Produk Nasional ”Bermerek” Mendominasi Pasar

20

BISNIS BANDUNG –Founder & Chaiman TRAS N CO Indonesia,Tri Raharjo mengungkapkan, berdasarkan pengamatan di lapangan,  minat publik terhadap produk “bermerk”  lebih memiliki daya tarik , dibanding dengan produk yang belum dikenal. Karena masyarakat sudah mengenal  kualitas produk . Sehingga menumbuhkan kepercayaan konsumen  untuk melakukan transaksi (pembelian).

 “Indikatornya bisa terlihat dari dua merek makanan yang sudah terkenal dan belum, konsumen akan memilih yang sudah terkenal dengan alasan pernah mencicipi produknya dan enak, selain karena layanannya bagus, harganya pun bersaing. Hal ini di antara penyebab produk  yang kurang terkenal  menutup usahanya  karena kalah saing,” ungkap Tri.

Tri menunjuk  data pemenang brdasar Indonesia Digital Popular Brand Award 2018 yang berhasil memenangkan persaingan brand secara digital. Penghargaan di dominasi oleh brand nasional hingga 79%, brand asing  21% . Hal tersebut menurut Tri , menjadi salah satu indikasi tingkat kepopuleran dan keterpilihan sebuah brand di ranah digital berdasarkan Search Enggine Based, Sosial Media Based dan Website Based.

Dikemukakan Tri Raharjo , produk  dalam negeri yang banyak diminati  masyarakat , yakni bidang kuliner, fashion, ritel, media, fast moving consumer goods, bank, pendidikan, dan farmasi. “Apakah minat kepada produk bermerek,  berkaitan dengan gengsiatau status sosial , menurut pendapat saya bisa ya atau tidak,” ujar Tri seraya menyebut, sebagian masyarakat  memiliki behavior seperti itu, jika mereka menggunakan produk yang branded mereka akan merasa lebih “PD”. Namun ada sebagian masyarakat membeli produk branded karena kualitas dan memiliki banyak manfaat .

Merujuk kepada hasil survey ,menurut Tri ,  tidak semua produk dalam negeri kalah dengan produk impor. Banyak  produk dari Indonesia yang  di export . Namun, jika melihat brand di bidang coffee shop, resto fried chicken, mobil, motor, hand phone dan printer,diakui Tri, sebagian besar pemainnya adalah brand asing yang dipersepsikan dengan kualitas yang baik, meskipun tidak semua brand asing memiliki kualitas produk yang baik. Menjawab pertanyaan mengenai membanjirnya produk impor, apakah mempengaruhi minat terhadap produk dalam negeri. “Jelas memiliki pengaruh pada minat produk dalam negeri. Diperparah dengan produk impor di jual dengan harga lebih murah, mudah didapat sertadan kualitasnya cukup bagus,” ungkap Tri kepada BB, baru-baru ini di Bandung.

Mengenai konsumen memilih sebuah produk, lanjut Tri , memang memiliki  alasan,  karena membutuhkan produk tersebut,  harganya sesuai dengan “kantong” konsumen , selain karena produk yang dibelinya memiliki kualitas sesuai yang diinginkan, layanannya baik dan mudah untuk mendapatkan produk yang dibutuhkannya.

Untuk mendongkrak minat terhadap produk dalam negeri, Tri menyebut beberapa solusi , antara lain, membangun brand yang kuat. Sebagian pengusaha  hanya berorientasi pada produk saja,  tidak membangun brand, tampilan kemasan produk yang harus menarik,  produk yang berkualitas dengan harga kompetitif di pasar ,selain bisa  memberi nilai lebih bagi penjual produk, seperti distributor, agen atau reseller.

Ditambahkan Tri , jika minat konsumen terhadap produk lokal rendah akan berdampak signifikan terhadap penyerapan lapangan kerja, pengusaha lokal akan kena imbasnya, termasuk  penyerapan penggunaan bahan baku lokal juga akan terganggu. Terkait hal ini menurut Tri, pengusaha dan pemerintah harus bersinergi untuk membangun iklim usaha menjadi lebih bergairah dengan mendorong pengusaha-pengusaha lokal maupun nasional agar terus tumbuh untuk menggarap pasar lokal (Indonesia) maupun pasar Global. Bentuknya, ujar Tri , bisa melalui pelatihan, pameran, temu bisnis, pendampingan usaha, pemberian apresiasi dan pembukaan market baru untuk mendorong pengusaha lokal. (E-018) ***