Fanatisme Salah Arah

68

KECAMAN dan kutukan menyeruak di mana-mana, menyusul  tewasnya Haringga Sirla (23) sebagai  korban pengeroyokan jelang  laga Persib Bandung versus Persija Jakarta di Stadion GBLA, Ahad (23/9).

Bukan  kali  yang  pertama  korban tewas akibat  fanatisme yang  dinilai menyesatkan dan  salah arah pada klub sepakbola di negeri ini.  Kejadian yang  menimpa  korban  ini terdaftar sebagai anggota The Jakmania. Dan  terjadi sebelum pertandingan melawan Persib dimulai pukul 16.00 WIB.

Betul sudah diimbau  agar fans  Jakmania untuk tidak datang menonton langsung duel Persib melawan Persija. Tapi, terlepas dari imbauan itu, kekeroyokan yang berujung kematian kepada suporter tetap tindakan yang tak bisa dimaafkan.

Semua pihak pun mengecam kejadian tewasnya suporter  tersebut. Bahkan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil  juga  meminta maaf dan mengecam tragaedi itu.  Begitu  pula Viking Persib Club (VPC)  menyatakan kesedihannya atas tragedi mengenaskan itu.

Dalam pernyataan resminya, situs VPC menuliskan, “Jangan biarkan rivalitas ini menjadi suatu penyakit yang lambat laun akan menambah korban dari masing-masing pihak, sampai kapan, sampai habis tak tersisa. Jangan biarkan hati nurani kita dibutakan oleh rivalitas, cukup 2×45 menit di lapangan hijau, setelah itu biarkan sepak bola menjadi indah agar kelak kita bisa menceritakan hal-hal yang baik kepada generasi penerus kita.”

Tak ayal lagi, insiden ini menambah panjang catatan kelam sepak bola Indonesia yang terus memakan korban. Insiden suporter Persib dan Persija memang yang paling disorot karena sudah terjadi berulang kali.

Tak pelak lagi Badan Olahraga Profesional Indonesia ( BOPI) mendesak PSSI untuk menghentikan sementara kompetisi sepak bola di Indonesia, termasuk Liga 1 dan Liga 2. Ini  seusai tragedi yang menewaskan seorang suporter yang mengenaskan.

Saya berharap ada sanksi yang tegas dan jelas supaya memberikan efek jera untuk masa depan sepakbola Indonesia.  Setiap klub profesional di  sini  harus  aktif menertibkan suporternya dan menghentikan permusuhan. Di samping  fokus membangun kompetisi yang lebih baik  serta bermartabat.

Terakhir, mari kita hentikan  penyebaran video dan foto-foto terkait kejadian  pengeroyokan tersebut agar tidak memperkeruh  suasana.  Segenap  elemen olahraga profesional  tentunya ditantang  meningkatkan kedewasaan ber olahraga  yang profesional, yakni   berjalan dengan tata kelola semakin baik, mandiri, dan profesional. Sebab sepakbola merupakan alat pemersatu bangsa!

Rezza  Z,  Jalan Gagak Bandung