Anak Bangsa Sukses Ciptakan Bisnis Marketplace di Indonesia

27

INDONESIA merupakan pasar bagi berbagai macam perangkat mobile seperti smartphone dan tablet. Pengguna internet semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah perangkat mobile yang digunakan.

Besarnya jumlah pengguna perangkat mobile yang didukung dengan internet yang cepat, maka memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi berbasiskan data hingga menjual barang-barang secara online.

Melihat potensi adanya peluang membangun startup dan juga bertujuan membantu orang berjualan secara online, membuat 3 orang anak muda Indonesia, Fajrin Rasyid, Achmad Zaky dan Nugroho Herucahyono menciptakan marketplace yang kini dikenal dengan nama Bukalapak.

Fajrin Rasyid, co-founder sekaligus Presiden Bukalapak menceritakan perjalanan dalam mengembangkan Bukalapak. “Waktu itu kita belum lama lulus dari kampus. Baru 1 atau 2 tahun lulus dari kampus. Melihat bahwa ada ide seperti ini, yang mungkin belum ada di Indonesia pada saat itu,” kata Fajrin.

Pada 2010, melihat e-commerce ketika itu sudah muncul di luar negeri, membuat Fajrin dan kawan-kawan terinspirasi untuk membangun startup. “Jadi kita pikir kenapa kita enggak membuat, semacam itu, terinspirasi dari mereka dengan konteks indonesia,” katanya.

Fajrin mengatakan, konsep e-commerce yang diusung disesuaikan dengan konteks di Indonesia. “Enggak sama persis seperti di Amerika Serikat, karena di Amerika Serikat kebanyakan e-commerce menyasar pebisnis besar, sedangkan di Indonesia, dengan ekonomi yang banyak sekali didorong oleh segmen UKM, kami bangun e-commerce menitikberatkan pada UKM itu juga,” jelasnya.

Bertahan di Tengah Gempuran Persaingan E-Commerce

Hal yang perlu diperhatikan agar startup tetap tumbuh ialah mengetahui apa yang menjadi unsur penting di dalam menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Dalam hal ini, e-commerce, sehingga yang perlu dijaga ialah pelanggan.

“Jadi, sama seperti bisnis pada umumnya dan ini juga mungkin bisa jadi pelajaran untuk anak muda sekarang yang ingin bangun bisnis, jangan membangun bisnis karena ikut-ikutan, karena membangun bisnis itu tidak mudah. Mungkin orang sering ngeliat, kisah sukses pebisnis gitu ya, tapi jangan lupa sebenarnya di balik kisah sukses itu banyak sekali kisah gagal,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, seperti bisnis pada umumnya, di Bukalapak pihaknya berusaha semaksimal mungkin untuk mendengarkan para pelanggan. “Jadi, titik berat bisnis apapun itu, termasuk e-commerce, bagaimana kita bisa melayani pelanggan kita sebaik-baiknya,” tambahnya.

Menurutnya, menggeluti dunia teknologi atau digital memberikan keuntungan dalam hal pemecahan masalah. Adanya teknologi memungkinkan perusahaan memiliki basis big data yang kuat, sehingga banyak masalah atau tantangan dalam mengembangkan startup itu bisa dicari solusinya dengan melihat data.

Fajrin mengungkapkan bahwa saat ini Bukalapak sudah memiliki sekira 4 juta pelapak dengan transaksi yang telah di-publish sekira 2 atau 3 bulan lalu, yakni sekira Rp4 triliun per bulan.

Agar terus bertahan di dalam bisnis e-commerce, perusahaan sadar bahwa diperlukan inovasi yang membedakan dengan e-commerce lain. Fajrin mengatakan bahwa saat ini Bukalapak tengah merambah warung-warung offline.

“Melalui program yang kita sebut mitra Bukalapak, dengan program ini kita membantu mengembangkan kalau sebelumnya hanya UKM online, sekarang UKM offline khususnya pemilik warung, sehingga mereka lebih terbantu juga dengan teknologi,” terangnya.

Ke depan, ia melanjutkan, Bukalapak boleh dibilang tidak hanya perusahaan e-commerce atau perusahaan online, tetapi Bukalapak adalah perusahaan teknologi, entah itu online maupun offline.

“Sudah berjalan. Kita sudah bekerjasama dengan 300 ribu warung yang tersebar di Indonesia,” imbuhnya.

Saran untuk Generasi Muda

Fajrin Rasyid, pria lulusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan IPK 4.0 ini menilai bahwa startup sudah sangat populer di kalangan anak muda.

“Bahkan rasanya, enggak keren, kalau enggak buat startup. Dari satu sisi, ini sesuatu yang bgs, banyak anak muda ingin mengembangkan startup, sisi lain saya ada sedikit kekhawatiran, jangan-jangan sebagian yang ‘hype’, yang saya bilang, ingin menjadi startup gara-gara ingin cepat sukses,” tuturnya.

Dalam rangka semangat Hari Sumpah Pemuda, Fajrin menyarankan anak-anak muda yang ingin mengembangkan startup, maka lakukan dengan visi atau niat yang baik untuk memecahkan suatu masalah atau melahirkan solusi, bukan karena ikut-ikutan.

“Karena jika niatnya seperti itu, insya Allah ketika menemukan tantangan atau masalah, lebih mudah untuk menemukan solusinya, karena dia memiliki visi yang kuat sehingga tidak mudah menyerah,” ujarnya.

Nilai-nilai Sumpah Pemuda harus dapat diterapkan di dalam kehidupan generasi muda saat ini, yakni semangat persatuan melalui pemanfaatan teknologi.

Bos Bukalapak ini mengatakan bahwa semakin majunya teknologi, seharusnya dapat mempererat semangat kebangsaan.

“Kalau zaman dulu sekali 1928, para leluhur kita dengan segala keterbatasannya saja bisa mengikrarkan diri, semestinya dengan semakin majunya teknologi, semakin mudahnya terhubung satu sama lain, semakin mudah kita berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai pulau atau suku lain, mestinya itu lebih mempererat semangat kebangsaan kita,” jelasnya.

Bukan malah sebaliknya, yang dikhawatirkan justru memanfaatkan teknologi tetapi malah membuat perpecahan atau termakan berita hoax. “Mudah-mudahan tidak seperti itu. Teknologi ini justru membuat kita lebih mengenal satu sama lain,” pungkasnya.

(C-003/AHL)***