Dari Paris menjalar ke pasar global

46

INDUSTRI fesyen menjadi salah satu penopang utama industri kreatif. Itu semua terjadi lantaran industri ini selalu terus tumbuh seiring perkembangan mode dan kebutuhan yang kerap menghampiri produk tersebut.

Inilah yang membuat industri ini terus saja hidup dan bergerak. Setiap jaman pasti punya mode tersendiri yang menjadi ciri khas dari periode tersebut. Apalagi, kini fesyen seolah tidak mengenal batas geografis lagi. Demam terhadap sesuatu model fesyen bisa menjangkiti banyak pihak. Tak cuma di pasar lokal, tapi bisa juga global.

Asalkan produk bersangkutan, punya ciri khas yang kuat yang menjadi kekuatan dari sang penciptanya. Inilah yang membuat profesi perancang busana tetap eksis hingga kini. Malah, para kawula muda makin berminat di bidang kreatif tersebut.

Apalagi kesempatan untuk bisa memasarkan produk fesyen lebih luas lagi terbuka lebar. Kali ini,bukan campur tangan pemerintah yang kerap menggelar festival fesyen lokal di luar negeri, tapi lewat start up bidang fesyen yang menjembatani para perancang berkiprah di pasar internasional, yakni Fashion Digital.

Lewat seleksi yang diikuti 37 perancang busana pemula, terpilih lima perancang yang bakal memamerkan rancangan busana pada akhir September nanti di Paris Fashion Week 2018.

Salah satunya adalah Daniella Grace. Perempuan  23 tahun ini mengusung merek Danielle di pagelaran busana tersebut.

Yang menjadi kekuatan Danielle ini adalah konsep koleksi baju dengan bahan linen. Rancangan baju yang Daniella garap ini  tergolong unik. Yakni, bisa dipakai untuk acara formal atau resmi tapi juga bisa untuk acara non formal atau santai.

Ia mengambil contoh ada orang yang memakai rancangannya. Di saat bersamaan, orang tersebut bisa mengenakan rancangannya ke dua tempat berbeda sekaligus. Acara pertama adalah ke kantor sebagai pekerja yang menghabiskan kegiatan dari pagi hingga sore. Lantas di malam harinya. “Bisa pergi ke sebuah acara lainnya tanpa perlu mengganti baju terlebih dahulu,” katanya.

Ia menawarkan beragam produk Daniella. Seperti ada atasan, celana pendek, celana panjang, dan dress. Ukuran produk fesyen khusus perempuan inipun juga beragam, mulai dari ukuran yang terkecil (S) hingga yang terbesar (XL).

Untuk sementara, Daniella cuma menjajakan produk rancangannya secara online saja. Yakni lewat toko online yang ia buat serta media sosial seperti Instagram.

Pemasaran secara digital ini sengaja ia pilih lantaran ia bakal menentukan garis rancangan terhadap tren yang tengah berkembang saat ini. Jangan salah, patokannya bukan lah model atau artis top yang tengah naik daun, melainkan para blogger yang kini menjadi selebriti dunia digital.

Nah, pakaian atau produk fesyen yang kerap dipakai para blogger top itu tidak lah serumit yang diperkirakan. Justru modelnya terkesan simple tapi berkelas. Inilah yang menjadi perhatian Daniella. Apalagi model fesyen seperti itu bisa dipakai oleh siapa saja, tanpa memandang kasta sosial atau umur.

Kebetulan, warna favorit orang Indonesia adalah natural colours seperti putih, hitam, coklat, dan abu-abu. Sehingga kesan desain yang sederhana terpancar dari hasil rancangannya.

Tapi ia sadar, bahwa untuk terus bisa memajukan bisnis fesyen,  haruslah berani keluar kandang. Artinya berani tampil di kancah internasional. Ia pun memberanikan diri untuk tampil di ajang internasional.

