Cucu Sumiati, Lebih Memilih Suntikan Modal Orangtua, Ketimbang Terlilit Riba

45

Cucu Sumiati, lahir di Bandung  7 April 1982 ,mantan jurnalis Persib ini, kini banting stir menjadi pengusaha industri kreatif. Ia memproduksi beragam produk kerajinan interior rumah, craft, pernak pernik dan lain-lain yang unik.  

Istri dari Taufik Ismail (37 tahun) ini mengaku, awal menggeluti usaha ini berawal dari hobi membuat kreasi menjahit. Terinpirasi  kebutuhan bedshet yang sepanjang hidup, namun terkadang terabaikan, padahal seprei dan bantal merupakan kebutuhan pokok. Seiring perkembangannya, Cucu Sumiati kemudian memproduk interior rumah, seperti beanbag, kasur, busa, bantal duduk dan lain-lain.

Diakuinya,  modal awal usahanya berasal dari  pinjaman dari orang tuanya sebesar Rp 2 juta. Sewaktu bekerja di media massa tempatnya bekerja, dari sisi keuangan sudak tidak memadai. Karena hidup dan kebutuhan banyak, jadi harus mencari sampingan dengan membuat produk sendiri. Dari modal Rp 2 juta pinjaman orang tuanya, kemudian memproduksi bantal dan sarung bantal kursi. Dari hasil penjualan bantal kursi, ia membeli kain yang bercorak lucu dan dipajang di rumah. Kain  yang dibelinya  dibuat aneka kreasi tergantung permintaan konsumen. Ada yang memesan sprei, taplak kulkas, galon, sarung kasur dan sebagainya. Sejak memiliki usaha ini , akhirnya Cucu memilih undur diri dari pekerjannya  sebagai jurnalis.

Lulusan jurnalistik UIN ini mengutarakan, kemampuan memproduksi/mendesain produk meruapakan ide sendiri,  konsumen dan media sosial. Prinsipnya ATM (amati, tiru, modifikasi). Cucu Sumiati memproduksi beragam produknya di Puri Cipageran Indah I Blok H2 nomor 62, Cimahi Utara. Dalam sebulan kemampuan produksinya tergantung pesanan. Untuk bantal duduk bisa 30 piecs, seprei sehari minimal 1 set. Bahan baku yang digunakannya katun lokal. Dalam sebulan mampu menjual seprei 10-20 piecs, bantal duduk 20, beanbag 1-5 piecs. Segmen pasarnya , umumnya ibu rumah tangga. Produk dijual dengan kisaran harga Rp 35 – Rp 450 ribu. Omset perbulannya rata-rata Rp 8 – Rp 10 juta. Resselernya kini, tercatat ada 5 orang.”Keunggulan produknya dibandingkan dengan produk sejenisyang beredar dipasaran adalah harganya lebih terjangkau . Pengerjaan pesanan lebih cepat, pengiriman gratis untuk wilayah Bandung dan sekitarnya,” akunya kepada BB, akhir pekan lalu di Bandung.

Ibu dari M.Kayana Yudhistira (6 tahun) ini mengaku, produknya telah menggurita di pulau Jawa-Bali. Persaingan pasar terjadi didunia maya/online.

Ia mengklaim,  tapi untuk konsumen yang telah mengetahui bahan dan kualitas,  mereka pasti refeat order. ” Dalam menjalankan usaha , tidak lepas dari pengalaman positif maupun negatif . Positif, jadi banyak teman yang merupakan konsumen . Pengalaman negatifnya, kadang di-php, pembayaran telat,”ujar Cucu menceritakan sepenggal pengalamannya dalam menekuni dunia usaha.

Agar produknya tetap berdaya saing, meningkatkan kualitas usaha dan pribadinya , yang dilakukan saat ini adalah terus mengikuti tren pasar dan berinovasi.”Pasalnya saat ini minat pasar terhadap produk cukup tinggi,  indikatornya banyak konsumen yang refeat order,” klaim penganut moto hidup : Belajar, Aplikasikan ilmu, dan Berkarya.

Pemilik @bubu.kaka ini melihat, perhatian pemerintah terhadap pelaku usaha cukup besar , khususnya yang bergabung dalam komunitas. Seperti pemberian pinjaman dan lain-lain.

 ‘Kalau saya lebih memilih  tidak meminjam dari perbankan. Mengawali usaha dengan modal kecil, sekalipun perlu suntikan modal, biasanya meminjam dari orangtua, menjauhi riba. Harapan kepada pemerintah , agar  dunia usaha/wiraswasta di Indonesia bisa tumbuh, beri ruang dan dibantu dalam memasarkan produk. Seperti pameran-pameran gratis, dihubungkan dengan pelaku bisnis perhotelan, restoran, cafe untuk menggunakan produk rumahan”, pungkas penggemar warna ungu itu kepada BB. ( E-018)***