Saat Peran Manusia ’Digantikan’ Robot di Masa Depan

27

DENPASAR Perkembangan teknologi yang begitu pesat diprediksi oleh sebagian orang akan menggantikan tenaga manusia di perusahaan. Ditambah arus perubahan ekonomi yang begitu pesat, teknologi diyakini akan membuat perusahaan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) massal. Benarkah kekhawatiran itu?

Pada pertemuan The 10th Indonesia Human Resource Summit (IHRS) 2018 hal itu terungkap. Chairman IHRS 2018, Shauqi Gombang Aleyandra mengakui ada beberapa sektor pekerjaan dalam industri yang tergantikan kecanggihan teknologi. Khususnya robot. Hanya saja, kata dia, dari hasil penelitian hingga satu dekade ke depan, paling banyak hanya sekitar 15 persen saja teknologi dapat menggantikan peran manusia.

“Berdasarkan hasil penelitian dari McKinsey Global Institute menyatakan hanya sekitar 5 persen dari total pekerjaan yang ada saat ini yang dapat diotomasikan secara penuh. Bahkan, hingga sepuluh tahun ke depan itu maksimal hanya 15 persen saja,” papar Aleyandra.

Dengan kata lain, Aleyandra melanjutkan, peran manusia sebagai tenaga kerja masih belum dapat tergantikan oleh kecanggihan teknologi. Hanya saja, kemampuan manusia untuk dapat bekerja dan beradaptasi dengan teknologi merupakan hal yang tak bisa dielakkan.

“Tenaga kerja harus didorong untuk meraih puncak prestasinya seperti kreativitas, inovasi dan intuisi. Teknologi tidak dapat menggantikan kinerja manusia, tapi lebih mendorong manusia untuk lebih kreatif, inovatif dan intuitif,” ujarnya.

Ia mengakui belakangan ini, di tengah masifnya perkembangan teknologi yang semakin canggih muncul kekhawatiran teknologi akan menggantikan tenaga manusia dalam bekerja. Aleyandra memahami hal itu. Itu sebabnya pertemuan kali ini mengangkat tema ‘Humanizing Technology in Mananging Tomorrow People’.

“Selama setahun kemarin, trennya ketika membicarakan teknologi yang diingat adalah bagaimana teknologi akan menggantikan manusia. Ada kekhawatiran akan hal itu. Dapat saya sampaikan jika peluang manusia tidak tertutup untuk berkontribusi terhadap masa depan. Kami yakin peran manusia tidak tergantikan,” katanya.

Meski 15 persen tenaga manusia tergantikan oleh teknologi, namun itu pun hanya di sektor industri tertentu saja seperti kilang minyak, pabrik dan lainnya. Untuk kilang minyak di laut lepas misalnya, tidak ada manusia yang mengoperasikannya secara langsung. Semuanya menggunakan kecanggihan teknologi yang dikendalikan manusia dari darat.

Teknologi jangan dianggap sebuah ancaman, melainkan alat bantu bagi manusia meningkatkan kualitas diri dan pekerjaannya.

Sementara itu, Wakil Ketua SKK Migas, Sukandar yang didapuk membuka acara ini menjelaskan, dunia saat ini tengah bersiap menghadapi transformasi besar dalam bisnis industri yakni revolusi ekonomi 4.0.

“Pengunaan teknologi ke depan dalam proses produksi akan semakin meningkat. Ini tantangan yang harus dihadapi. Tetapi, teknologi tidak akan menggantikan manusia. Dia hanya mengubah dari tingkat kemampuan rendah menjadi kemampuan teknologi yang cukup kompleks. Jadi, potensi manusia yang mesti dioptimalkan,” tutur dia.

“Teknologi, otomasi, tetap dibutuhkan. Itu suatu keharusan. Tapi tetap ada programmer dan operatornya. Itu tenaga manusia. Artinya, tetap ada pekerjaan yang tidak tergantikan oleh mesin, oleh teknologi. Tetapi ada juga pekerjaan yang tanpa teknologi tidak bisa jalan,” tambah Sukandar. (C-003)***