Rekayasa Cuaca Hujan pun Mulai Turun

29

–     Rekayasa cuaca harus dilakukan dengan hati-hati.

Bagaimanapun, “hujan buatan” itu merupakan upaya

memanen bulir-bulir hujan di awan sebelum waktunya.

MATAHARI serasa makin dekat ke Bumi. Udara sangat panas bahkan terasa menyengat terutama bagi orang Bandung dan sekitarnya. Biasanya mereka berada di lingkungan yang memiliki cuaca sejuk, tiba-tiba dihadapkan dengan cuaca ekstrem. Panas luar biasa. ”Hari tanpa bayangan” benar-benar menjadi bukti, matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Bagi orang kota perubahan cuaca yang ekstrem itu tidak menjadi masalah benar. Mereka berdiam di rumah ber-AC, bekerja di ruangan yang serba sejuk pula. Namun bagi petani dan warga biasa, musim kemarau tahun ini sungguh ”menyiksa”. Udara sangat panas, susah air.  Sumur, kali, sawah, dan danau, mengering.

   Di Jabar, terdapat 13.924 ha yang mengalami kekeringan di antaranya 833 ha persawahan yang puso. Dari 19 kabupaten, Indramayu yang mengalami kekeringan terparah. Persawahan yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau panjang tahun ini  tercatat 2.325 ha sawah Dari persawahan seluas itu ada 372 ha mengalami puso. Meskipun tidak separah beberapa daerah di Jateng dan Jatim, musim kemarau tahun ini mengakibatkan wilayah Jabar mengalami kekurangan air. Banyak embung dan sumur gali yang kering bahkan air di Danau Saguling, Cirata, Jatiluhur, Jatigede, Rentang, dan Darma, mengelami penyusutan yang berdampak pada melemahnya sumber tenaga listrik. Sumber air baku di Pangalengan, Dago, dan Lembang, semakin mengkhawatirkan.

    Masyarakat perkotaan juga sudah mulai banyak yang antre air akibat sumur mereka kering. Jangankan untuk mandi dan mencuci, untuk minum dan memasak saja,. mereka harus membeli air galon isi ulang. Seharusnya wilayah Kota Bandung tidak mengalami kekeringan. Warga di bawah komando Walikota Bandung Ridwan Kamil pernah membuat satu juta lubang biopori. Sudah terasakah dampaknya? Harus ada penelitian yang mendalam. Yang penting, warga sekarang tengah mengalami kekurangan air apalagi warga di daerah persawahan. Karena itu pemerinah Provinsi Jawa Barat berencana melakukan rekayasa cuaca.

     Upaya mempercepat turunnya hujan dengan rekayasa awan, sudah biasa dilakukan di Indonesia. Gubernur Jabar, Ridswan Kamil, meminta agar ”hujan buatan” dilakukan di daerah  aliran sungai untuk mengairi semua waduk, terutama di daerah yang mengalami kekeringan sangat parah. Indonesdia punya pengalaman dalam merekayasa awan tersebut bahkan ada beberapa negara di Asia dan Afrika ”berguru” kepada Indonesia. Kita berharap, pelaksanaan hujan buatan hendaknya dilakukan dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Bagaimanapun rekayasa cuaca itu sama dengan memanen bibit hujan sebelum waktunya. Dikhawatirkan terjadi anomali cuaca kalau tidak dilakukan dengan perencanaan dan penelitian matang.

     Secara spiritual, di Bandung dan beberapa daerah telah dilakukan salat istisko. Salat sunah berjamaah di Kota Bandung dilakukan di Plaza Balaikota, Senin lalu. Salat permohonan hujan segera diturunkan itu merupakan bentuk berserah diri kepada Yang Mahakuasa. Tentu saja permohonan itu tidak cukup tanpa didahului dengan usaha. Kita sudah dan sedang melakukan upaya, antara lain pembuatan embung, sumur gali, dan biopori. Semuanya merupakan upaya menabung air dalam tanah.Upaya yang langsung berkaitan dengan hujan, kita tengah melakukan rekayasa cuaca.

     Semoga usaha dan doa kita berhasil baik. Tanda-tanda turun hujuan sudah tampak. Kita menantikannya dengan sabar. Pemerintah dan warga juga harus sudah siap menghadapi musim hujan. Saluran air, gorong-gorong, dan sebagainya harus sudah bersih dari sampah dan sedimen. Tanpa persiapan, kita akan terdampak musim hujan, babjir, air sungai meluap, banjirbandang akan kita alami lagi setiap kali musim hujan. Siapkah kita? Jangan sampai, musim hujan yang kita dambakan itu justru menimbulkan bencana yang jauh lebih parah dibandingkan bencana kekeringan. Maasyarakat yang tinggal di cekungan Bandung atau Badung Selatan dan beberapa kawasan di Kota Bandung mulai khawatitr. Musim hujan justru musim datangnya bencana banjir.

     Pada musim kering kita cemas. Masyarakat yang tinggal di Baleensdah, Dayueuhkolot, dan Bojongsoang harus siap mengungsi. ***