Pertemuan IMF-Bank Dunia

29

Apa Untungnya bagi Indonesia?

PERTEMUAN Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) – Bank Dunia 2018 di Bali berakhir dengan senyum semua peserta. Peserta yang berjumlah 36.619 orang dari seluruh dunia, memang tidak terlalu besar bagi ukuran Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Akan tetapi kali ini yang datang ke Nusa Dua itu bukan turis biasa. Mereka para ekonom dan ahli moneter kelas dunia, selain para saudagar yang menggerakkan bisnis hampir di semua negara di dunia.

     Dalam siutuasi ekonomi nasional yang sedang mengalami ujian, Indonesia harus menjadi tuan rumah pertemuan tahunan itu. Indonesia tridak dapat mengelak karena hal itu sudah terjadwalkan sejak lama.Padahjal Indonesia masih harus menyelesaikan penyelenggaraan Asian Para Games 2018 setelah Asian Games 2018. Ternyata atas ridlo Allah SWT, semua even internasional berskala besar itu usai dengan membanggakan.

     Terlepas dari pujian internasional itu, Indonesia sebagai bangsa dan negara, mendapat apa selain prestasi dan pujian  dari semua even itu? Yang pertama adalah kepercayaan. Indonesia ternyata mampu menjadi tuan rumah yang baik. Kepercayaan itu menjadi modal dalam melakukan berbagai gerakan ekonomi, investasi, dan pariwisata. Dengan penilaian positif itu Indonesia dapat mempersiapkan diri sebagai destinasi wisata dunia. Diharapkan, berbagai pertemuan internasional dengan peserta sebanyak peserta pertamuan IMF_Bank Dunia serta even olah raga, mimpi Indonesia menjadi tujuan utama parwisata dunia akan tercapai. Tentu saja hal itu akan tercapai apabila pemerintah dan masyarakat wisata siap segala-galanya.

     Negara kita, seperti negara tujuan wisata yang lain, harus benar-benar menjadi tuan rumah yang baik, ramah, bersih, terdidik, jujur. Aman, negara harus menjamin, wisatawan yang datang ke Indonesia dapat menikmati semua yang ia suka dengan rasa aman dan nyaman. Kriminalitas dan terorisme dapat terus ditekan.Negara kita merupakan negara demokratis yang terbebas dari hingar bingar politik dan demo massa. Masyarakat kita merupakan masyarakat berbudaya, kesenian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat wisata adalah masyarakat yang memahami seluk beluk turisme.n Di Swedia dan Korea Selatan, demo massa itu ditata menjadi sebuah performa yang sangat menarik bagi masrakat termasuk para turis.Indonesia punya pawai kesenian yang disebut helaran. Alangkah indahnya apabila demo massa tampil bukan dengan kekerasan, perusakan, menghambat laju lalu lintas, tetapi merupakan helaran dengan koreografi yang bernilai seni.

    Indonesia mengeluarkan dana Rp 566 miliar dari Rp 855 miliar dana yang disediakan. Kalau dihitung, dengan ”modal” yang tidak mencapai Rp 1 triliun itu, Indonesia mendapat untung yang signifikan. Dalam kesempatan pertemuan itu, Indonesia mendapat investasi dan berbagai kesepakatan. Salah satu di antaranya, French Development Agency bersepakat berkomitmen  merealisasikan pembangunan berkelanjutan di Indonesia senilai 160 juta dolar AS atau setara Rp 2,4 triliun. Belum lagi beberapa BUMN yang mendapat mitra dalam mengembangkan teknologi keuangan. Dana yang dilelurakan Rp 566 miliar akan tertutup dengan berbagai pengeluaran para peserta pertemuan selama 9 hari di Bali.

      Satu hal yang patut mendapat catatan, inisiatif Indonesia yakni prinsip pengelolaan keuangan syariah mendapat apresiasi para peserta khusunya  prinsip dasar pemanfatan dana sosial wakaf untuk pembiayaan.Prinsip dasar yang berpedoman pada ajaran agama (Islam) itu ternyata dinilai sangat relevan dengan kondisi dan situasi sekarang dan masa depan. Pengelolaan keuangan syariah yang digagas Indonesia itu akan melepaskan dunia dari unsur riba. Sejahtera tanpa riba sedikit demi sedikit akan menjadi pedoman dasar pengelolaan keuangan dunia.

      Terlepas kepentingan politik menjelang Pilleg dan Pilpres 2019, Indonesia dapat memetik manfaat besar dari penyelenggaraan Asian Games, Para Games, dan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia, bahkan dari pertemuan Negara-negara G-20 yang waktunya bersamaan dengan Pertemuan IMF-Banjk Dunia itu. Kita harus mampu memelihara kepercayaan dunia. Dalam dunia perdagangan, kepercayaan atau trans itu merupakan unsur sangat penting. Kepercayaan merupakan buldoser dalam membersihan segala hambatan.

     Sebagai pemilik bela diri pencak silat, bangsa Indonesia paham benar, jurus apa yang digunakan ketika menghadapi pukulan lawan yang sangat dahsyat. Pesilat tidak akan melawan tenaga besar itu dengan tenaga lagi. Kita lemah dibanding mereka.  Namun kita justru harus mampu memanfaatkan pukulan lawan itu dengn gerakan sangat halus. Pukulan lawan itu hanya akan menerpa angin. Kita tidak terkena pukulan itu. Kita tidak akan terdampak parah menghadapi dua kekuatan ekonomi sangat besar yang sedang bertanding.

     Dengan kepercayaan sangat besar dari semua negara, kita harus yakin, kita mampu bangkit. Namun kita harus berihtiar. Sebatas ihtiar.  Hasilnya bukan kita yang menentukan. Artinya keberhasilan yang telah kita capai bukan semata-mata karena kerja keras kita tetapi jelas merupakan ketentuan Mahapengatur. Manusia tidak boleh tekebur, sombong, kita mampu, kitalah yang menentukan, sanggup dan yakin mampu. Di hadapan-Nya kita amat kecil.     Mari kita rendahkan hati kita  di hadapan Tuhan Yang Mahatinggi. Bukan malah merendahkan dan menyepelekan orang lain. (May)***