Bisnis Konglomerat di Asia Tenggara Kian Lunglai

21

KINERJA perusahaan konglomerat di Asia Tenggara tercatat menurun dalam 10 tahun terakhir. Hal ini terlihat dari imbal hasil investasi yang diperoleh pemegang saham perusahaan-perusahaan konglomerat tersebut.

Hal ini terungkap dalam riset yang dilakukan kantor konsultan manajemen asal Amerika Bain & Company. Mereka melakukan riset terhadap 102 perusahaan konglomerat dan 287 perusahaan dengan bisnis tunggal sepanjang 2003 hingga 2018.

Riset tersebut menemukan konglomerat di Asia Tenggara memiliki sejumlah hal yang menguntungkan mereka. Mulai dari askes dan peluang terhadap hak atas sumber daya alam. Para konglomerat juga dinilai memiliki keuntungan hampir pada segala aspek pengaturan.

Kendati demikian, seiring mulai berkembangnya pasar Asia pada 2014, keuntungan-keuntungan tersebut mulai berkurang dan bisnis para konglomerat pun mulai tertekan.

Presiden Komisaris Partner Bain & Company Jakarta Jean-Pierre Felenbok menjelaskan rata-rata imbal hasil yang diperoleh pemegang saham perusahaan-perusahaan konglomerat di India dan Asia Tenggara pada sepanjang 2003-2012 mencapai 32 persen, sedangkan perusahaan dengan bisnis tunggal mencapai 28 persen.

Namun, rata-rata imbal hasil investor perusahaan konglomerat periode 2007 hingga 2016 terus tertekan hingga mencapai 11 persen. Sementara, penurunan imbal hasil investor dengan bisnis tunggal turun lebih rendah menjadi 12 persen.

“Konglomerasi di Asia butuh melakukan perubahan, terutama terkait masalah distrubsi digital dan meningkatnya kompetisi global di bidang teknologi,” ujar Jean-pierre di Jakarta, Senin (12/11).

Kendati pemegang saham sebagai besar perusahaan konglomerat mengalami penurunan imbal hasil investasi pada periode 2006-2017, masih ada sejumlah konglomerat yang memberikan imbal hasil investasi yang kinclong kepada pemegang saham.

Salah satunya, Charoen Pokphand Group asal Thailand yang memiliki rata-rata imbal hasil investasi tertinggi yang diperoleh pemegang saham yakni mencapai 40 persen. Kemudian Hap Seng asal Malaysia yang memberikan imbal hasil investasi 36 persen.

Sedangkan di Indonesia, konglomerat yang masih memberikan imbal hasil investasi yang cukup tinggi adalah Sinar Mas Group sebesar 24 persen dan Lippo Group sebesar 22 persen.

Penasehat Bain & Company Till Vestring menyebut beberapa cara dapat dilakukan perusahaan konglomerat untuk memperbaiki kinerjanya, seperti mengidentifikasi ulang bisnis dan menambah nilai portofolio perusahaan. (C-003/agi)***