Siaran Pers Balitbangtan, Sosialisasi Kit Deteksi Cepat Penyakit CVPD Tanaman Jeruk

24

Balai Penelitian Tanaman jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Badan Litbang Pertanian mengembangkan DEPAT-CVPD, kit deteksi cepat penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) atau terjadinya kerusakan pembuluh tapis pada tanaman jeruk. Teknologi ini dapat digunakan sebagai solusi alternatif dalam deteksi dini dan cepat terhadap penyakit CVPD.

DEPAT-CVPD merupakan teknologi hasil penelitian  Ir. Nurhadi, M.Sc dan Yunimar, S.Si, M.Si, peneliti dari Balitjestro Badan Litbang Pertanian. Kit ini dikembangkan sebagai upaya untuk mempercepat serta menyederhanakan prosedur dalam sistem deteksi penyakit CVPD sehingga hasil deteksi dapat segera dikonfirmasi.

Melihat keunggulan tersebut,  Balitjestro bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat melaksanakan sosialisasi Kit DEPAT-CVPD di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Cikajang, Garut, Jawa Barat pada Kamis (4/10/2018).

Kegiatan sosialisasi ini dibuka oleh Kepala Balitjestro, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi dan praktek penggunaan Kit DEPAT-CVPD. Menurut Tim Perbenihan Jeruk BPTP Jabar yang diwakili oleh Taemi Fahmi dan Endjang Sujitno, Kit Depat ini mempunyai kelebihan dibanding dengan model deteksi CVPD yang selama ini dilaksanakan yaitu metode PCR.

Pada metode PCR diperlukan ruangan khusus (laboratorium) yang didukung peralatan yang cukup mahal serta prosedurnya yang rumit. Sementara penggunaan Kit DEPAT-CVPD tidak memerlukan ruangan khusus, praktis serta mudah dilakukan oleh siapapun.

Keunggulan lain dari kit ini dari segi akurasi hasil deteksi, berdasarkan hasil penelitian dengan membandingkan kedua metode deteksi CVPD, menunjukkan hasil deteksi yang sama. Dengan tingkat akurasi yang sama dengan metode khusus yang umum digunakan, kit ini telah digunakan selama dua tahun terakhir ini  oleh BB Biogen. Kedepannya alat ini akan terus  disempurnakan serta dilengkapi sehingga akan lebih mudah lagi digunakan terutama oleh end user di lapangan.

Kegiatan sosialisasi ini dihadiri Dinas Pertanian Kab. Garut, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari, Badan Karantina Kementan Wilayah Jawa Barat, Balai Pengawasan Dan Sertifikasi Benih (BPSB) Kab. Garut, BPTP Jabar dan petani penangkar jeruk. Para peserta sosialisasi berharap ke depan kit ini akan dapat dengan mudah diperoleh di pasaran dengan harga yang relatif terjangkau. Sehingga penggunaan kit ini dapat lebih menyebar secara luas sehingga akan berdampak pada menurunnya serangan CVPD pada tanaman jeruk petani.