Itu Bala-bala Pesanan

102

SUDAH dua hari hape Teh Otih ngadat. Bisa menerima pesan tapi tidak bisa mengirim pesan. Telepon dan SMS dari luar diterima dengan baik, tetapi ketika akan membalasnya, kirimannya tidak sampai-sampai.

      ”Jang, tolong betulkan hape Teteh!” kata Teh Otih sambil menyodorkannya kepada Jang Ojak.

      ”Ini mah harus ganti mesin dan kesingnya, Teh. Ongkos servisnya sama dengan harga hape baru,” ujar Jang Ojak. Tapi ia terus mengotak-atiknya. Batu batereinya dibuka, dimasukkan lagi.

      ”Nih Teh! Baterenya sudah lemah. Dicasnya harus lama, semalaman. Tapi jalan. Coba saja, kontak ke hape saya.”

      ”Alhamdulillah, jalan, Jang! Halo! Halo! Ada ya? Terima kasih, Jang.”

      ”Pake yang android, Teh. Supaya Teteh bisa dagang onlen.”

      ”Boro-boro dagang onlen. SMS saja Teteh mah suka salah ngetik.  Dagang ulen mah bisa.”

      ”Sekarang mah jaman digital. Segala rupa onlen. Makin banyak yang dagang tidak buka warung. Cukup masang iklan di medsos. Misalnya menetima pesanan setum, sepeda, dan bala-bala. Orang tinggal nulis pesan. Mohon dikirim setum bekas satu dan bala-bala dua. Begitu uang dikirim lewat bank, pesanan segera dikirim. Praktis. Usaha teh sekaang mah bisa sambil lalu.”

      ”Teteh mah warung kopi dan nasi. Siapa yang mau pesen, Jang? Ada yang pesen bala-bala, sampai di rumah pemesan, bala-balanya sudah kering, alot, dan dingin. Rasanya sudah berubah, bala-bala rasa limbah kayu.”

      ”Justru itulah yang kemudian mendorong para start up atau pencipta aplikasi baru. Orang bisa membuat cendol tahan tiga bulan. Cingcaw yang dapat diekspor ke luar angkasa. Yang pesannya, penjaga stasiun luar angkasa milik warga Kampung Lio Dicipagalo. Pokoknya segala mungkin pada zaman now mah.”

      ”Bukan pada zaman sekarang saja. Teteh suka mendengarkan dongeng nenek. Katanya dahulu kala mah, ada seorang anak yang punya lampu berisi jin. Ketika ia menginginkan apa saja, tinggal menggosok lampu ajaibnya itu. Seketika, semua keinginannya terpenuhi. Makanan, barang perhiasan, pakaian, istana, apa saja mudah baginya. Tinggal gosok.”

      ”Nah, itu dongeng Lampu Aladin. Sekarang lampu Aladin itu nyata ya ini, hape. Tinggal pijit, pesan apa saja, pasti ada.”

      ”Ya, tapi  kan tetep saja harus pake uang sekarang mah. Uangnya belum dikirim, pesanan juga tidak akan datang.”

      ”Sama Teh, sekaang harus ada uang, dulu atau dalam dongeng juga harus punya syarat. Lampu ajaib itu didapat dengan perjuangan dan amal soleh. Tidak ujug-ujug ada. Keinginan Si Aladin akan terwujud tentu dengan syarat. Anak itu punya syaratnya katakanlah mantera yang tidak dimiliki otrang lain. Sekarang orang yang pesan sesuatu itu harus punya uang.”

      ”Kita mah hanya dapat berdoa, mudah-mudahan orang-orang pintar, pencipta teknologi itu, tidak lantas sombong, adigung adiguna. Merasa diri seperti Maha-pencipta. Itu  berbahaya, Allah akan murka dan menggoyang dunia ini hingga hancur lebutr. Kiamat kubro.:”

       “Iyah, mau bala-nala mah datang saja ke sini, membeli sambil silaturahmi. Kenal sama Teteh, sama saya, Mang Osin, dan Kang Oyib.”

       Hari itu warung The Otih agak sepi. Tidak ada Mang Osin, Kang Oyib, dan anak-anak kos. Semuanya sedang nonton Persib. ***