Para Babi dari Neraka Terseret ke Pengadilan Musik

32

Pada awalnya, berangkat dari nama “babi” sebagai binatang . Paradigma ini dianggap menarik dan sejalan dengan Down For Life, karena tidak sedikit orang yang menyukai musik Down For Life, tapi di  juga mungkin dibenci karena kebisingannya.

Meski begitu, dinamika dalam sebuah band tidak bisa dielak. Down For Life yang dibentuk pada  awal tahun 2000 pun sempat mengalami beberapa kali perubahan personil karena berbagai alasan. Adjie dan Jojo menjadi dua personil yang bertahan, hal tersebut, tak menjadi halangan untuk Down For Life tetap berkarya. Dengan formasi termutakhir kali ini, yaitu Adjie (vokal), Jojo (bass), Rio (gitar), Isa (gitar) dan Latief (drum), mereka menjadi salah satu band “keras” yang  diperhitungkan di tanah air.

 

Hampir dua deka de berada di ranah musik independen, Down For Life sudah merilis dua buah album penuh bertitel Simponi Kebisingan Babi Neraka (2007/Belukar Records) dan Himne Perang Akhir Pekan (2013/Sepsis Records).  Karya-karyanya itu mendapat respon yang positif, terbukti dari terpilihnya album mereka dalam jajaran album terbaik versi beberapa majalah besar tanah air. Selain dari media, mereka juga mendapat apresiasi luar biasa dari  Pasukan Babi Neraka sapaan bagi penggemarnya.

Atas segala kerja keras dan pencapaian Down For Life, terutama berkaitan dengan keberangkatan mereka ke Jerman pada 1 Agustus 2018 lalu untuk mewakili Indonesia ke panggung perdana di Eropa, yaitu Wacken Open Air 2018, salah satu festival heavy metal terbesar di dunia, dan Pengadilan Musik DCDC episode 25 ini merasa bahwa mereka perlu untuk dipanggil ke persidangan serta harus mampu membuktikan bahwa mereka memang layak disebut sebagai salah satu band Indonesia “paling berbahaya” dihadapan hakim, Man (Jasad), dua jaksa penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq. Di sisi yang meringankan, Down For Life  dibantu oleh dua orang pembela, yaitu Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Jalannya persidangan pada Jum’at malam pertengahan September 2018 di Kantin Nasion The Panas Dalam Jalan Ambon  dipandu oleh panitera, yakni Eddi Brokoli. Dalam kesempatan tersebut Agus Danny Hartono selaku perwakilan DCDC menyampaikan bahwa ini merupakan pengadilan musik yang ke-25 dan secara schedule ini sudah dilakukan selama 25 bulan pengadilan musik.

” Alhamdulillah banyak  yang  waitinglist  menjadi  terdakwa, jadi sesuatu yang baru juga di Indonesia, sementara di pengadilan asli tidak mau menjadi terdakwa,tapi di pengadilan musik , banyak yang ingin jadi terdakwa,”ucap Agus seraya menambahkan, kenapa grup Down For Life jadi terdakwa, karena mereka merupakan utusan  DCDC Wacken Metal Battle di Jerman. Mereka berangkat pada tanggal 30 Juli  pulang 9 Agustus 2018. Mereka perform melawan utusan 31 negara di Jerman, Alhamdulillah masuk 15 besar sementara juaranya dari China.

Jadi kenapa Down For Life jadi terdakwa persidangan musik, karena ini adalah program maintenance dari DCDC sebagai bentuk komitmen terhadap perkembangan indiemovement di Indonesia. Band ini juara di WMBI, mampu menyisihkan 248 kontestan , hingga bisa diberangkatkan ke Jerman. Agus Danny berharap,  buat pecinta musik,  nikmati Pengadilan Musik dan ambil sisi positifnya, setiap obrolan pada persidangan dan intinya  adalah memberikan suatu suguhan yang berbeda dengan yang lain. ” Kami  memberikan edukasi meskipun packagingnya berupa obrolan ,” tambah Agus . (E-009) ***