”Simulasi” Kiamat Kubro

98

GEMPA dan tsunami yang memorak-porandakan Palu dan Donggala, menyusul musibah alam di Lombok, menorehkan duka mendalam. Semua warga  Palu, Donggala, dan seluruh bangsa Indonesia merasakan betapa besarnya ujian tersebut. Bukan saja bangsa Indonesia, pemerintah dan warga asing di semua negara, turut bersedih. Tanda empati mereka diwujudkan dalam kesediaan memberi bantuan kepada kita.

Sama sekali tidak ada manusia, kegagahan, bahkan teknologi supercanggih yang mampu menahan apalagi melawan kekuatan alam yang mahadahsyat. Segala macam buatan manusia hancur lebur. Hanya menyisakan puing-puing dan reruntuhan , berserakan, dan kembali menjadi debu. Bukan saja gedung, jembatan, dan jalan yang tinggal serpihan-serpihan, manusia dan makhluk lain pun, bergelimpangan tak bernyawa lagi. Hampir mencapai 1000 orang tewas dalam peristiwa itu.  Kekuatan mahadahsyat berupa tsunami itu hanya membutuhkan waktu sekira empat menit untuk mengubah Palu, Donggala, dan sekitarnya menjadi kota mati. Isak tangis dan jeritan, para keluarga korban bersipongang dalam duka, kemudian sepi.

Dalam ajaran agama (Islam khususnya) peristiwa Lombok dan Sulteng itu merupakan ujian bagi manusia, apakah mereka sabar dan tawakal menerimanya. Apakah keimanan kita semua akan terguncang kemudian kufur atau justru semakin tebal. Selain sebagai ujian, peristiwa itu merupakan peringatan dan bukti atas janji-Nya. Ia berjanji, kelak, dunia berikut planet-planet lain di tata surya akan hancur lebur. Semua planet berbenturan, semua bintang meledak. Bumi yang berukuran sangat kecil di tengah miliaran gemintang, akan terpental dari orbit Matahari. Tanah yang membentang dalam waktu sangat cepat, akan hancur lebur  bagai karpet yang ditarik ujungnya. Semua gunung, sekecil apapun, akan meletus.  Itulah yang disebut Kiamat Kubro, batas akhir kesementaraan kehidupan di dunia.

Ada Kiamat Kubro, ada Kiamat Sugro. Kiamat Sugro ialah kiamat kecil yang boleh jadi sebagai ”simulasi” Kiamat Kubro. Peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di berbagai tempat, hanyalah Kiamat Sugro, menjelang terjadinya peristiwa Kiamat Kubro. Kapan? Entahlah. Besok lusa, bulan depan, tahun depan, abad mana, milenial ke berapa Tuhan tidak memberi tahu kapan penghuni Bumi eksodus ke alam lain menunggu dilaksanakannya Pengadilan Illahi. Di dunia ini Tuhan hanya memberi berbagai isyarat saja bahwa kita sudah berada tidak terlalu jauh dari hari akhir itu. Tuhan mengingatkan manusia agar selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, berperilaku baik sesuai dengan petunjuk-Nya,.

Kita semua turut berduka atas musibah yang dialami saudara-saudara kita sebangsa setanah air di Lombok, Palu, dan Donggala. Korban yang meninggal sudah jelas mereka tergolong kaum suhada. Surga menanti mereka. Orang-orang yang selamat semoga diberi kesabaran dan ketabahan dan segera tergantikan kehilangan yang mereka alami dengan kehidupan yang lebih baik. Orang yang mampu, silakan bantu mereka dengan harta, orang yang tidak mampu, sumbangkanlah tenaga. Orang yang tidak memiliki keduanya, bantulah mereka dengan memanjatkan doa tanpa henti.(Furkon) ***