang luas dan mendunia dari keberhasilan penyelenggaraan Asian Games 2018 yang lalu. Sukses penyelenggaraan  seyogianya dilihat dari dua aspek, yaitu aspek teknis dan aspek adminisstratif. Aspek teknis adalah sejauh mana penyelenggaraan Asian Games yang lalu itu memuaskan semua pihak, minimal atlet dan penonton. Selain penonton yang kehabisan  tiket, hampir tak ada keluhan yang mengganggu sukesnya teknia penyelenggaraan. Tinggal lagi aspek administratif. Pertanggungjawaban keuangan selalu saja menjadi bahan yang rawan omelan. Sesungguhnya urusannya amatlah sederhana. Tinggal melaporkan berapa besar uang yang diterima, digunakan untuk apa, serta berapa sisanya. Kalau dilaporkan habis, tentu perlu dirinci secara jelas untuk apa sajakah penggunaannya. Rakyat tentu berhak tahu.

            Asian Games 2018 yang baru saja berakhir, bukan “hanya” sekadar peristiwa olahraga, melainkan sebuah peristiwa budaya. Indonesia bukan hanya mampu mempertemukan dua Korea yang bertentangan, Korea Selatan dan Korea Utara, melainkan juga mampu memberi tempat terhormat kepada Palestina yang terus-menerus dizalimi Israel. Di forum Asian Games pulalah dua ”raksasa” yang sedang saling “berseteru” dipertemukan oleh seorang anak muda perkasa dari Soreang dalam sebuah rangkulan penuh cinta.

            Ya, Presiden Jokowi yang mendaftarkan diri kembali untuk meraih kursi kepemimpinan nomor satu di republik ini, ”berangkulan” mesra dengan pesaingnya: Prabowo Subianto. Bukan berdua melainkan bertiga dengan Hanifan Yudani Kusumah, peraih medali emas salah satu nomor penca silat. Secara spontan, begitu juri mengumumkannya sebagai peraih emas, Hanif berlari ke arah podium VVIP. Ia peluk Presidan Jokowi, ia peluk Prabowo Subianto yang Ketua IPSI, lalu ia ’’memaksa” keduanya untuk memeluk dirinya. Sebuah adegan yang memperoleh tepukan panjang dari penonton. Sebuah adegan yang mengharukan. Sebuah adegan yang sarat pesan. Salah satunya adalah apa yang terkandung, bukan saja dalam hati Hanif, melainkan hati seluruh rakyat Indonesia. ”Bersatulah wahai orang-orang hebat negeri ini. Kalian boleh berkompetisi untuk meraih kursi, tetapi tidaklah harus menimbulkan perseteruan. Bersatulah dalam perbedaan, betapapun tajamnya perbedaan itu.” Itulah makna semiotis dari adegan tersebut.***

Yayat Hendayana, pengajar pada program

Sarjana dan Pascasarjana Unpas.