Orang dengan Gangguan Jiwa Makin Banyak Berkeliaran

27

ENTAH dari mana asalnya, di kota-kota kecil seperti Dayeygkolot, Banjaran, Baleendah, sampai Majalaya, akhir-akhir ini makin banyak orang sakit jiwa, berkeliaran. Ada yang berjalan dengan pakaian compang-camping, ada pula yang ”menghuni” emper toko, gardu ronda atau  tinggal di selokan kering di tepian jalan. Dilihat dari pakaiannya, ada yang terlihat sudah lama berkeliaran di jalan tapi ada beberapa orang yang berpakaian masih bersih. Berpenampilan seperti layaknya orang sehat tetapi berbicara sendiri atau mengganggu anak-anak.

      Menurut hasil pendataan, ternyata orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Bandung termasuk  terbanyak kedua di Jabar, setelah Majalengka.Sedangkan di seluruh Jabar tercatat ada 7.200 orang. Catatan itu dibuat pada pendataan tahun 2013. Apakah lima tahun kemudian angka itu naik atau turun. Masih akan diteliti. Namum secara kasat mata, ODGJ tampak di mana-mana dalam jumlah yang makin besar.

      Banyaknya ODGJ di Indonesia, khususnya di Jabar, berkaitan erat dengan berbagai hal. Antara lain faktor keturunan, lingkungan yang tidak sehat, perasaan terkucilkan dari keluarga, mendapat tekanan dalam kehidupannya, baik ekonomi maupun sosial.Ada pula yang menderita depresi berat akibat sebuah peristiwa yang terjadi pada diri atau keluarganya. Mimpi, harapan, atau keinginan yang terlalu tinggi dbandingkan kemampuan dirinya

     Masyarakat , khususnya yang memiliki keluarga ODGJ, tidak dapat betrbuat banyak. Mereka tidak punya kemampuan,  harus membawa pasien ke RS, terutama ke RS khusus gangguan jiwa. Agar tidak menjadi gangguan bagi warga, dan menghindari rasa malu,  penderita malah dikurung atau dipasung. Pengobatan secara tradisional, seperti di pesantern dan sebagainya, tidak selalu berhasil.Banyak pula keluarga yang membiarkan penderita gangguan jiwa berkeliaran di tempat umum. Bahkan ada pula keluarga yang sengaja ”membuangnya” ke tempat yang jauh agar penderita tidak bisa pulang.

     Perbatasan Sumedang –Majalengka – Indramayu, merupakan ”segi tiga emas” yang diduga sebagai tempat pembuangan ODGJ dari berbagai kota. Di kawasan tepi hutan itu,cukup banyak ODGJ yang berekliaran. Bisa jadi hal itulah yang menyebabkan Majalengka dinilai sebagai kabupaten yang memiliki ODGJ terbanyak di Jabar. Mereka belum tentu berasal atau penduduk asli Majalengka. Hal ini patut menjadi bahan penelitian bahkan penyelidikan, bukan saja untuk membersihakan nama Majelengka tetapi berkaitan dengan unsur perikamunisaan. Pemerintah berkewajiban mengangkat mereka dari jalanan dan tepi hutan. Mereka patut mendapat perlakuan yang wajar sebagai manusia.

     Negara—sesuai regulasi—wajib menampung, mengobati, kemudian membimbing mereka selepas pengobatan. Mereka harus dikembalikan ke tengah masyarakat setelah benar-benar sembuh dan memiliki keterampilan khusus. Jangan biarkan mereka terus menjadi buangan dalam penderitaan yang berkepanjangan. Keluarganya sudah benar-benar putus asa mengurus dan mengobatinya.  Tindakan menyekap, memasung, dan membuang ODGJ merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara hukum dan perikemanusiaan. Namun keluarga, sebagai rakyat yang berada di persimpangan jalan yang amat dilematis, terpaksa memperlakukan ODGJ seperti itu.

    Artinya aparat pemerintahan terdekat seyogianya secara proaktif, melakukan berbagai upaya menolong, baik ODGJ maupun keluarganya. Merawat dan mengobati ODGJ sama dengan menolong keluragnya keluar dari perangkap dilematis itu. Selain itu, tindakan pemerintah itu juga menyelamatkan masyarakat sekitarnya dari  ”ancaman” ODGJ.  Cukup banyak orang yang menjadi korban perilaku menyimpang para ODGJ, Ada yang dikejar-kejar, dipukul, bahkan dibacok. Pelakunya tidak dapat dihukum karena ia menderita sakit jiwa.

    Para ahli penyakit jiwa, dalam situasi ekonomi, sosial, alam yang tidak bersahabat, dan suhu politik yang makin panas, punya tanggung jawab yang amat berat. Biasanya situasi seperti itu dapat menimbulkan naiknya angka penderita sakit jiwa. Kalah dalam pilkada, pemilu legislatif, calon presiden yang didukungnya juga kalah, bisa saja menimbulkan depresi berat bagi seseoang Biasanya orang yang mengalami depresi seperti itu, ialah orang yang tidak pandai bersyukur. Mereka tidak  mau menerima apa yang  dialaminya sebagai kenyataan, lebih jauhnya sebagai ketentuan yang telah digariskan Yang Mahapenentu. Allah SWT punya skenario yang disimpan-Nya sejak ruh manusia berada bersama-Nya di Loh Mahfudz. Skenario itu sering kali berbeda dengan skenario yang dirancang manusia.

     Sadar akan hal itu pasti akan menyelamatkanm manusia dari stres dan depresi berat. Kita tetap bersyukur sambil berdoa, semoga hati nurani kita dapat menerima semua kehendak-Nya dengan sabar dan tawakal. (Furkon)***