Hari Pahlawan pada Masa Milenial

27

HAMPIR setiap bulan dalam setahun, dari Januari sampai Desember,  bangsa Indonesia menyelenggarakan peringatan hari bersejarah atau hari khusus. Dari Agustus hingga Desember saja, kita bertemu dengan peringatan Hari Kemerdekaan,Hari Bakti Telekomunikasi, Hari Radio,  Hari Kereta Api, Hari Perhubungan, Hari Sumpah Pemuda,  Hari Pahlawan, Hari  Raden Dewi Sartika, Hari Ibu, dan entah apa lagi karena saking banyaknya. Belum lagi hari-hari keagamaan yang sudah baku, ditambah peringatan hari-hari yang berasal dari budaya Barat, seperti Hari Kasih Sayang (valentine day), Hari Haloween (topeng setan), dan sebagainya. Sebelumnya, dari Januari hingga Juli, kita juga memperingati Hari Pers Nasional, Hari Olahraga Nasional,  Hari Koperasi, Hari Kesaktian Pancasila, Hari TNI, Hari Bhayangkara, dan sebagainya.

    Melihat semangat bangsa ini menetapkan  hari-hari tertentu yang wajib diperingati, diperkirakan, jumlah peringatan hari khusus itu akan terus bertambah. Setiap komunitas menentukan hari khusus yang berkaitan dengan kepentingan komunitasnya. Dapat dibayangkan apabila setiap bulan dalam setahun penuh kita melakukan upacara perigatan hari khusus.  Kita akan kehilangan banyak masa produktivitas masyarakat karena digunakan untuk melakukan upacatra peringatan.

    Pentingkah kita menentukan hari-hari khusus itu berikut upacara peringatannya? Dilihat dari kepentingan sejarah, peringatan hari-hari khusus itu penting. Kita akan selalu diingatkan apa dan bagaimana peran pelaku sejarah dalam perjalanan bangsa dan negara. Masyarakat, khususnya komunitas yang berkaitan langsung, pada hari-hari tertentu itu, dapat menyusun kembali berbagai peristiwa masa lalu. Imajinasi kita akan terbangun menjadi sebuah konstruksi sejarah. Secara imajinatif kita dapat menelusuri kehidupan dan keadaan masa itu dalam alur yang relevan antara masa lalu dan masa kini.

     Namun ketika semua hari khusus yang sebetulnya hanya berkaitan dengan perjalanan kelompok-kelompok kecil atau budaya yang tidak sesuai dengan kearifan lokal, tidak terlalu penting kita peringati secara masal. Akibat terlalu melebarnya peringatan hari-hari khusus itu, hari-hari bersejarah yang berkaitan erat dengan perjuangan bangsa ini, semakin hari semakin ditinggalkan orang. Coba saja kita lihat peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Bagi sebagain masyarakat kita, khususnya kaum muda, merasa tidak terlalu perlu mengadakan kegiatan peringatan Hari Pahlawan.

    Seperti pada tulisan yang dimuat KOMPAS 6/11, kaum milenial tidak begitu peduli dengan kedigajayaan para pahawan bangsa. Mereka hampir tidak kenal terhadap semua atau sebagian pahlawan bangsa. Bagi mereka peranan para pahlawan merupakan masa lampau yang tidak ada relevansinya dengan masa kini. Bagi mereka, pahlawan identik dengan idola yang hidup dalam imajinasi kekiniannya. Tokoh yang mereka idolakan kebanyakan tokoh imajiner hasil ciptaan orang yang hidup dalam hiruk pikuk budaya pop dan teknologi robotik. Mereka lebih mengenal Superman, Spiderman, Satria Baja Hitam, dan sebagainya.

    Bagi generasi zaman now, dan balita, pahlawan adalah manusia atau robot yang selalu menang dalam setiap perkelahian. Anak-anak sekarang tengah mengdolakan superkid bernama Shiva. Anak kecil yang tidak mau disebut anak kecil itu merupakan anak migran dari luar angkasa yang memiliki persenjataan berteknologi tinggi. Sepeda yang ia tumpangi dapat melaju secepat kilat,  dapat mengejar mobil balap atau pesawat jet. Berbagai kejahatan dapat ia taklukkan. Dengan film itu anak-anak mengidentikkan dirinya dengan Shiva, bersepeda, meloncat-loncat, berkelahi melawan penjahat berbadan kekar dan bukan seorang. Ia juga sangat cerdas melebihi seorang inspektur polisi.

     Anak-anak yang terus menerus dijejali cerita dan tokohnya yang luar biasa itu, dipastikan  dapat menjadi remaja yang tidak menghormati orang tua, melecehkan aparatur pemerintahan, dan akan sangat senang berkelahi, tawuran, dan kekerasan. Berbeda dengan Dora Emon, kucing luar angkasa yang berjiwa manusia. Meskipun punya kelebihan dibanding manusia planet Bumi, sebagai kucing ia punya rasa takut, belas kasih, dan mau memelihara persahabatan yang sangat kuat. Film Ipin-Upin yang berhasil menggambarkan kehidupan keluarga di sebuah kampung yang damai, mandiri, hormat terhadap orang tua dan guru, saling tolong, dan mengandung banyak pelajaran baik tentang pertanian, alam, dan teknologi.

        Akibat lebih jauhnya lagi, anak-anak akan punya ketergantungan terhadap teknologi, terlepas dari kehidupan yang mandiri, kehilangan rasa aestetika, tidak memiliki iamjinasi yang hidup dan sangat luas. Mereka dikhawatirkan tidak merasa penting bersosialisasi, bersilaturahmi, atau berjamaah. Mari kita ukur kecenderungan anak-anak dan generasi melinial, pada saat kita memperingati Hari Pahlawan. Masihkan mereka memberikan penghargaan khusus terhadap para pahlawan bangsa atau justru sudah tidak mengenalnya lagi?

         Tampaknya pemerintah dan para ahli sejarah harus mulai melakukan evaluasi terhadap metode pengajaran sejarah. Jangan menempatkan para pahlawan pada pigura yang djjajarkan sebagai bahan hafalan belaka. ***