Memanfaatkan Media Massa Fenomena Mencuri Star Kampanye Pemilu

82

BISNIS BANDUNG –  Fenomena curi star kampanye lebih banyak terjadi pada Pilpres ketimbang Pileg. Dua pasangan calon Presiden-Wakil Presiden (Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno) berusaha memanfaatkan berbagai momen sebelum ditetapkan sebagai calon dan memasuki masa kampanye.

Menurut pengamat komunikasi politik, Dr. H. Mahi M. Hikmat,M.Si , curi star kampanye calon Presiden dan Wakil Presiden, dilakukan dalam berbagai momen melalui media massa. Selain itu, fenomena curi star kampanye dilakukan pula oleh para calon anggota DPR, DPD, DPRD,  metode yang mereka gunakan lebih fokus pada kegiatan tatap muka di daerah pemilihan masing-masing.

Dikemukakan Mahi , indikasi pemanfaatan pejabat publik, anggaran negara dan fasilitas publik dalam Pipres maupunPileg  sangat mungkin terjadi. Walau, saat ini mereka lebih hati-hati  dalam memanfaatkannya karena melek politik rakyat sudah  meningkat. ” Jadi selain Bawaslu, rakyat pun ikut mengawasi, terutama kalangan media massa yang jeli melihat hal tersebut. Jika ada calon yang melakukan tindakan tersebut,  media massa akan mempublisnya. Hal itu tentu merugikan citra calon,”ungkap Mahi.

Mahi menyebut , potensi konflik dalam persaingan Pilpres 2019 diprediksi pasti ada . Konflik sangat mungkin terjadi , terutama di antara para pendukung calon. Berbeda dengan Pileg,  konflik tidak terlalu rentan karena banyak calon. Walau terjadi hanya di tingkat  pendukung  berupa letupan-letupan kecil. Mengenai politisasi kebijakan,menurut Mahi, sangat mungkin terjadi ketika ada calon, terutama calon  yang berstatus sebagai imcumbent karena secara umum sulit  memisahkan perannya sebagai pejabat dan calon presiden atau legilatif. Hal itu sangat mungkin terjadi dalam Pilpres maupun Pileg karena calon anggota DPR, DPD, dan DPRD  banyak juga yang petahana. Celah kecurangan pada ajang pilpres/pileg, di antaranya , money politics , mobilisasi ASN dan kampanye hitam.

Diungkapkan  Mahi M. Hikmat, Indonesia tidak dapat terlepas dari percaturan global, sehingga setiap peristiwa penting di Indonesia merupakan bagian dari peristiwa Global. Termasuk Pilpres dan Pileg 2019 sangat dimungkinkan banyak kepentingan ikut serta, seperti kepentingan pihak asing, baik sebagai negara maupun koorporat  karena Indonesia jadi sumber kepentingan mereka, baik ekonomi maupun politik. ”Negara-negara atau koorporat yang sangat memungkinkan ikut serta dalam kegiatan Pilpres dan Pileg di Indonesia tentu yang berhubungan langsung dengan Indonesia, terutama yang terkait dengan ekonomi Indonesia,”ujar Mahi.

Sementara Kepala Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Padjadjaran , Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR menyebut,  pemilihan presiden yang akan datang lebih menarik, karena dari sisi calon Wakil Presiden di luar dugaan semua pihak, sebab masing-masing calon presiden  mencalonkan cawapresnya berbeda dengan prediksi publik .

Diungkapkan Arfin Sudirman,  potensi konflik dalam Pileg maupun  Pilpres bisa saja terjadi, namun tampaknya tidak sampai ke arah konflik kekerasan karena berkaca dari tahun 2014 . ”Kalau pun ada konflik yang sifatnya verbal/non fisik  tetap harus diwaspadai agar tidak meluas,”tutur Arfin . Mengenai keterlibatan pihak asing dalam Pemilu 2019, Arfin mengaku , sejauh ini  dirinya belum melihat indikasi ada keterlibatan negara asing . Kalau pun ada, tampaknya sulit untuk diverifikasi kebenarannya , seperti indikasi keterlibatan Rusia di Pilpres AS yang hingga saat ini sulit dibuktikan kebenarannya.

Arfin mengulas ,  program nasional untuk menjaga stabilitas ekonomi saat ini yang harus dilakukan dan paling urgen, yakni program ekonomi yang berdampak langsung kepada masyarakat tingkat akar rumput . Kemudian menghilangkan ketergantungan produk  impor dan pengentasan kemiskinan. (E-018)***