Anjloknya Nilai Tukar Rupiah Menyebabkan Efek Berlipat

148

BISNIS BANDUNG – Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia  Pusat,Prof.H.Rully Indrawan mengutarakan,  anjloknya nilai tukar, secara psikologis menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Berbahaya, karena timbulkan kepanikan yang akan menyebabkan efek berlipat.

Dikemukakan Rully , ada tiga hal pokok mengapa kurs rupiah lemah terhadap dolar. Pertama, meningkatnya perekonomian di Amerika Serikat , setelah krisis pada tahun 2008 membuat The Fed melakukan ” tapering off ” atau pengurang quantitative easing atau disebut juga dengan stimulus ekonomi. Kedua,  komoditas ekpor Indonesia harganya anjlok. Pelemahan mata uang yang terjadi di dunia terhadap mata uang dolar, berefek pada menurunnya permintaan barang komoditas ekspor Indonesia. Ketiga, impor barang tinggi. Konsumsi impor  masih tinggi. Dibanding dengan krisis tahun 1998 atau  tahun 2008, keadaan saat ini secara substantif lebih baik dari yang lalu. “Namun momentum tahun politik  ada fihak memanfaatkan isu turunnya nilai tukar rupiah atas dolar. Secara psikologis telah menyebabkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Ini berbahaya, karena kepanikan akan menyebabkan efek berlipat. Ekonomi itu, khususnya nilai tukar, sensitif dengan keadaan,” ujar Rully menjelaskan lemahnya nilai tukar rupiah atas dolar.

Menurut Rully , dampak dari anjloknya nilai tukar rupiah tentu tidak baik, ditambah ketergantungan pada impor yang masih sangat tinggi. Menurunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berujung pada kenaikan harga beberapa kebutuhan , suka atau tidak , namun jika kita berfikir positif ,  masalah ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan produksi nasional dengan local contens yang tinggi. Sebenarnya, lanjut Rully , dimasa lalu kita  pernah mengalami keadaan seperti ini . Tetapi,  kesadaran akan produk nasional , baru diingat ketika menghadapi sebuah problem, namun bilamana keadaan membaik, perilaku konsumen akan melupakannya. ”Mungkin  persoalan kontinuitas ketersediaan  produk lokal  ada masalah,” ujar Rully , Senin di Bandung.

Sektor usaha yang paling terkena dampak, tentu usaha yang sangat tergantung pada bahan baku berbasis impor yang menggunakan pembeliannya dengan dolar. Sementara 65% industri nasional masih tergantung pada bahan baku impor. Seperti farmasi, bahkan bahan makanan seperti kedelai, gandum dan sejenisnya. Persoalan ini sudah lama sekali terjadi namun tidak pernah ada perbaikan berarti. Usaha pemerintah saat ini untuk menerapkan peningkatan tarif pajak penghasilan (PPh) pasal 22 atas 1.147 komoditas impor, layak dihormati. Peningkatan tarif pajak tersebut diberlakukan untuk berbagai jenis barang konsumsi, dengan kenaikan bervariasi, dari 2,5% hingga 7,5%. “UMKM pada umumnya muatan import lebih kecil sehingga dampaknya mungkin tidak terlalu kuat.Pelaku usaha UMKM harus membantu melalui cara dengan tidak menaikan harga semena-mena yang berakibat pada meningkatnya kecemasan di kalangan masyarakat luas”

 Dikemukan lebih lanjut oleh Rully yang juga Guru Besar Unpas , upaya atau kebijakan dari pemerintah untuk stabilitas ekonomi , antara lain dilakukan melalui kebijakan penggunaan B20 (biodiesel 20 %) untuk mengurangi jumlah impor minyak. Langkah pemerintah lainnya dilakukan pada peningkatan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk seluruh sektor. Kebijakan ini juga diharapkan dapat mengurangi impor. Hasilnya  terlihat dengan menguatnya rupiah beberapa poin dalam beberapa hari terakhir ini. Dengan tertekannya nilai tukar rupiah atas dolar, menurut Rully , LPE/ target pertumbuhan ekonomi nasional akan terkoreksi, namun masih dalam rentang 5%. Dibandingkan dengan tahun 1998/99 LPE kita sampai -17%, tahun 2008/2009 – 4,5%. Jadi LPE sebesar  5% masih cukup baik.

 Rully menyebut,  pemerintah berupaya melakukan stabilitas ekonomi. Tidak benar ada permasalahan di eksekutif dan legislatif. Mengenai kenaikan gaji PNS , pada dasarnya untuk meningkatkan konsumsi dan daya beli masyarakat yang akan mendorong pertumbuhan industri, karena pertumbuhan ekonomi kita masih ditopang oleh konsumsi masyarakat. (E-018)***