Nia Kurniasih, Organisasi yang Tidak Berbayar

31

Nia Kurniasih mengungkapkan, dihitung dari pertama bergabung  di Aikma Kota Bandung,  berarti sudah 11 tahun , ia bernaung di organisasi ini. Menurutnya, berada di asosiasi tersebut bukan tertarik untuk menjadi pengurusnya, pasalnya di asosiasi ini tidak ada imbalan materi untuk jabatan apapun, malah  kita yang harus berlapang dada mencurahkan segala kemampuan , baik materi dan non materi agar asosiasi ini bisa terus berjalan.

“Saya menjadi Ketua karena dipilih oleh hampir 90%  anggota asosiasi ini. Saya tidak tahu saya terpilih karena mereka merasa kasihan, mungkin karena saya sudah lama banget ada di asosiasi ini atau mungkin  mereka ngajongklokeun supaya saya letih. Tapi semua prasangka alasan itu hanya candaan  saja,” ujar Nia seraya mengucapkan Alhamdilillah.

Menurutnya, dinamika dalam organisasi tidak berbayar, tidak jauh berbeda, lebih kebagaimana saling meredam ego. Ada yang  ingin pujian, ada yang rudet, ada yang kritis, ada yang ngikut aja, ada pula yang diam di dalam, tapi  teriak di luar, pokoknya semua keunikan karakter ada. Dan saya menganggap  itu bukan masalah. Itu lebih ke tantangan bagaimana saya menyikapinyai.

Saya  penekanannya lebih ke aturan organisasi saja. Saya bukan psikolog atau psikiater jadi saya hanya akan meredam karakter-karakter yang menonjol dari anggota dengan cara “menyalurkan” karakter mereka pada bidang-bidang/tugas-tugas organisasi yang sesuai dengan karakter mereka. Ini tugas yang gampang-gampang sulit. Tapi secara prinsip harus dibangun rasa saling percaya dulu antara pengurus dan anggota. Dengan rasa saling percaya tidak sulit untuk saling bergandengan tangan dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama  .

Menurut penganut moto hidup “Harus Bahagia Supaya Sehat Jasmani dan Rohani”  serta penggemar warna hitam itu  mengimbuhkan,  saat ini anggota AIKMA lebih kurang 150 orang ,tapi tidak semua aktif berkegiatan di AIKMA, karena beberapa jdari mereka aktif di komunitas lain. Saat ini rata- rata anggota AIKMA bergerak di bidang makanan dan minuman.Pengalaman   menjadi Ketua AIKM , diakui Nia  banyak sekali.

Di antaranya  , jejaring bertambah, pengetahuan bertambah, skill  bertambah (baik skill untuk olahan makanan maupun berorganisasi). Namun untuk pengalaman negatif tidak ada, hanya situasi ketidaknyamanan , tapi itupun  lebih ke komunikasi yang kurang tersampaikan saja. Setelah duduk bersama dan dibicarakan, semuanya berjalan nyaman-nyaman saja. Prinsipnya saling menyampaikan saja, terbuka dan saling menerima setiap ada koreksi/kritikan selama itu untuk kebaikan organisasi.

Selama aktif di organisasi Nia Kurniasih mengaku,  anak-anaknya selalu mendukung semua kegiatan , baik dalam mengembangkan usaha maupun  organisasi. Sedangkan yang paling berjasa dalam hidupnya adalah orang tua, pasalnya mereka yang mewariskan arti kerja keras. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi, selain dengan membaca yang berkaitan dengan kebutuhan secara langsung maupun tidak langsung agar selalu update dengan yang terjadi di sekitar kita.

Nia mengklaim,  program-program yang telah digulirkan dari beberapa periode kepengurusan yang lalu banyak sekali walau skalanya lebih ke penatalaksanaan organisasi. Program yang sedang dan akan digulirkan adalah meningkatkan terus kesadaran berkoperasi. Pasalnya AIKM punya koperasi (Kogama:  Koperasi Keluarga AIKMA).

Sadar untuk aktif sebagai penyokong modal melalui Simpanan Wajib, sadar meminjam serta sadar mengembalikan  tepat waktu.”Tidak ada rencana apapun di luar AIKMA. Insya Allah hanya di sini saja saya mengabdi sebagai pengurus. Entah kedepannya jika ada organisasi yang bisa support AIKMA supaya bisa bertambah besar. Yang saya maksud AIKM bertambah besar bukan secara nama saja yang makin dikenal luas, namun bagaimana AIKMA bisa bertambah  besar karena manfaatnya untuk para anggotanya”, pungkasnya kepada BB., akhir pekan lalu.  (E-018)***