Mochammad Guntur, Jadi Pengusaha Berawal dari Mencoba

38

Kelahiran Tarakan 21 Oktober 1975 Mochammad Guntur , anak  pasangan Ahmad Saidi (alm) dan Mariana (61tahun)  berprofesi sebagai wirausahawan  kuliner yang memproduksi brownies , disamping berprofesi sebagai profesional di salah satu bank BUMN di Kota Bandung.

Suami dari Gita Atrina Hastari (36 tahun) ini menuturkan, menggeluti usaha kuliner kurang lebih satu tahun,  khususnya brownies puding. Tetapi untuk jenis kue dan makanan  lain sudah ditekuni antara tiga sampai empat tahun. Membuat kue diawali dari belajar dan mencoba resep-resep yang baru. “Karena saya hobby sekali makan puding dan brownies. Terciptalah ide untuk menggabungkan cita rasa keduanya. Modal awal produksi diambil dari  gaji saya,”tuturnya kepada BB, akhir pekan lalu di tempat usahanya di Jalan Cihampelas  50 Bale X Trans, Kota Bandung,

Kapasitas produksinya dalam seminggu sebanyak 60 boks. Produksi  dikerjakan oleh tiga orang tenaga kerja. Menurutnya , tenaga kerja tidak harus memiliki kemampuan khusus, asalkan mau kerja dan  belajar mengikuti langkah-langkah dalam pembuatan kue . Sertifikat halal sedang untuk produknya , diakui Ahmad masih dalam proses. Produk dijual mulai seharga Rp 3.000 sampai  Rp 50.000 dengan segmen pasar anak-anak. Sedangkan omzet perbulan berada pada kisaran Rp 10 jutaan. “Keunikann dari cita rasa brownies merupakan perpaduan dari kue brownies yang nyoklat banget di padukan dengan puding yang lembut dan vla vanilla yang melengkapi manisnya. Kue brownies ini tahan sampai satu minggu, jika disimpan di lemari pendingin,” ujar  Guntur menjelaskan mengenai produknya. Produk dipasarkan di sosial media instagram “nyonyang_foodcakencookie” dan “browniespuddingnyonyamg”.

Ayah dari Mochammad Fakhri Zain (14 tahun) mengemukakan, pengalaman menarik di sektor kuliner adalah dalam  memenuhi a keinginan konsumen yang beragam, dari segi waktu yang tidak menentu. “Pengalaman negatif maupun kendala Alhamdulillah tidak ada. Kami berusaha memberikan yang terbaik buat konsumen. Mengenai persaingan, itu pasti ada, cara menghadapinya harus kreatif menciptakan aneka kue dan makanan yang sedang berkembang di sekitar kita, tahu selera pasar dan tidak berhenti untuk berinovasi,”ungkapnya

Dikatakan Mochammad Guntur,  ia berkeinginan terus menggeluti profesi usaha kuliner tanpa batas. Diakuinya , tidak ada rencana banting setir, karena usaha kue dan makanan itu akan terus di minati. “Kami akan terus belajar dan berinovasi mengikuti perkembangan jaman untuk kue-kue tradisional dan modern. Dan mudah-mudahan bisa diturunkan untuk generasi berikutnya. Saya pegawai di sebuah bank. Berbagi tugas, istri bertanggung jawab di bidang produksi, dan saya bertugas untuk memasarkan produk. Disaat hari libur saya ikut membantu produksi,” ujarnya

Persaingan di bidang kuliner cukup kompetitif. Pasalnya, di Kota Bandung,  marak ide-ide kuliner baru dan unik. Sebagi pengusaha kuliner,  senantiasa berkompetitif dengan sehat. Tentang dukungan pemerintah, lanjut Guntur , cukup baik. Meang dari sisi permodalan, dirinya belum meminta bantuan pemerintah. Karena  masih  usaha kecil. Walau demikian, mudah-mudahan pemerintah ikut mendukung usahanya.

”Sebagai pengusaha kuliner kami berharap pemerintah mendukung usaha kecil untuk bisa memiliki tempat usaha dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Artinya pemerintah menyediakan pusat oleh-oleh Bandung yang bisa dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara,”  pungkas Guntur menambahkan.  ( E-018)***