Perang Dingin Bisa Terulang Akibat Perang Dagang

75

KEMENANGAN Amerika Serikat (AS) di Perang Dingin menghadirkan sebuah era yang disebut Presiden HW Bush sebagai Tatanan Dunia Baru. Sekarang, tatanan itu digoyang oleh Presiden Donald J. Trump.

Trump, yang sejak masa kampanye merasa kesal karena AS dirugikan Tiongkok, sedang menggempur barang impor Negeri Tirai Bambu dengan tarif. Aksi saling balas tarif pun terjadi, dan terjadilah perang dagang.

Dikhawatirkan, perang dagang yang berlangsung antara AS dan Tiongkok akan mengancam kemunculan perang dingin ekonomi.

“Sekarang kita butuh berpikir apakah perang dagang ini akan berubah menjadi perang dingin ekonomi. Kami harap itu tak terjadi,” ujar Jing Ulrich, Managing Director dan Wakil Ketua Asia Pasifik di J.P. Morgan Chase seperti dikutip CNBC.

Meski begitu, Ulrich masih optimistis akan adanya negosiasi antara kedua belah pihak. Rekonsiliasi dianggap diperlukan, sebab perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang dan pihak yang terlibat akan sama-sama kalah.

“Tidak ada siapapun di dunia yang akan untung (akibat perang dagang),” ucapnya. Dia pun mengatakan Tiongkok tidak akan mengubah kebijakan dalam negerinya karena tekanan dari luar.

Sampai sejauh ini, pemerintahan Presiden Trump masih belum menunjukkan tanda-tanda menyetop tarif terhadap barang impor Tiongkok, meski banyak pihak yang protes kebijakan tarif. Malah, Trump dilaporkan siap memberi tarif ke seluruh produk Tiongkok yang masuk ke AS.

Presiden AS, Donald Trump menjabat tangan Presiden China, Xi Jinping saat jamuan makan malam di resor Mar a Lago, Florida, Kamis (6/4). Kedua pemimpin negara tersebut diagendakan akan menghabiskan waktu bersama secara privat.

Presiden Trump mengenakan tarif 10 persen untuk barang impor China senilai USD 200 miliar. Kemudian tarif tersebut meningkat menjadi 25 persen hingga akhir 2018.

Trump mengumumkan hal itu pada Senin waktu setempat. Penerapan tarif impor barang itu  berlaku pada 24 September 2018. Langkah Trump tersebut meningkatkan ketegangan antara kedua negara dengan ekonomi terbesar tersebut.

China pun mengancam dengan akan membalas terhadap tarif tersebut. Sedangkan pemerintahan Amerika Serikat menghapus sekitar 300 barang dari daftar produk yang terkena dampak sebelumnya termasuk jam tangan pintar, beberapa bahan kimia, dan produk lainnya.

Dalam sebuah pernyataan, Trump mengatakan tarif akan naik menjadi 25 persen pada 1 Januari 2019. Ia menambahkan, jika China akan mengambil tindakan pembalasan terhadap petani AS atau industri lainnya, pihaknya akan segera kejar dengan fase ketiga yaitu impor tambahan senilai USD 267 miliar.

Tindakan Trump tersebut hanya akan meningkatkan ketegangan antara AS dan China. Trump mencari perjanjian perdagangan baru di tengah keluhan dugaan pencurian kekayaan intelektual oleh perusahaan China dan kekhawatiran tentang defisit perdagangan AS dengan China. Kedua belah pihak telah gagal capai kesepakatan untuk selesaikan keprihatinan AS dengan praktik perdagangan China.

“Kami telah sangat jelas tentang jenis perubahan yang perlu dilakukan, dan kami telah memberi China setiap kesempatan untuk memperlakukan kami lebih adil. Tapi sejauh ini, China tidak mau mengubah praktiknya,” ujar Trump.

Trump tetap mempertahankan langkahnya mengenakan tarif meski ada kritik dari anggota parlemen Republik. Pada Senin waktu setempat, Trump mengunggah status dalam akun media sosial Twitter.

“Tarif telah menempatkan AS dalam posisi tawar yang sangat kuat, dengan miliaran dolar AS dan tenaga kerja yang mengalir ke negara kita. Namun, kenaikan biaya sejauh ini hampir tidak terlalu mencolok. Jika negara-negara tidak akan membuat adil berurusan dengan kami, mereka akan ditagih,” tulis Trump, seperti dikutip dari laman CNBC.

Pelaku usaha pun cemas dengan pengumuman Donald Trump tersebut. Pimpinan National Association of Manufacturers (NAM) dan CEO Jay Timmons menuturkan, penerapan tarif berisiko membatalkan hasil yang telah dicapai oleh para produsen pada tahun lalu. Ini karena reformasi pajak dan peraturan.

“Dengan setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan pada perjanjian perdagangan bilateral berbasis aturan dengan China, potensi tumbuh untuk produsen dan pekerja manufaktur terluka. Tidak ada yang menang dalam perang dagang, dan pekerja manufaktur berharap pendekatan pemerintah akan cepat hasilnya,” ujar Timmons.

Sebelumnya pemerintahan AS telah memungut tarif senilai USD 50 miliar terhadap barang China. Pemerintahan China pun menanggapi dengan langkah-langkah yang menargetkan penerapan tarif untuk impor barang AS. Ini menimbulkan kekhawatiran terhadap industri pertanian AS. (C-003)***