Kuda Lumping Simbol Perlawanan Pasukan Berkuda Diponegoro kepada Belanda

38

Kesenian tari kuda lumping merupakan sebuah seni tari yang dipentaskan dengan menggunakan peralatan berupa kuda tiruan yang terbuat  dari anyaman bambu. Dilihat dari ritmisnya tarian kuda lumping ini seperti  merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran jaman dulu ,yaitu sebuah pasukan kavaleri berkuda.Ini bisa dilihat dari gerakan seni tari kuda lumping yang dinamis,ritmis dan agresif,layaknya gerakan pasukan berkuda ditengah medan peperangan.

Asal mula seni tari kuda lumping, banyak diyakini merupakan sebuah bentuk dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponogoro saat menghadapai penjajah Belanda. Dalam versi lain menyebutkan bahwa asal muasal kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan Bangsa Belanda yang menjajah tanah air. Versi lain juga menyebutkan bahwa tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin oleh sultan Hamengku Buwono I, raja mataram untuk menghadapi pasukan tentara Belanda.

Sejarah lain menyebutkan, bahwa asal usul kuda lumping diawali pada jaman dahulu konon di tanah jawa hidup seorang raja yang sakti  Mandaraguna yang banyak mendengar kisah kepahlawanan Mahabarata. Raja tersebut sangat kagum akan kisah perang Bhatarayuda di Kurusetra yang diturunkan oleh para Brahmana dan kstaria istana. Sang raja sangat yakin bahwa perang Bhatarayudha akan berulang di tanah Jawa.

Ia sangat tertarik dengan tentara berkudadan Arjuna dengan kerata kudanya yang gambarnya diperlihatkan oleh buyutnya dari tanah Alengka, karena ia sesungguhnya adalah keturunan pelarian Hindu Tamil dari tanah Srilangka . Eyang buyut raja kemudian melarikan diri ke Jawa Dwipa dan mendirikan kerajaan serta memakai gelar Aria yang notabene adalah nama sebuah etnis  terkemuka di India. Akan tetapi pengakuan sebagai suku Aria bertolak belakang dengan warna kulit berbeda dengan suku Aria.

Sampai pada suatu saat raja disertai hulu balang dan pengawalnya  naik ke perahu saudagar dari Persia, dikarenakan Raja Jawa tidak memiliki perahu dan buta akan ilmu pelayaran, ia kagum akan bangunan arsitektur Persia yang indah dan megah,  juga terpana dengan gagahnya tentara berkuda yang memiliki tubuh yang kekar, kuda-kuda yang besar, barisan kuda yang teratur sertta derap suara langkah kuda yang bergemuruh. Kenyataan yang dilihatnya secara langsung lebih menambah kekaguman dibandingkan dengan gambar yang dibwa saudagar padanya. Raja memuji dan memimpikan bahwa jikalau dia dapat memiliki tentara berkuda seperti itu tentu saja dia akan menjadi raja yang terkuat di tanah Jawa, dan raja-raja disekiranya akan bertekuk lutut.

Raja dengan segala keinginanya berniat membawa kuda-kuda tersebut beserta prajuritnya sekaligus, walupun tidak akan cukup perahu yang akan mengangkutnya, akan tetapi Raja sangat berkeinginan kuat, sehingga hanya kudanya saja yang dia bawa, akan tetapi suatu hal terjadi dimana dalam perjalannanya mereka menemui badai yang sangat dasyat sehingga semua pasukan dan perahu penggkutpun ikut tenggelam, hanya karena keberuntungan sang Raja selamat dari segala musibah. Beliau kemudian membuat syukuran pada Dewata yang telah melindunginyadan menyesalkan keinginananya tentang pasukan berkuda yang belum tercapai.

Kemudian sang Raja memohon petujuk Dewata dan bertapa di gua, suatu saat Dewata mengabulkan keinginanya tersebut dengan syarat beliau harus membuat kuda dari bahan gedek bambu dan injuk agar dapat ditunggani laskar yang akan menjadi kuda. Sebelum jalan kuda-kuda tersebut diberikan mantra-mantra terlebih dahulu agar mau makan rumput dan beling, sang raja gembira keinginanya terwujud, dari sanalah kemudian asal  nama kuda lumping .

Kesenian kuda lumping populer di masyarakat daerah Jawa Barat , Jawa Timur, seperti Blitar, Malang, Tulung Agung dan sekitarnya. Tari kuda lumping biasanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti penyambutan tamu kehormatan, khitanan , juga acara-acara syukuran atas doa yang dikabulkan oleh Yang Maha kuasa.  Kuda lumping sering kali dikaitkan dengan makhluk halus dalam atraksi atraksi supranatural yang berbau magis. Contohnya makan kaca,makan bara api,berjalan diatas pecahan beling dan bara api,mengangkat benda berat,disayat pisau,dibacok  dengan golok sampai menari dalam keadaan kesurupan.  Sebab hal itu, walaupun dianggap sebagai permainan rakyat, kuda lumping tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang, tetapi harus di bawah petunjuk dan pengawasan sang pimpinannya. (B-003/BBS) ***