Mencari Celah Ekspor

74

   NERACA perdagangan di pasar global, cenderung terus mengalami defisit. Impor masih tetap tuinggi, sedangkan ekspor makin melorot. Dalam situasi perdagangan dunia yang tidak menentu, negara yang tingkat impornya jauh lebih tinggi dibanding angka ekspor akan cenderung mengalami krisis ekonomi. Umumnya, krisis ekonomi berbarengan juga dengan krisis moneter.

   Indonesia pernah mengalami hal seperti itu. Krisis ekonomi dan krisis moneter menimpa Indonesia pada tahun 1997 – 1998. Apabila pemerintah—dengan berbagai alasan—tidak dapat menyelamatkan neraca perdagangan dan  kurs mata uang yang semakin melemah, berakibat fatal. Kegalauan ekonomi itu bisa berpengaruh pada politik. Tanpa upaya yang lebih nyata, pemerintahan juga bisa tergoyang. Indonesia punya pengalaman pahit berkaitan dengan krisis ekonomi dan krisis politik. Peristiwa tahun 1998, krisis moneter menjadi pemantik, berlakunya perubahan sistem pemerintahan. Politik yang pada waktu itu dinilai kondusif dan pemerintahan solid, akhirnya buyar. Ekonomi secara menyeluruh mengubah tatanan politik.

   Peralihan yang berjalan cepat dan melalui peristiwa khaos, tentu tidak kita harapkan. Kita masih percaya, krisis ekonomi yang tengah kita alami, tidak berujung pada peristiwa khaos. Kita sudah jemu dengan kegaduhan politik. Rakyat mengharapkan, krisis ekonomi yang ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, dapat segera teratasi. Untuk memperkuat nilai tukar rupiah, dibutuhkan berbagai upaya.

   Salah satu upaya yang dinilai akan cepat mendongkrak nilai tukar rupiah, ialah mendorong ekspor. Bagaimana pun dalam dunia perdagangan internasional, sebuah negara akan bertahan bahkan berkembang apabila nilai ekspor meningkat. Sebetulnya Indonesia merupakan pasar sangat potensial dalam pasar global. Apabila Indonesia dapat memenuhi pasar domestik tanpa impor, tampaknya kita akan terbebas dari krisis ekonomi. Kita punya pasar. Produk industri kecil dan industri manufaktur akan terserap seluruhnya di pasar domestik.

   Namun, tanpa ekspor, devisa Indonesia akan semakin rendah. Sedangkan dalam era pasar bebas, sebuah negara tidak boleh hanya menjadi pengekspor. Negara itu akan menutup diri dari masuknya barang dan jasa dari luar. Hal itu akan dinilai melanggar komitmen bahkan hukum perdagangan internasional. Ekspor – impor harus berjalan seiring menuju neraca yang berimbang.

   Dalam mendorong ekspor itulah Indonesia harus terus mencari celah. Membuka pasar di berbagai negara yang semula tidak tersentuh. Pasar potensial selain AS dan China serta Uni Eropa, masih terbuka pasar baru. Kita juga harus terus meningkatkan volume ekspor ke pasar lama yang kurang berminat pada produk Indonsia. Banyak negara potensial sebagai pasar produk Indonesia di Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Cara-cara konvensional seperti kerjasama perdagangan bilateral harus terus diintensifkan, promosi melalui pameran, pengiriman misi dagang dengan kemasan kebudayaan, bisa terus dilaksanakan.

    Sejak tahuin 2017 hingga akhir tahun 2018, promosi semacam itu terus dilakukan. Hasilnya ekspor nonmigas Indonesia meningkat bahkan dapat menutup neraca migas yuang defisit. Bila nilai ekspor nonmigas, baik ke pasar lama maupun pasar baru, defisit neraca perdagangan Indonesia akan terdongkrak. Pasar baru itu antara lain Chile, Afrika Selatan, Mesir, Tunisia, Maroko, Nigeria. Indonesia juga harus mampu meyakinkan negara tujuan ekspor tentang keunggulan  produk ekspor Indonesia, antara lain CPO (minyak sawigt).

     Menurut Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Arlinda, sepergti dimuat KOMPAS 20/9, Oktober mendatang, Indonesia berencana mengadakan pameran dagang yang disebut Trade Expo Indonesia (TEI) di Tangerang. Yang akan hadir dan melakukan perjanjian pembelian produk Indonesia tercatat 28.000 orang. Pengunjung dari luar negeri tercatat 2.245 orang. ”Mereka merupakan pembeli potensial dari Nigeria, China, India, Aljazair, Arab Saudi, Jepang, Uni Emirat Arab, Kamboja, Suriname, dan tidak tertinggal juga Amerika Serikat.Dalam pameran itu diprediksi akan terjadi transaksi produk nonmigas Indonesia yang jauh lebih besar dibanding berbagai pameran dagang di dalam maupun di luar negeri.

     Kita berharap meningkatnya nilai ekspor, Indionesia akan segera bangkit dari kegalauan akibat kebijakan AS dan merosotnyua nilai tukar rupiah terhadap dolar. Pundi-pundi devisa negara akan berisi dolar lagi. (Furkon) ***