‘Co-Working Space’ Pendobrak Tradisi Bekerja Kantoran

37

TAK ada yang lebih mengerikan daripada terkurung di ruangan bertembok, setiap hari, selama belasan tahun. Tapi, Christopher Thompson, pernah merasakannya.

Pria asal California, Amerika Serikat, itu sudah mencicipi asam garam bekerja di perusahaan besar dunia selama hampir 15 tahun. Dua jabatan terakhirnya ialah Vice President di Electronic Arts Asia pada 2010 dan Board Member di Media Development Authority Singapore pada 2011.

Selama itu pula, Chris, panggilan akrabnya, merasakan “kurungan” ruangan bertembok setiap hari.

Merasa pengalaman di dunia korporasi sudah terpenuhi, Chris beserta istri dan dua orang anaknya lalu memutuskan untuk hijrah ke Bali. Bermukim di kawasan Ubud, baru di sana merasa terbebas dari kurungan tembok ruang kerja.

Menjalani kehidupan yang santai tak membuat naluri berbisnis Chris tumpul. Bersama beberapa temannya, ia lalu mendirikan sekolah berbasis lingkungan hidup bernama Green School di kawasan Badung pada 2012.

Setahun kemudian, juga bersama teman-temannya, ia lalu mendirikan tempat kongko berkonsep kantor terbuka (co-working space) bernama Hubud.

Pengalamannya membesarkan salah satu co-working space terbesar di Indonesia itu diceritakannya melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (6/1).

“Beberapa teman saya di Green School adalah pekerja kreatif, seperti wartawan dan anggota kelompok sosial. Bisa dibilang mereka pekerja independen, tak membutuhkan ruangan untuk bekerja. Jadi, ide dibangunnya Hubud berasal dari kebutuhan mereka akan co-working space,” kata Chris.

Tentu saja ada biaya besar yang digelontorkan Chris dan teman-temannya untuk membangun Hubud, seperti menyewa lahan, mendirikan bangunan sampai biaya berlangganan akses listrik dan internet.

Ia enggan menyebutkan angka pastinya, tapi seiring berjalan waktu, ia mengaku investasi tersebut semakin menguntungkan.

Dari penjelasan Manajer Komunikasi Hubud, Risyiana Muthia, yang diwawancarai sehari sebelumnya, untuk mendapatkan layanan internet, listrik dan meja dalam 12 jam, pengunjung hanya perlu membayar biaya Rp250 ribu per hari.

Sedangkan untuk bisa bekerja sepuasanya tanpa dibatasi waktu, pengunjung bisa membayar biaya Rp3,7 juta per bulan.

Pasti banyak yang bertanya mengenai mahalnya harga untuk duduk di meja, membuka komputer jinjing dan tersambung dengan layanan internet di Hubud. Tapi, bagi para pekerja independen, terutama yang membutuhkan kreativitas dalam bekerja, fasilitas seperti ini sangatlah dicari.

Dari luar, bangunan Hubud tampak seperti rumah makan tradisional. Berdinding dan beratapkan bambu. Hampir tak ada pintu atau jendela yang membatasi pemandangan sawah hijau yang menghampar di depan ruangan meja kerja yang berkapasitas 275 orang di sana.

Sebagian besar pengunjungnya memang pekerja independen yang berasal dari berbagai negara, seperti wartawan, penggiat kelompok sosial, penulis buku, desainer grafis, sutradara film, sampai pemogram piranti lunak.

Mereka biasanya sedang mencari ide sambil berwisata di Bali, tentu saja karena tak harus berada di dalam kantor.

Jadi jangan kaget saat melihat ada pengunjung berkemeja rapi dengan celana pendek dan sendal jepit sedang melakukan wawancara serius melalui layanan komunikasi internet Skype.

Lucunya, awalnya Chris hampir tak percaya dengan konsep co-working space yang dicetuskan teman-temannya. Ia merasa, tempat usaha seperti ini tak jauh berbeda dengan kedai kopi.

Dan setelah mengembangkannya, ia baru percaya, bahkan yakin kalau konsep co-working space dapat mengubah pandangan mengenai betapa membosankannya memutar otak untuk bekerja dan mencari uang.

“Belasan tahun yang lalu, saya bekerja, makan siang dan melakukan aktivitas hampir seharian bersama teman-teman sekantor. Sangat membosankan! Di sini, selain bekerja, pengunjung juga bisa bertukar ide dengan pengunjung yang lain, yang berbeda latar belakang pekerjaan,” ujar Chris.

Ia melanjutkan, Hubud bukan hanya menyediakan ruangan di luar kantor, tapi juga aktivitas yang menggugah kreativitas pengunjungnya. Hampir setiap minggu digelar diskusi menarik di sana.

Pembahasannya beragam, mulai dari mengatasi kesehatan mental sampai mendulang untung dari bisnis Bitcoin.

Kalau diskusi terdengar membosankan, jangan khawatir, Hubud juga sering mengadakan pesta kecil yang meriah.

Sampai saat ini, ada sekitar 250 pengunjung yang menjadi anggota di sana. Tidak sedikit yang telah pulang ke negaranya, lalu kembali lagi ke Hubud saat mendapat proyek baru.

Chris mengakui tak semua pekerja bisa mendapat kebebasan untuk melakukan pekerjaannya di co-working space. Tetap ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan pekerjanya datang ke kantor dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Tapi, ia percaya kalau kebebasan bekerja dari mana saja, termasuk sambil berwisata, akan mulai menjadi tren dalam sepuluh tahun ke depan, di saat internet dan perangkat komputer semakin berevolusi.

“Saya selalu percaya sumber ilmu bisa didapat dari mana saja, tak harus terkurung dalam ruangan berdinding. Co-working space merupakan salah satu wadahnya. Jangan ragu untuk berbincang dan bertukar informasi dengan sesama pengunjung di sana,” kata Chris menutup pembicaraan. (C-003/ard)***