50 Juta Akun Facebook Diretas

39

FACEBOOK mengungkapkan ada 50 juta akun penggunanya yang dibobol peretas pada Jumat (28/9). Fakta terbaru ini terungkap saat peretas diketahui berupaya membobol tiga peranti lunak demi mengambil alih ‘token’ yang berfungsi laiknya kunci digital untuk mengakses akun pengguna.

CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan pihaknya menemukan ada pelanggaran yang janggal sejak Selasa (25/9) dan disebut berhasil menambalnya tepat dua hari setelahnya yakni pada Kamis (27/9).

“Ini merupakan masalah serius. Hanya kami tidak tahu apakah ada akun yang benar-benar disalahgunakan oleh para peretas,” ungkap Zuck seperti dirangkum AFP.

Sebagai upaya pencegahan, untuk sementara Facebook menghapus fitur ‘view as’ pada laman akun pengguna. Facebook mendeskripsikan fitur ini sebagai alat privasi yang memungkinkan pengguna melihat profil mereka sendiri untuk dilihat oleh orang lain.

Zuck memastikan pihaknya telah memperbaiki isu kerentanan tersebut. Facebook disebut juga telah melaporkan permasalahan ini kepada pihak berwajib.

“Sudah jelas bahwa peretas mengeksploitasi kerentanan yang ada pada kode Facebook,” ungkap wakil presiden manajemen produk Guy Rosen.

Untuk 50 juta akun yang diretas, Facebook telah meresetnya sehingga pengguna akan diminta untuk memasukkan kembali kata sandi saat hendak mengaksesnya.

Hadapi tuntutan hukum

Akibat masalah ini, Facebook diminta bersiap untuk menghadapi masalah hukum lantaran dianggap tak mampu melindungi privasi dan keamanan data penggunanya.

“Ini merupakan indikator serius bagi Kongres untuk mengambil tindakan demi melindungi privasi dan keamanan data pengguna media sosial,” ucap senator dari Partai Demokrat Mark Warner.

Dalam unggahan di akun pribadinya, Zuck mengakui pihaknya akan menghadapi tuntutan hukum terkait hal ini. “Kami menghadapi serangan dari orang-orang yang ingin mengambil alih akun hingga mencuri informasi para pengguna di seluruh dunia,” tulis Zuck.

Facebook mengatakan pihaknya juga menempuh upaya pencegahan untuk mereset akses terhadap 40 juta akun lain yang kemungkinan rentan diretas. Sebagai imbasnya, pengguna akan diminta untuk memasukkan ulang surel atau nomor telepon dan kata kunci (password) mereka.

Kabar pembobolan ini menyusul isu keamanan data besar-besaran yang sebelumnya melibatkan Facebook dan Cambridge Analytica. Akibat kasus tersebut, Facebook menghadapi tuntutan dari sejumlah negara terkait isu keamanan dan privasi data pengguna. (C-003/evn)***