Pasar Mobil 3000 CC Lesu, Tertekan Nilai Dolar dan Kenaikan PPh

23

Pasar mobil mewah pada semester akhir 2018 mengalami kelesuan. Beberapa faktornya, antara lain karena menguatnya kurs dolar terhadap dolar dan kenaikan Pajak Penghasilan (PPh) kategori barang mewah, dari 7,5 % menjadi 10 %.

Faktor lainnya diprediksi karena penahanan sementara Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) jenis kendaraan mewah oleh Kementerian Perindustrian.

Presiden Direktur Prestige Image Motorcars, Rudi Salim dalam keterangannya mengatakan, saat ini TPT impor tidak bisa dikeluarkan, akibatnya mobil sudah di Indonesia, tidak bisa didaftarkan/BBN (Bea Balik Nama). Pemilik mobil juga tidak bisa membeli secara on the road. Walau bisa beli off the road, mobil tidak bisa dipakai karena tidak ada STNK.

Dijelaskan Rudi, jika sampai tahun depan keadaannya tetap begini, importir dan calon konsumen bakal berpikir ulang untuk membeli mobil mewah dengan kapasitas mesin di atas 3.000 cc.

Jika kondisi seperti ini masih terjadi pada tahun 2019 mendatang, para konsumen yang ingin inden dan  importir mobil mewah akan berpikir untuk tidak memboyong dan beli mobil 3.000 cc ke atas.

Belum ada solusi dari pemerintah untuk mobil impor yang sudah terlanjur masuk. “Sampai jangka waktu kapan (kebijakan ini berlaku) juga nggak tahu. Jadi pemerintah sebenarnya justru bisa kehilangan potensi pendapatan dari pajak BBN (yang tertahan) tersebut,” pungkas Rudi.

Diketahui, pembatasan TPT impor mobil mewah merupakan salah satu instrumen untuk mengendalikan barang impor. Wacana pengendalian impor mobil mewah  mencuat sejak awal Agustus 2018 dengan alasan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Saat itu Wakil Presiden Jusuf Kalla mengusulkan penghentian impor mobil mewah guna menjaga neraca perdagangan Indonesia. Mobil impor mewah yang dimaksud yakni yang berkapasitas di atas 3.000 cc seperti Ferrari dan Lamborghini serta mobil mewah lainnya yang berstatus impor CBU. (E-002)***