Komunitas Hong Melestarikan Tradisi Melalui Alat Permainan Tradisional

51

        Komunitas Hong digagas tahun 2005 oleh Mohammad Zaini Alif.  Nama Komunitas Hong sendiri berasal dari kata ‘Hong’ yang artinya bertemu. Ucapan ‘Hong’ itu sendiri merupakan ungkapan dalam permainan ucing-ucingan atau petak umpet dalam tradisi masyarakat Sunda. Pendirian Komunitas Hong  berawal dari kesadaran Kang Zaini tentang semakin tergerusnya permainan-permainan tradisional. Dari situ muncul ide untuk bagaimana cara menginventarisir dan menyosialisasikannya. Kemudian didirikanlah sebuah komunitas untuk menyosialisasikan nilai-nilai permainan.

          Permainan tradisional banyak  memberi nilai manfaat di dalamnya , mulai dari unsur hiburan, olah raga, kebersamaan, mencintai alam hingga kecerdasan berpikir dan strategi. Sedikitnya ada 240 jenis permainan tradisional di seluruh wilayah Jawa Barat. Seperti , perepet jengkol, egrang, congklak, ngadu kaleci (kelereng), boy-boyan dan lainnya.Permainan tradisional di komunitas ini rupanya tak hanya berasal dari wilayah Jawa Barat saja, tetapi juga dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang jumlahnya sekitar 213 jenis permainan serta dari Lampung, jumlahnya 50 permainan. Jika dikalkulasikan jumlahnya ada sekitar 2.500 jenis permainan dari seluruh Indonesia.

       Beberapa waktu lalu, tokoh pecinta budaya dan lingkungan, Aang Hamid Suganda melakukan kunjungan ke komunitas Hong. Dalam kunjungan tersebut, ia menemui pendiri komunitas Hong, Kang Zaini. Berbagai hal menarik diperlihatkan oleh Kang Zaini, mulai dari aneka alat  permainan tradisional yang dikumpulkan dari wilayah Jawa Barat serta daerah lainnya di Indonesia. Kang Zaini mengajak melakukan berbagai permainan tradisional yang sudah jarang sekali dilakukan dan ditemukan saat ini.

           Sejak tahun 2005 komunitas Hong giat mensosialisasikan aneka permainan  serta alat mainan tradisional. Di kawasan bukit pakar kerap kali digelar berbagai kegiatan memainkan permainan tradisional serta alat mainan tradisional.Para pengunjung diharuskan melakukan pemesanan tempat terlebih dahulu,hal ini dikarenakan daya tampung kawasan komunitas Hong yang terbatas. Selain melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan mainan  dan permainan tradisional, para pengunjung bisa melihat dua buah leuit atau tempat menyimpan padi tradisional masyarakat Sunda. Di tempat ini kita bisa mencicipi aneka kuliner khas Sunda.

           Dalam permainan tradisional ada tiga konsep yang akan dirasakan. Pertama, dalam hal mengenal diri, misal ketika melempar atau menendang bola akan terasa bagaimana pergerakan tangan dan kaki. Kedua, pengenalan alam dan budaya. Contoh bermain layangan yang memanfaatkan tiupan angin. Daun atau batu jadi permainan, tanah untuk main gunung-gunungan atau gelinding pasir. Terakhir konsep mengenal Tuhan. Setelah fase kagum dengan diri dan alam terpenuhi, dengan tak sadar akan mencari konsep itu. (E-003) ***