Arief Yanto Rukmana, ST.MM. , Fasilitas dan Geografis Masih Menjadi Tantangan.

47

Selain berprofesi sebagai entrepreuneur, pengusaha sekaligus Ketua Umum Ikatan Coach Bisnis Indonesia (ICBI), Arief Yanto Rukmana, ST.MM.,  yang lahir di Jakarta 17 Agustus 1989 ini,  adalah juga seorang akademisi.

Kiprahnya menjadi akademisi diawali oleh dirinya yang merasa terpanggil.   Sebelumnya,  Arief  adalah seorang pelaku usaha yang bergerak pada bidang fashion dan kuliner,  yakni pada distro Harajuku dan konveksi, selain percetakan dengan brand ARF25 Production, yang mana ia bekerjasama dengan team ahli di bidang design.   Arief juga mengklaim bahwa,  timnya  memiliki kemampuan di bidang marketing, seni berdagang, melobi serta senang bersilaturrahmi.

“Di lingkungan keluarga  saya,  semuanya  mempunyai profesi yang berbeda. Ibu dan bapak saya adalah wirausahawan,  sedangkan kakak perempuan berprofesi di bidang kesehatan dan bekerja di salah satu rumah sakit negeri di Brunei.  Sedangkan kakek saya (mbah sujud) merupakan anak  kyai / ulama di Banyuwangi dan mengajar ilmu agama di sana.   Semua ada kaitan karier dalam sejarah  perjalanan hidup saya,”  tutur Arief  kepada BB, Minggu di Bandung.

Diceritakan pula oleh Arief bahwa, setelah dirinya lulus kuliah S1 Teknik Informatika, ia melihat bidang ini banyak dibutuhkan dalam berbagai bidang.   Antara lain,  dalam penerapan praktis di dunia bisnis,  terkait para pelaku usaha yang menjual produknya melalui online.   Teknik Informatika juga dibutuhkan untuk membuat aplikasi penjualan,  applikasi inventory dan banyak program lainnya,  seperti di bidang kedokteran, dunia usaha, dunia pendidikan, militer, pertanian, perkebunan, serta industri.

Sejak tahun 2011 hingga 2015,  Arief menekuni dunia usaha,  selain aktif mengajar di bidang Web Programming, Teknisi komputer, Cinematografi, dan Graphic Design for Business.   Ia juga  melanjutkan kuliah di bidang entrepreneur, Magister Manajemen, setelah mendapat dorongan dari Prof. Maman Kusman.   Ia merekomendasikan bahwa,  ada kaitan yang erat antara bidang Informatika dengan bisnis.   Tahun 2017,  Arief Yanto Rukmana berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan predikat Cumlaude,  khusunya dalam ilmu kewirausahaan.

“Saya memilih spesialisasi tersebut,  karena dalam dunia nyata terdapat keunikan,  yakni bahwa bisnis banyak mengalami dinamika,  namun dengan teknologi,  kita bisa meminimalkan resiko human error.   Ketika saya memahami keunggulan keilmuan,  saya senantiasa menyebarkan gagasan dan terobosan inovasi.   Dengan ilmu,  segalanya menjadi mudah,  dan dengan diniatkan,  maka ibadah akan menjadi berkah,” tutur Arief.

Selama menekuni dunia pendidikan,  Arief telah menghasilkan  dua karya ilmiah,  yakni  bidang kewirausahaan (2017) dan informatika (2011).   Di antara dua karya ilmiah ini, diakui oleh Arief bahwa,  yang paling berkesan adalah masalah analisis kewirausahaan.   Karena dengan meneliti tentang pembelajaran di sekolah dengan keahlian kewirausahaan,  ternyata berpengaruh besar terhadap niat dan sikap kewirausahaan.   Hal ini dapat menjadi bahan penelitian,  untuk pengembangan metode dan sistem pembelajaran, antara penyeimbangan teori dengan praktek kewirausahaan,  serta untuk pengembangan output penguatan sikap wirausaha yang tangguh, ulet, kreatif, inovatif, tahan banting, dan berani mengambil risiko, dengan  perhitungan dan analisis yang efektif.

Dalam bidang kewirausahaan,  selama lima 5 tahun (2014 – 2018),   Arief menjadi konsultan pendamping Wirausaha Baru Jabar,  yang posisinya di bawah Dinas Koperasi serta UMKM Provinsi Jawa Barat,  dan berkontribusi mencetak Wirausaha,  mendapat  penghargaan / sertifikat,  memiliki lisensi kompetensi di Ujikom SKKKN,  serta menjadi konsultan pendamping UMKM dari BNSP.

Menurut Arief,  dalam melaksanakan pekerjaannya,  ia pun mendapat berbagai pengalaman, seperti ketika akan melaksanakan tugas pengabdian kepada masyarakat.

