Ekspansi Bank Asing Ancaman”Kematian”Bank Swasta Nasional

54

BISNIS BANDUNG —Peneliti Senior Perbankan Universitas Padjadjaran (Unpad),  Erie Febrian, PhD mengatakan, saat ini  bank swasta cenderung mengalami pelambatan. Kini bank swasta  menahan diri sambil memantau perkembangan ekonomi nasional dan mewaspadai implikasi melemahnya nilai rupiah dan kemampuan ekonomi nasional yang tidak begitu baik.  Masyarakat  merasakannya melalui indikator-indikator harga dalam keseharian

Dikemukakan Erie ,  kinerja perbankan swasta,  murni didukung oleh kondisi ekonomi nasional dan kemampuan bank berkompetisi di pasar. “Mereka merespon situasi pasar dengan penguatan pada -produk yang menjadi spesialisasinya. Misalnya, fokus menggarap segmen UMKM atau kredit perumahan,  menggarap layanan bagi institusi pendidikan,” ujar Erie di antara solusi yang dilakukan pihak bank swasta. Erie menyebut pula , salah satu kemampuan yang membedakan kekuatan antar bank adalah adopsi teknologi. Bank yang unggul di teknologi  dalam layanannya akan mudah menyerap pasar saat kondisi makroekonomi tidak kondusif. ”Skala ekonomis masing-masing bank menentukan kemampuannya beradaptasi dengan kondisi makroekonomi. Bank dengan skala ekonomis tinggi akan memiliki daya tahan dan fleksibilitas yang lebih baik”, papar Erie  baru-baru ini di Bandung.  Lebih lanjut dikemukakan Erie , bank swasta menjadi tangguh oleh persaingan dan membangun pasar dengan kompetensi yang mereka anggap unggul. Bank swasta dibesarkan oleh kompetisi yang ketat. Menurut akademisi Unpad ini,  penyebab pelemahan bank swasta, umumnya lebih disebabkan oleh melemahnya segmen unggulan mereka. Misalnya, bank swasta yang spesialis UMKM akan melemah ketika kondisi makroekonomi nasional melambat, karena kinerja UMKM yang menjadi mitra bank  terganggu.

Erie mengulas pula mengenai  perbankan swasta dengan plat merah (BUMN) yang secara garis besar, kedua sektor tidak terlalu bersinggungan, karena segmen dominan bank pemerintah adalah institusi-institusi dan program-program pemerintah. Tapi dari sisi produk layanan bersaing di pasar dengan tawaran khas masing-masing kepada pasar. Bank swasta berskala ekonomi kuat,  bahkan mampu mengungguli bank pemerintah di beberapa aspek. Umumnya, bank pemerintah memanfaatkan keunggulan skala ekonomisnya untuk dapat menawarkan produk dengan biaya lebih murah. Bank swasta skala besar juga melakukan hal serupa. Sementara, bank swasta berskala menengah ke bawah cenderung bermain di arena lain, misalnya keragaman produk dan fleksibilitas layanan.

Bank swasta, lanjut Erie , relatif tangguh dan teruji karena eksistensinya dibangun oleh persaingan yang sangat ketat. Meski demikian, bank swasta berskala menengah ke bawah perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, jika bank asing diizinkan bebas menggarap pasar domestik. Bank asing yang ekspansi ke Indonesia , tentunya  yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, dengan pengalaman dan kekuatan modal yang sangat kompetitif menjadi ancaman ”kematian”  bank domestik yang keunggulannya  lebih pada pengetahuan dan kedekatan dengan pasar . ”Tapi jika harus menghadapi ekpansi bank asing , disarankan agar bank swasta menengah-kecil merger , sehingga memiliki kekuatan yang lebih kompetitif, khususnya dalam hal kompetisi teknologi perbankan yang mahal,”ungkap Erie.

Mengenai kekuatan bank (BUMN) diungkapkan Erie , karena adanya kedekatan dengan instansi pemerintah sebagai mitra jangka panjang yang konsisten, karena itu bank pemerintah lebih unggul dari bank swasta hampir di semua aspek.  Namun demikian , ada SDM dan manajemen bank swasta (skala menengah ke bawah) yang terlatih dan teruji oleh persaingan, hingga bank ini cenderung lebih kreatif dalam membaca kebutuhan nasbah dan pasar potensial. “Misalnya bank swasta besar seperti BCA yang mampu bersaing dengan bank pemerintah, bahkan mengunggulinya. Hal ini karena ukuran yang menciptakan skala ekonomis yang signifikan, bank ini juga besar dari kompetisi pasar dengan berbagai kompleksitasnya,” Erie menyebut bank swasta yang mampu bersaing dengan bank plat merah.

Dikemukakan Erie  , BRI merupakan bank pemerintah terbesar di Indonesia dari sisi aset,  di ASEAN posisinya nomor 12,  di bawah bank di Singapura dan Malaysia. Perbankan Singapura dan Malaysia  dikenal di pasar keuangan dunia,  karena kemampuannya berinteraksi dengan pasar keuangan dunia dan karena kondisi makroekonomi negara itu relatif kuat dan stabil. Tapi dari sisi profitabilitas bank di Indonesia masih lebih unggul. Hal itu karena pasar retail Indonesia, baik sektor riil maupun keuangan, jauh lebih besar.

Merger dan Akuisisi  (M&A) merupakan pola penyatuan kekuatan potensi yang pas untuk industri perbankan di Indonesia, terutama bank yang memiliki karakter mirip  sebaiknya bergabung dan membentuk kekuatan. “Saya pernah mengusulkan dilakukan oleh bank BPD karena kesamaannya. Bank Mandiri adalah contoh bank hasil merger. Penggabungan  cenderung lebih efisien” ungkap Erie seraya menegaskan , bahwa merger  lebih mudah dilakukan di bank pemerintah karena pemiliknya pemerintah yang memiliki visi serupa. Sedangkan untuk bank swasta lebih sulit  karena banyak yang harus dipertimbangkan, seperti kualitas aset, fokus bisnis, orientasi strategi, ukuran jaringan bisnis, dan lainnya. Kontribusi bank swasta terhadap perekonomian nasional serupa dengan bank pemerintah. Bedanya, bank pemerintah dapat fasilitas dan dukungan lebih dari pemerintah sendiri. Sedang bank swasta tumbuh dalam  bagi pembangunan nasional , khususnya pada sektor riil  dan dunia usaha secara umum.Bank swasta lebih siap bertarung di pasar bebas secara mental dan budaya . ( E-018)***