Industri Fesyen Terancam Kena Dampak Melemahnya Rupiah

41

PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika bisa berdampak terhadap industri fesyen Tanah Air. Pemakaian bahan baku impor pada kain menjadi penyebab terdampaknya sektor ini.

Pelaku industri fesyen yang juga desainer Barli Asmara mengakui, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan sangat berdampak terhadap bisnis fesyen. Produsen pakaian dan produk turunannya akan melakukan penyesuaian harga bila harga kain mengalami kenaikan.

“Pasti akan sangat berpengaruh. Walaupun kainnya dibikin di Indonesia, tetapi bahan bakunya (kapas) masih impor. Produsen fesyen pasti akan melakukan penyesuaian harga. Misalnya harga scarf biasanya dijual Rp200.000 jadi Rp270.000,” kata dia.

Menurut Barli, dengan kenaikan dolar biasanya harga jual produk fesyen dan turunannya akan mengalami kenaikan antara 10 sampai 20%. Sementara, pelaku usaha dihadapkan pada kemampuan daya beli masyarakat. Harga jual yang terlalu tinggi dikhawatirkan akan berdampak terhadap rendahnya daya beli konsumen.

Sebenarnya, kata dia, salah satu cara yang bisa dipakai adalah menekan seminimal mungkin penggunaan produk impor. Setidaknya, kain atau bahan bakunya diproduksi di dalam negeri. “Kalau saya menggunakan 100 persen bahan lokal. Walaupun beberapa bahan bakunya diimpor, tapi setidaknya diproduksi di Indonesia,” jelas dia.

Barli mengatakan, pada berbagai kesempatan dia selalu menekankan agar semua desainer muda menggunakan bahan-bahan lokal. Karena, kalau banyak menggunakan bahan impor akan berat saat harga dolar tinggi seperti saat ini. Tentu, akan berefek dan akan sangat berpengaruh ke biaya produksi. (C-003/BBS)***