Gendang Buatan Nanang Tembus Pasar Mancanegara

43

BISNIS BANDUNG – Alat musik tradisional jenis gendang yang dibuat perajin asal Kabupaten Sumedang,  tidak hanya laku dijual ke sejumlah daerah di Indonesia, namun juga bisa menembus pasar internasional seperti Jerman, Italia dan Korea.

Nanang ( 48) , perajin gendang wargal RT 3 RW 10 Dusun Nyalindung, Desa/Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang mulai menekuni usahanya menjadi perajin gendang  setelah dirinya berhenti bekerja dari salah satu pabrik tekstil dan memutuskan untuk berwiraswasta sebagai perajin gendang. Dari hasil kerja keras dan keuletannya yang terus menerus selama beberapa tahun bersama dua anaknya, gendang buatan Nanang  mulai dikenal di pasar lokal, bahkan mancanegara.

Setiap hari , Nanang bersama kedua anaknya, Nana Suryana (29) dan Teri Anggriana (28) membuat gendang pesanan dari beberapa distributor dari beberapa kota, antara lain Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kota Bandung, Indramayu, Cirebon, dan Tasikmalaya,dari mereka juga  gendang  yang diproduksi Nanang bisa sampai ke luar negeri.

“Pesanan tersebut bervariasi,ada yang pesen gendang dengan harga Rp 500.000 – Rp 800.000 dan perangkat untuk gendang penca seharga Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta dengan berbagai motif dan ukuran sesuai yang dipesan oleh pembeli,” kata Nanang,saat ditemui di bengkel gendang miliknya, di Dusun Nyalindung, Kec Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Senin (15/10/2018). Menurut Nanang, bahan baku kayu diperoleh dari  Sumedang dan Tasikmalaya. “Kalau bahan baku kulit kerbaunya saya peroleh dari kota Cirebon.” kata Nanang.

Kualitas gendang buatan milik Nanang berbeda dengan gendang yang diproduksi oleh perajin gendang lainnya.Mulai dari kualitas suara, dan bentuknya yang berbeda, karena gendangnya ada yang berbeda dari bobokan bagian dalamnya,

” Bobokan dalamnya berbeda dengan yang lain, ” tutur Nanang menjelaskan. Satu set gendang buatannya yang dijual seharga Rp 500.000 hingga Rp 800.000, dalam satu hari ia bisa membuatnya sebanya 3 set.

“Kalau gendang untuk Jaipong dalam satu set terdiri dari dua unit gendang kulanter dan satu unit gendang indung. Kalau gendang penca, satu setnya terdiri dari dua unit gendang indung dan empat unit gendang kulanter, jika bahannya dari pohon mangga harganya Rp 2 juta dan kalau bahannya dari pohon nangka harganya mencapai Rp 3,5 juta.” ucapnya.

Saat ini, lanjut Nanang, ia telah memiliki tiga mesin bubut rakitan, itupun hasil rancangannya sendiri. Sebelumnya saya membuat gendang secara manual, setapi dalam seminggu hanya bisa menyelesaikan satu set gendang, kalau sama mesin sehari bisa  tiga set. “Tahun 2014 saya keluar bekerja, karena saya terinspirasi dari keinginan saya untuk memajukan alat musik Sunda, masa orang jerman ingin belajar seni Sunda seperti alat musik tradisional,kita orang Sundanya ngak mau melestarikan dan menjaga ” ucap Nanang .(E – 010) ***