Alih Fungsi Lahan Makin Mengkhawatirkan

45

SEJAK merebaknya industrialisasi di Indonesia, Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah paling krusial. Pada satu sisi, Jabar sebagai provinsi paling menarik bagi kaum investor menjadi sasaran perluasan kawasan industri dan permukiman. Pada sisi yang lain, Jabar tetap diproyeksikan sebagai lumbung pangan, khususnya padi, nasional. Pada sisi industri Jabar menjadi primadona masuknya investasi. Pembangunan pabrik yang mendorong laju pertumbuhan permukiman, harus difasilitasi. Sebagai lumbung pangan, Jabar  harus mampu mempertahankan lahan pertanian.

   Kepentingan yang saling tarik itu meletakkan Jabar pada titik pilihanan sangat dilematis. Seperti pada lomba tarik tambang, kelompok yang memiliki kekuatan ekstra dipastikan akan menjadi pemenang. Kelompok yang memiliki kekuatan luar biasa itu pasti kelompok industri. Pemerintah, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, harus mendorong pertumbuhan industri. Sebagai penerima investasi, pemerintah wajib memberi fasilitas kepada kaum investor. Mereka serta merta membangun pabrik dan kawasan industri dengan segala infrastrukturnya di daerah yang mereka pilih. Pilihan kaum investor itu jatuh ke wilayah Jabar. Pembangunan inftrastruktur, jalan, jembatan, pembangkit tenaga listrik, bandara, pelabuhan, dan pemukiman, berkembang sangat pesat.

    Pemerintah daerah yang ditugasi pemerintah pusat, mempertahankan lahan pertanian, tidak dapat berbuat banyak. Para petani pemilik lahan, memilih menjual  lahan pertanian miliknya kepada pengembang. Mereka menyadari benar, menjual tanah jauh lebih menguntungkan daripada mempertahankan tanahnya sebagai lahan pertanian. Para petani kecil dengan kepemilikan lahan di bawah dua hektar sudah lebih dulu beralih profesi dari petani menjadi pedagang atau buruh pabrik. Lahannya mereka jual dan dalam waktu sangat cepat lahannya itu berubah menjadi kompleks perumahan, jalan tol, pabrik, dan pasar swalayan.

    Cukup lama para aktivis pertanian yang begerak dalam program ketahanan pangan, merasa semakin terdesak. Lahan pertanian semakin menyempit sedangkan pemerintah pusat mendesak Jabar dapat mempertahankan kedaulatan pangan tingkat nasional. Menurut Kelompok Kerja Dewan Ketahanan Pangan Pusat dan Provinsi Jawa Barat, Entang Sastraatmadja, alih fungsi lahan di Jabar terus berjalan. Sedikitnya 4.000 hektar lahan pertanian berubah fungsi setiap tahun.

    Sejak tahun 2014 lahan pertanian di Jabar menyusut rata-trata 18.700 ha pertahun. Penyusutan  sekira 925.000 ha dari 1 juta ha. Karena itu Jabar sulit dipertahankan sebagai daerah pertanian, apalagi sebagai lumbung pangan, khususnya padi. Menurut Entang, seperti dimuat PR (17/9) sat ini pemerintah seperti kalah perang melawan kaum pebisnis, baik pengembang permukiman maupun industri. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya SKPD yang berkaitan dengan pertanian dan ketahanan pangan hanya mampu mengakui, fenomena alih fungsi lahan itu merupakan problema yang sangat berat. Pemerintah tidak mampu mempertahankan lahan pertanian karena bidang pertanian saat ini merupakan sektor yang tidak menarik bagi para petani.

    Hasil panen tanaman padi sangat rendah. Produktivitas padi, meskipun terus ditingkatkan, para petani tetap lebih tertarik pada tawaran kaum pemodal. Harga tanah terus meningkat, jauh di atas harga hasil panen rata-rata perbulan. Namun, apakah pemerintah akan menyerah, membiarkan industri dan permukiman terus mendesak pertanian? Akankah Jabar menjadi kawasan industri terluas di dunia dengan mengobankan lahan pertanian?

    Pemerintah baik pusat maupun provinsi dan kota/kabupaten harus segera membuat komitmen, menjawab kekhawatiran itu. Kita tidak dapat terus menerus berada pada titik tarik menarik. Kita harus menentukan sikap, apakah membiarkan industri dan perumahan merambah seluruh kawasan Jabar atau tetap ingin mempertahankan Jabar sebagai lumbung pangan? Pilihannya hanya dua itu, tidak ada pilihan lain. Pemeruintah dan siapapun akan sulit mencegah para pemilik lahan menjual miliknya kepada pembeli. Mereka punya hak jual apalagi harga tanah di daerah pertanian yang semakin mahal. ***