Berbakti untuk Bandung Mandiri. Oleh : M. Firaldi Akbar Zulkarnain S.Mn.

73

Istilah berbakti dan mandiri mungkin sudah klise kita dengar, istilah ini seringkali diulang ulang dalam slogan berbagai organisasi politik dan non -politik ataupun personal. Namun, dalam hal ini perlu dipahami bahwa istilah yang terpisah dari konteksnya akan kehilangan makna. Selain itu, tanpa tindakan kerja nyata istilah inipun akan kehilangan semangat.

Berbakti pada dasarnya memiliki konteks yang sangat luas, ia melingkupi keluarga, organisasi, negara dan bangsa ataupun subjek yang lebih besar. Berbakti adalah penyerahan diri untuk mengikuti sebuah konsep yang lebih besar daripada kita secara pribadi. Luasnya konsep berbakti, membuatnya dapat dipraktekkan dari hal-hal kecil dalam keseharian hingga hal-hal besar seperti kebijakan daerah ataupun negara. Namun dalam hal ini saya mengkhususkan istilah berbakti ini kepada Kota Bandung, kota tempat saya lahir dan dibesarkan, kota yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari saya.

Sedangkan mandiri, yang berarti tidak bergantung pada orang lain memiliki konteks yang juga luas, bergantung pada subjek atau objek yang ditempatkan untuk membatasinya. Kemandirian secara konseptual ini saya tempatkan pada Kota Bandung, terutama pada masyarakat yang menjadi alasan keberadaan kota ini. Kemandirian tidak terlepas dari konteks ekonomi rangkaian upaya untuk membangun diri, memenuhi kebutuhan dan menggerakkan roda ekonomi adalah bagian penting dari kemandirian.

Kedua istilah ini melahirkan tanggung jawab yang besar bagi siapapun yang ingin mewujudkannya. Tentu saja, kata-kata tidak akan pernah cukup untuk mewujudkan suatu konsep, diperlukan kerja nyata yang terencana untuk mewujudkannya. Selain itu, dibutuhkan juga komitmen untuk menjaganya. Dalam konteks politik dan pemerintahan, hal tersebut menjadi bias jika tidak diwujudkan melalui kebijakan. Akan tetapi kebijakan pun tidak akan dilegitimasi tanpa adanya aspirasi dari rakyat, sang pemilik kekuasaan. Berbakti dan mandiri bagi saya adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Baik untuk diri pribadi maupun untuk konteks yang lebih luas seperti Kota Bandung dan masyarakatnya.

Berbakti dan mandiri bukan sekedar kuantitas tapi kualitas, semakin mandiri kita semakin kita dapat berkualitas upaya kita untuk berbakti kepada kota, bangsa dan negara. Di Kota Bandung yang dikenal sebagai kota kreatif, kemandirian bukanlah hal yang asing, terutama bagi generasi mudanya. Kreatifitas sendiri adalah bagian dari upaya membangun kemandirian dengan menghasilkan kreasi yang inovatif. Sebagai contoh adalah antusiasme generasi muda Kota Bandung untuk terlibat dalam dinamika ekonomi kreatif di indonesia.

Karya-karya kreatif dari Kota Bandung sudah dikenal di seluruh indonesia bahkan mendunia. Brand-brand local di Kota Bandung mampu bersaing dengan brand internasional dengan kualitas yang tidak dapat diremehkan. Aktivitas perdagangan di Kota Bandung ikut ditopang oleh geliat ekonomi kreatif di Kota Bandung memengaruhi penghasilan asal daerah Kota Bandung. Hal tersebut bagi saya merupakan bakti nyata generasi muda Kota Bandung membangun perekonomian. Berputarnya roda perekonomian Kota Bandung yang ditopang oleh kemandirian masyarakatnya menjadikan Kota Bandung kuat secara ekonomi maupun sosial, dan nilah yang menjadi ruh bagi Kota Bandung di masa kini dan masa depan.

Namun tentu saja apa yang telah dicapai Kota Bandung saat ini bukanlah sesuatu yang final, masih dibutuhkan inovasi dan kerja nyata untuk mengembangkannya di masa depan. Pertumbuhan ekonomi suatu kota dan negara tidaklah statis, perhitungan hasil pada satu tahun tidak dapat menggambarkan betapa rumitnya mempertahankan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Pendulum ekonomi saat ini bergerak sangat cepat karena disrupsi teknologi digital yang semakin massif. Hal ini terjadi bukan hanya di Kota Bandung namun di seluruh dunia. Satu persatu bisnis konvensional berjatuhan jika tidak mampu berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi. Sekarang, bukan Cuma bisnis konvensional yang terancam tapi juga kualifikasi sumber daya manusia yang semakin hari semakin spesifik dan terintegrasi dengan teknologi.

Disrupsi ini nyata, bukan rekaan, dan mudah dilihat dalam keseharian. Misalnya, saat ini kafe memerlukan akun media sosial untuk mempromosikan lokasi dan menunya, penginapan membutuhkan aplikasi penyedia jasa sewa untuk mempromosikan tempatnya, toko membutuhkan aplikasi eCommerce dan Marketplace untuk menggaet lebih banyak pembeli.  Kemudian yang paling sering kita lihat adalah transportasi online yang bukan hanya menjadi jasa transportasi orang tapi juga menjadi kurir pengantar barang, makanan dan belanjaan.

Bukan hanya itu, secara sosial kita juga dapat memerhatikan munculnya jenis-jenis pekerjaan baru yang terintegrasi dengan layanan digital ataupun media sosial seperti freelance designer, influencer, copywriter, social media expert, dan istilah lainnya yang asing bagi sebagian besar industry konvensional.

Perubahan ini tidak dapat dihindari, bahkan sudah terjadi dan bergerak lebih cepat dari regulasi yang ada. Perubahan ini tidak hanya menghadirkan tantangan tapi juga peluang bagi masyarakat Kota Bandung.  Kemudahan yang disajikan oleh perangkat teknologi mampu mempercepat sirkulasi ekonomi, bahkan menyediakan lapangan kerja alternatif. Meskipun begitu, adaptasi teknologi di kalangan bisnis dan industri masih harus dilakukan secara bertahap.

Melihat fenomena tersebut, menurut saya Kota Bandung memerlukan sebuah gebrakan yang mampu mengantisipasi tantangan masa depan bagi kemandirian kota dan kemandirian masyarakatnya. Inovasi ini bukan hanya harus terjadi kalangan eksekutif sebagai pelaksana kebijakan, namun juga legislatif sebagai perumus kebijakan. Maka, sebagai bagian dari generasi muda yang secara aktif menjadi bagian dari perubahan ini akan berbakti untuk Kota Bandung dengan menjadi penghubung aspirasi bagi para pelaku ekonomi baik digital maupun konvensional dan masyarakat yang terkena imbas perubahan ini.

Karena aspirasi hanya akan menjadi kebijakan yang berarti jika dapat dipahami. Dengan begitu, berbakti dan mandiri bukan lagi hal yang klise, melainkan syarat untuk merangkai masa depan kita bersama, sebagai bagian dari Kota Bandung.

Penulis :
M. Firaldi Akbar Zulkarnain S.Mn
Caleg DPRD Kota Bandung Dapil 2
Ketua MKGR Kota Bandung