Kebetulan, dirinya terpilih dari lima perancang yang ikut di ajang pagelaran fashion show di ibukota Prancis tersebut. Meski begitu, ia sadar, perlu ada pembenahan didalam kualitas fesyen yang dihasilkan. Lantaran apa yang disuka konsumen lokal, belum tentu disukai orang asing, termasuk juga para pemerhati fesyen di Prancis. “Memang berbeda dengan tren fesyen di Paris. Mereka lebih suka melihat fesyen dari kesesuaian bahan, jahitan yang rapi, kasual tapi tetap terlihat elegan,” tandasnya,

Makanya, dalam pagelaran nanti, ia bakal  memasukkan gaya hidup orang Paris ke model baju yang akan ia produksi dan pamerkan nantinya. Sayang, ia tidak merinci jumlah produk baju yang bakal dibawa.

Mumpung masih ada waktu, ia bakal mengoptimalkan desain baju yang pas dengan keinginan pasar luar negeri tersebut. Bersama dengan enam pegawainya, ia akan mengutak-atik pola baju yang cocok serta memperhatikan jahitan.

Maklum, langkah perdana pagelaran busana di Prancis nanti ia harapkan bisa menjadi pintu gerbang untuk bisa masuk lebih dalam di pasar internasional.

Setelah pagelaran tersebut, ia justru punya rencana untuk membuka toko offline. Jangan salah, toko tersebut bukan berlokasi di dalam negeri tapi di Prancis. Bukan berbentuk toko yang berdiri sendiri tapi berada di salah satu department store di kota tersebut. “Karena target kita selanjutnya adalah merek ini menjangkau pasar internasonal,” tandasnya.

Selain itu, ia juga bakal menjajakan Daniella di di bazar-bazar internasional lainnya. Dengan aktif promosi dan menjajakan ke pasar luar negeri, ia harapkan para blogger internasional sudi memakai produk fesyen hasil rancangannya. Adapun bandero harga produknya di pasar luar negeri berkisar € 100 – € 300 per item.

Perancang lain yang masuk pagelaran di Paris juga punya rancangan yang lain daripada lain. Seperti Amelia Novarienne Barus yang membesut fesyen merek Dakada.

Perempuan berusia 23 tahun ini sengaja membuat produk fesyen yang diusahakan tidak menyisakan bahan sama sekali. Artinya, semua potongan kain, yang biasanya  ada yang tidak terpakai, bakal ia gunakan di produk fesyen hasil rancangannya. “Brand ini memang sama sekali tidak membuang sisa kain,” katanya menyebut kekhasan merek fesyen itu.

Efeknya adalah, harga yang ditawarkan Dakada ia klaim masih ramah dikantong untuk ukuran produk fesyen. Dalam pagelaran nanti, Amelia membanderol produk pakaiannya justru lebih mahal dari Daniella, yakni antara € 200 – € 300 per item.

Ia harap produk hasil rancangannya bisa dipakai oleh siapa saja. Dan dipakai di mana saja, tanpa mementingkan acara dan lokasi. “Inilah yang ingin saya tanamkan ke banyak orang,” tuturnya.

Ia sendiri baru mulai mengembangkan Dakada mulai awal tahun ini. Sama seperti pebisnis fesyen pemula, ia mengandalkan pemasaran secara online. Dan belum ada  memiliki rencana untuk mengembangkan bisnis lebih lanjut lewat pembukaan toko secara offline.

Lantaran mengusung kepraktisan dalam berbusana, Amelia mengaku  tidak terlalu memperdulikan tren fesyen yang berkembang. Karena target pasar dari merek ini memang ingin meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk fesyen yang berkelanjutan dengan memanfaatkan semua bahan yang ada.

Karena tekad inilah yang membuat dirinya masih kerap menemui kendala dalam berproduksi. Yakni mengingatkan kepada tiga orang pegawai untuk selalu memakai bahan yang ada tanpa ada sisa bahan sama sekali.

Lantaran tergolong simpel, ia kerap memakai model dari  kalangan siapa saja. Yang penting si model paham dengan produk fesyen yang ia rancang. Sayang, Amelia tidak merinci target bisnis hingga akhir tahun ini.

Perancang lain yang beruntung adalah Grasheli Andhini, pemilik Grasheli Andhini. Perempuan 23 tahun ini tahun lalu sempat mengikuti  Jakarta Fashion Week pada Oktober tahun lalu. “Saya sempat menjadi finalis,” katanya.

Grasheli sendiri telah lama memiliki minat di dunia fesyen. Bahkan ini juga sejalan dengan bidang pendidikan  ditempuhnya. Yakni pendidikan sarjana di disain fesyen, dan pasca sarjana manajemen desain.

