Lebih dari Seratus Garmen Pindah ke Jateng

46

SEPERTI dikahawatirkan sejak lama, gejolak buruh yang menuntut kenaikan upah sampai 25%, membuat para pengusaha ketar-ketir. Mereka merasa tidak akan mampu melanjutkan usahanya karena tidak mampu membayar tenaga kerja. Kekhawatiran itu dirasakan para pengusaha industri garmen. Industri garmen merupakan perusahaan yang bersifat padat karya. Di antara semua industri, perusahaan garmen merupakan industri yang memiliki buruh paling banyak.

    Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Ade Sudrajat (PR 24/10)  mengatakan, lebih dari 100, tepatnya 120 industri garmen Jawa Barat melakukan relokasi atau pindah dari Jabar ke Jawa Tengah. Alasan utamanya, perbedaan upah buruh yang sangat jauh. Upah buruh di Jabar sampai dua kali lipat upah buruh di Jateng. Buruh di Jateng, telatif tidak pernah bergejolak. Akibatynya, 30 persen tenaga kerja di Jabar kehilangan pekerjaannya. Kini hanya sekira 400 industri garmen yang masih bertahan di Jabar

    Menurut Ade, jumlah tenaga kerja di industri garmen di Jabar pernah mencapai angka 1,2 juta orang. Kini yang masih bekerja hanya sekira 800.000 orang. Itu pun berada dalam bayang-bayang relokasi. Industri garmen di Jabar sudah sejak tahun 2012 melakukan relokasi, baik ke Jateng, Jatim, maupun ke luar negeri. Alasannya sama, karena upah buruh di Jabar yang sangat tinggi dibanding dengan daerah lain. Salah seorang pimpinan sebuah inustri garmen menyebutkan, upah buruh di Jabar dari tahun 2012 ke 2013 naik 40%. Dari 2013 ke 2014 juga naik 40%.Dampaknya, ia memutuskan merelokasi garmennya ke Jateng.

     Sampai sekarang, industri garmen merupakan industri padat karya yang mampu menyerap tenaga cukup banyak. Satu industri dapat menyerap tenaga kerja di atas 3.000 orang. Berbagai mesin pada industri itu masih butuh operator berupa tenaga manusia. Dalam waktu dekat, didorong revolusi industri jilid 4 (0.4), industri garmen pun berusaha mengganti tenaga manusia dengan tenaga mesin (robotik) bukan tidak mungkin garmen pun akan mutasi dari padat karya ke padat modal dan teknologi.

     Menurut Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jabar, Roy Jinto, banyaknya industri garmen yang tutup hendaknya jangan menggeneralisasi masalah. Jangan sampai ketidak-mampuan perusahaan dijadikan pelaku usaha melanggar peraturan. Kenaikan upah yang ditetapkan pemerintah 8,03%, menurut Roy, menyalahi undang-undang. Dalam aturan kenaikan upah itu, pemerintah tidak mempehitungkan produktivitas dan kebutuhan hidup layak (KHL).

     Serikat pekerja tetap meminta pemerintah menetapkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 25%.  Masih menurut Roy, kalaupun ada industri garmen yang tidak mampu membayar upah buruh setelah kenaikan, ia meminta agar pengusaha mengajukan surat keberatan dan menunda pembayaran upah. Sisanya dibayarkan kemudian. Serikat pekerja menilai, masih banyak industri yang mampu membayar buruhnya sesuai dengan permintaan kaum pekerja. Ancaman reklokasi, akan selalu dilontarkan para pengusaha yang tidak mau memenuhi tuntutan para pekerja.

      Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Dedy Widjaja mengatakan, kenaikan upah sampai 25% sangat memberatkan  Apalagi bagi industri garmen yang mengalami tekanan harga bahan baku impor yang sangat tinggi. Kenaikan upah 25% menjadi beban sangat berat.. ”Sekarang industri garmen hanya punya dua opsi, tutup atau relokasi,” kata Dedy.

      Tutup atau relokasi punya dampak ekonomi negatif bagi pertumbuhan ekonomi Jabar. Begitu pula angka pengangguran akan terus naik. Menurut Dedy, di Purwakarta sudah ada dua industri garmen yang berhenti berproduksi karena tidak sanggup lagi menanggung beban. Total pekerjanya mencapai 4.000 orang.

      Artinya tutup atau relokasi garmen berpengaruh besar terhadap naiknya angka pengangguran. Ribuan mantan pekerja garmen menjadi penganggur. Lalu kapan pengusaha dan pekerja menjadi satu kesatuan harmonis menuju satu tujuan, menjadikan Jabar sebagai provinsi terkemuka dalam industri. Hal itu membutuhkan sikap toleran dan komitmen antara buruh dan pengusaha. ***