Singularity, Tren Industri Kreatif Indonesia 2019/2020

32

IDE atau gagasan menjadi latar belakang kemunculan karya. Namun, ide jelas tak muncul ujuk-ujuk. Ide muncul dengan sederet stimulan. Salah satunya adalah tren yang tengah berkembang.

Bukan semata-mata mengikuti hype, tren diperlukan sebagai acuan dengan harapan karya yang dibuat bakal diterima publik.

Musim tahun 2019/2020, Indonesia bakal merujuk pada tema “Singularity”. Tema besar inilah yang bakal menjadi acuan bagi industri mode, kriya, desain produk, dan desain interior.

Koordinator Tim Penyusun Indonesia Trend Forecasting 2019/2020, Dina Midiani, menjelaskan bahwa “Singularity” merupakan reaksi dari kehadiran kecerdasan buatan sebagai hasil dari kemajuan teknologi.

“Tim menangkap ada perubahan pola pikir ketika teknologi mutakhir hadir mewarnai kehidupan manusia,” ujar Dina dalam peluncuran Trend Forecasting 2019/2020 di Jakarta, Kamis (27/9).

Reaksi-reaksi akan kemunculan teknologi ini pun dituangkan dalam empat konsep turunan dari tema besar tren. Mereka di antaranya ‘exuberant’, ‘neo-medieval’, ‘svarga’, dan ‘cortex’.

  1. Exuberant

Dina bersama Tri Anugrah, Head Trend Researcher & Creative Director of ITF sepakat bahwa subtema ‘exuberant’ mewakili kaum yang optimistis dan positif akan hadirnya kemajuan teknologi. Exuberant juga mewakili karakter yang dinamis dan cerdas. Jika manusia, maka ia disosokkan sebagai orang yang santai, sedikit ‘nerdy’, tetapi tetap stylish dan lucu.

Di sini, teknologi digital tak bisa lepas begitu saja. Geraknya menyatu dalam musik, hiburan, dan seni serta bisa divisualisasikan pada grafis berwarna, street art, komik, dan kartun.

  1. Neo-medieval

Ada yang menerima dan ada pula yang menolak. “Mereka lari jadi konservatif,” kata Tri.

Tema abad pertengahan tetap menunjukkan keelokkannya di zaman kiwari. Ini muncul akiba adanya rasa kebutuhan akan narasi romantis sejarah yang diperlukan untuk menjelaskan pandangan tentang situasi politik dan budaya saat ini.

  1. Svarga

Svarga akan tepat jika digambarkan melalui kata kunci ‘inklusif’. “Svarga jadi jembatan antara artificial intelligence dengan manusia. Spiritual kita bisa terhubungan dengan berbagai hal, termasuk teknologi,” ujar Tri.

Svarga juga menjadi simbol manusia yang menyatu, bekerja sama, memberikan kemurahan hati, dan pengetahuan dengan imbalan rasa bahagia. Subtema ini bisa diaplikasikan melalui desain-desain yang melekatkan diri dengan nuansa tradisi dan kearifan lokal.

  1. Cortex

Cortex mewakili karakter yang melihat kecerdasan buatan sebagai sesuatu yang terpisah dari manusia, bahkan seolah merupakan perpanjangan tangan manusia.

Yang lebih mengerikan, kecerdasan buatan tak lagi jadi alat bantu desainer untuk menghasilkan karya. Namun, jauh dari itu, kecerdasan buatan bisa menjadi ‘desainer’ itu.

Namun, untungnya sejauh ini kecerdasan buatan masih digunakan para desainer untuk mengeksplorasi bentuk, material, dan medium riset. (C-003/asr)***