Saat ini pelanggannya berasal dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Produknya pun dengan mudah bisa dicari melalui halaman website khusus Grasheli Andhini.

Dengan mempekerjakan lima karyawan, Grasheli juga sudah bisa menerima pesanan busana dengan kisaran harga Rp 400.000 sampai Rp 900.000. “Harga tersebut masih cocok untuk pasar Indonesia,” katanya.

Nah, khusus di ajang pagelaran fesyen di Paris nanti, ia bakal mengkombinasikan rancangannya dengan kain lurik Yogyakarta. Soal harga jual dari produk tersebut berkisar di atas Rp 1 juta per item.

Selain memperagakan hasil rancangannya, Grasheli ingin Paris Fashion Week nanti bisa ia manfaatkan untuk memperluas koneksi pemsaran. Yakni lewat pertemuan dengan tamu-tamu undangan dalam ajang tersebut.

Apalagi di ajang tersebut ada tamu yang ia nilai cocok dengan busana lurik yang bakal ia tampilkan. “Ada artis China yang saya nilai cocok memakai busana rancangan saya,” harapnya.

Mengutamakan keunikan masing-masing

masing-masing perancang busana punya kekahasan sendiri dalam membuat produk fesyennya. Seperti Grasheli Andheli yang mengusung merek yang sama dengan nama dirinya.

Memulai debut sebagai desainer muda diakui Grasheli menjadi peluang sekaligus tantangan bagi gadis berusia 23 tahun ini. Baik itu untuk bisa menembus pasar lokal maupun internasional. “Saya suka mengombinasikan kain yang bisa menunjukkan sisi feminin dari wanita, bagaimana dengan busana yang mereka kenakan bisa menunjukkan sisi percaya dirinya,” tandasnya.

Salah satu cara Grasheli adalah dengan membuat potongan busana yang bisa sesuai dengan lekukan tubuh dari wanita. Maklum, saat ini tren malu terhadap bentuk tubuh (body shaming) di kaum hawa membuatnya tertarik untuk merancang produk fesyen yang bisa menutupi kekurangan tubuh wanita lewat kombinasi kain lurik dan lekuk tubuh lewat potongan baju yang pas.

Lantaran memakai kain lurik, ia cukup selektif memilih kain tersebut. Supaya aman dipakai, ia bakal memilih kain lurik yang memakai pewarna alami. “Saya tidak memperhasalkan harga. lebih baik mengerek harga daripada mengganti kualitas dari produk,” timpalnya.

Kalau Grashelia mengandalkan kain lurik sebagai penutup kekuarangan tubuh, maka perancang yang lain menggunakan metode berbeda. Seperti Daniella Grace yang condong membuat desain dengan bahan linen. Sehingga produk ini bisa dipakai di acara  yang resmi atau yang non resmi. Sedangkan  Amelia Novarienne Barus sengaja membuat produk yang simpel tapi dengan mengoptimalkan bahan baku yang ada.

Wulan S Haryono, Pendiri dan Direktur Program Fashion Division, menyatakan alasan memilih para perancang busana tersebut. “Kelima desainer tersebut dipilih lewat serangkaian proses seleksi dengan kriteria keunikan desain, ciri khas brand dan kualitas bahan,” katanya.

Ajang tersebut menjadi tahun pertama pelaksanaan Fashion Division dalam berkiprah di bidang fesyen. Sekaligus untuk mengenalkan lebih dekat hasil rancangan desainer Indonesia ke para mitra di luar negeri.

“Acara ini bertujuan untuk mempromosikan fesyen Indonesia khususnya untuk fesyen desainer yang ingin memulai debutnya di skala internasional,” katanya yang menyebut sejumlah media asing siap meliput.

Berikutntya, phaknya saat ini tengah menjaring para desainer pemula Asia untuk bisa tampil di ajang Paris Fashion Week 2019. Sejauh ini, perancang pemula dari Thailand dan Filipina tertarik  untuk ikut seleksi tersebut. Maklum Paris Fashion Week adalah salah satu pergelaran busana ternama di dunia. Dari sini biasanya muncul perancang ternama dunia. (C-003/KONTAN)***