Indra : Berharap , Gas Tidak Naik Penjualan Pupuk Lokal Turun

22

BISNIS BANDUNG – Kepala Bagian Hubungan Eksternal PT Pupuk Kujang, Indra Gunawan, S.Kom, M.I.Kom mengemukakan, terdampak  kemarau panjang , penjualan pupuk bersubsidi dan non subsidi di Jabar-Banten pada triwulan ketiga mengalami penurunan.

Menurut Indra , pada tahun 2018 penjualan pupuk jenis urea meningkat 1,54%, pupuk NPK turun 6,52% dan pupuk organik meningkat 33,13%. Sedangkan penjualan pupuk non subsidi turun 8,36%. ”Hal ini disebabkan persaingan harga pasar dengan produk pupuk impor yang dijual lebih murah dibanding harga pupuk dalam negeri.

Pada bulan Oktober biasanya sudah mulai musim penghujan, sehingga petani sudah bisa mulai melakukan tanam padi yang diharapkan penyerapan terhadap pupuk akan lebih optimal,” ujar Indra seraya menambahkan , penjualan pada triwulan pertama dan kedua relatif stabil.

 Penjualan pupuk bersubsidi, lanjut Indra , biasanya meningkat pada awal musim tanam (MT). MT 1 peningkatan permintaan pupuk terjadi pada bulan April sampai Juni. Untuk MT 2 peningkatan permintaan pupuk terjadi pada bulan November sampai Januari. Penjualan atau permintaan akan menurun sesuai periode tanam manakala terjadi kekeringan panjang (ekstrim) dan adanya wabah penyakit tanaman.

Saat ini stok jelang MT2 (Oktober 2018 – Maret 2019) jelang musim tanam kedua, stok urea Jawa Barat – Banten mencapai 125.000 ton, pupuk NPK 49.000 ton dan pupuk organik  10.300 ton. Dijelaskan Indra  , saat ini stok pupuk cukup banyak karena sebagian besar wilayah belum mulai tanam karena belum ada hujan, kecuali wilayah yang masuk kedalam area irigasi teknis. “Dengan stok yang melimpah , kebutuhan akan terpenuhi saat ada  lonjakan permintaan,” tutur Indra, baru-baru ini .

Daerah Tertinggi

Indra menyebut , Kabupaten Indramayu, Karawang dan Subang merupakan daerah dengan permintaan pupuk cukup tinggi. Sedangkan wilayah terendah adalah Kabupaten Purwakarta, Lebak dan Pangandaran.

Untuk memenuhi kebutuhan di lapangan dilakukan minimal stok , mulai dari gudang lini III produsen, gudang distributor sampai gudang kios/pengecer. Sesuai dengan peraturan yang ditetapkan dalam perundangan, stok yang harus tersimpan di gudang lini III produsen , harus tersimpan sebanyak kebutuhan tiga minggu ke depan, stok di gudang distributor harus tersimpan sebanyak dua minggu kedepan dan stok di kios/pengecer harus ada untyuk satu minggu kedepan.

Mengenai harga pupuk bersubsidi , menurut Indra, walau banyak permintaan, namun harganya sudah ditetapkan pemerintah berdasar HET (harga eceran tertinggi). Harga urea sebesar Rp 1.800/kg, NPK Rp. 2.300/kg dan pupuk organik Rp 500/kg dan tahun 2018 ini belum ada kenaikan HET dari pemerintah.     Pupuk Kujang ,selain memantau harga dan pendustribusian, untuk menjaga kualitas produk, secara periodik melakukan quality control (QC) . Untuk pupuk urea, selama penyimpanan baik dan kondisi karung tidak rusak/bocor, pupuk masih dapat digunakan dalam jangka waktu cukup lama.

Selain itu , ujar Indra , pengawasan secara konsisten terus dilakukan, mulai dari unit pengantongan, penimbangan, pendistribusian sampai ke tangan petani/konsumen. Dalam hal pengawasan tidak  hanya dilakukan oleh produsen, karena dalam pengawasan,  perusahaan bekerjasama dengan Polda Jabar serta pihak terkait , seperti Dinas Pertanian di setiap wilayah.

        Untuk penjualan pupuk bersubsidi pada tahun 2018 diharapkan bisa meningkat sekitar 6% dari tahun 2017. Sedangkan untuk pupuk non subsidi dapat meningkat 10%  dari tahun sebelumnya. “Harapan produsen pupuk , ketersedian/penjualan/pendistribusian pupuk pada tahun politik , agar harga bahan baku pembuatan pupuk, terutama gas alam tidak mengalami kenaikan, dengan demikian stabilitas harga produksi bisa terjaga,” ungkap Indra. (E-018)***