“Saya ditugaskan untuk mendampingi dan melatih wirausahawan.  Di tempat saya bertugas,  saya sangat terenyuh ketika melihat potensi daerah yang dibiarkan terlantar.   Dengan strategi dan keilmuan yang dimiliki oleh saya,  muncullah ide untuk menciptakan produk kuliner kemasan yang dapat dinikmati sepanjang tahun,” ujar Arief .   Menurut Arief ,  masyarakat dilatih  untuk mengolah dan membuat produk serta membrandingnya, hingga melakukan pemasaran secara online,  dibantu juga oleh relawan teknik untuk mentransfer ilmu maupun teknologi.   Alhasil,  dengan kesabaran dan kegigihan,  kini banyak warga yang usahanya sudah berjalan,  bahkan memiliki produk yang dapat dijual di supermarket,  dan di pasarkan keseluruhan Indonesia hingga mancanegara.

“Kendala fasilitas dan  geografis juga menjadi tantangan.   Tantangannya berupa jarak tempuh wilayah hingga ke pelosok,  bahkan menghadapi banjir.  Semua akhirnya menjadi bumbu penyedap yang asik bila dinikmati,” cerita Arief.

Menjawab pertanyaan mengenai profesi sebagai akademisi,  Arief mengaku bahwa,  ia akan berupaya optimal untuk mengabdikan diri sampai waktu yang tidak ditentukan,  karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan.   Ayahnya juga berpesan,  agar Arief bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa,  terutama untuk agama,  dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki,  dan menjadikan amalan ini sebagai investasi yang akan  mengalir sampai akhir hayat.

Saat ini,  selain sebagai dosen dan peneliti di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STAN) Indonesia Mandiri,  Arief Yanto Rukmana juga aktif sebagai Konsultan Pendamping Wirausaha Baru Jabar / Dinas Koperasi dan Usaha Kecil,  serta menjadi Ketua Umum sekaligus pendiri Ikatan Coach Bisnis Indonesia (ICBI),   dan juga menjadi pembicara, narasumber maupun mentor bisnis di Komunitas Wirausaha 18, HIPMI, TDA, KAWANI, Santri Niaga – SSGDT, ABDSI Jabar,  dan Entrepreneur Circle.

Arief mengaku bahwa,  untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi,  ia sering mengikuti berbagai pendidikan sertifikasi,  seperti sertifikasi dosen,  asessor, wirausaha, sertifikasi konsultan pendamping dan sertifikasi metodologi pengajaran.   Saat ini,  Arief melihat masih ada jarak yang memisahkan antara teori dengan praktek di bidang kewirausahaan,  yakni ketika para wirausaha memberikan justifikasi bahwa,  akademisi hanya akan sukses di bidang teori saja.   Oleh karena itu,  Arief memiliki challenge bagi dirinya,  untuk membuktikan bahwa seorang akademisi juga bisa sukses dan berhasil membangun usaha menjadi besar,  sekaligus berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.   Indikasi adanya gap ini adalah,   dengan masih banyaknya teori kewirausahaan yang tidak aplikatif,  dan sulit untuk dilaksanakan.   Sebagai contoh,  bisnis canvas,  secara teori mudah untuk dituliskan,  namun dalam pelaksanaannya membutuhkan jam terbang,  coaching / mentoring,  serta pengalaman jatuh bangun dalam usaha,  sehingga bisa membentuk sikap kewirausahaan.

Arief membandingkannya dengan kondisi di negera  maju,  seperti Korea Selatan dan Jepang.   Mereka disana cenderung memiliki output keilmuan yang lebih banyak (minimal pendidikan di Korea adalah S1),  sedangkan di Jepang,  para ilmuwan  mau bersatu untuk memecahkan masalah dan memberi solusi,  serta fokus dalam bidangnya.

“Melihat study case itu,  InsyaAllah,  saya akan berusaha fokus mendalami ilmu kewirausahaan,  yang ditunjang dengan teknologi dalam membuat terobosan untuk memajukan pendidikan,” tutur Arief.

Arief Yanto Rukmana mengungkapkan pula bahwa,  faktor yang menyebabkan Indonesia mengalami kondisi seperti saat ini adalah,  perlunya pemerataan tenaga terdidik dan terampil ke seluruh pelosok.   Hal ini dikarenakan,  lulusan-lulusan terbaik bangsa ini masih berkarier dan terpusat hanya di kota-kota besar.   Dahulu,  ada program transmigrasi yang seharusnya masih bisa dilanjutkan hingga kini,  yang didukung oleh sarana maupun prasarana teknologi informasi serta SDM  terdidik,   dan diutamakan untuk pelosok di wilayah Indonesia Timur.

(E-018)***