Karet Penghasil Devisa Terbesar Lahannya Terus “Tergerus”

32

BISNIS BANDUNG — Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Jabar, Eka Suwarna, ST mengungkapkan,  perkembangan komoditi karet di Jawa Barat sangat memprihatinkan, dari tahun ke tahun terus menyusut, diperparah dengan gairah  petani karet yang juga terus menurun. Padahal komoditi karet merupakan salah satu penyumbang devisi terbesar dari sektor non migas.

Eka Suwarna menyebut, faktor yang mempengaruhi produksi/perkebunan karet di Jawa Barat , antara lain faktor  harga, rendahnya produktivitas serta tidak adanya industri hilir besar yang mampu menyerap karet dari petani dengan harga baik. ”Jika perkebunan karet di Jabar bisa terus eksis dan tumbuh, otomatis akan menyerap tenaga kerja sangat besar dan menjadi sumber pemasukan devisa bagi negara. Sejauh ini ,saya belum melihat upaya signifikan dari pemerintah untuk mendorong pertumbuhan perkebunan karet di Jabar. Kami berharap pemerintah agar segera mengambil langkah-langkah strategis jika tidak ingin karet punah dari Jabar, “ujar Eka menjawab pertanyaan menyusutnya perkebunan karet di Jawa Barat

Dijelaskan Eka, saat ini pasar karet dunia terus tumbuh signifikan. Permintaan global dunia di tahun 2017 naik 1,2% dan ditargetkan 2018 ini naik  menjadi 2,8%. (Data Asosiasi Negara Produsen Karet Dunia). Peluang ini semestinya dimanfaatkan oleh Indonesia. Menurutnya ,petani-petani karet Jabar kini masih  memproduksi karet mentah berbentuk lump mangkok (cup lump). Walau ada sebagian kecil yang memproduksi RSS (sheet) dan compo. Sebagian produksi itu dijual petani ke industri-industri lokal di Jawa Barat dan Jabotabek, sebagian kecil dikirim ke Jateng dan diekspor  ke Jepang, India, China dan Amerika.

Produksi dan sentra karet Jabar terkonsentrasi di wilayah Sukabumi, Cianjur dan Subang, dan sekarang sedang tumbuh di Garut Selatan. Di daerah-daerah lain juga masih terdapat perkebunan karet, seperti di Purwakarta, Ciamis, Banjar dan Pangandaran. ”Namun ironisnya, hampir di seluruh daerah di Jabar telah terjadi penyusutan lahan kebun karet,” ungkap Eka, Rabu di Bandung.

Eka Suwarna, ST meyakini,  jika komoditi karet punah,  Indonesia akan kehilangan devisa sekitar Rp100 triliun/tahun. Ini kerugian besar, ungkap Eka , sebab itu pemerintah harus turun tangan secepatnya membantu perkembangan sektor perkebunan karet ini. Terutama berkaitan dengan masalah legalitas lahan, kredit permodalan untuk petani, bantuan alat pertanian, dan lain-lain. Hingga hari ini kami belum mengetahui rencana revitalisasi perkebunan karet. Tapi berdasarkan pengalaman 2011, program revitalisasi ini harus lebih turun ke bawah agar informasinya diterima merata oleh seluruh petani karet di Indonesia. Jangan sampai program revitalisasi itu hanya dinikmati oleh segilintir pengusaha/perusahaan perkebunan besar saja. ”Perlu dicatat dan digaris bawahi, sekira 80% perkebunan karet di Indonesia dimiliki oleh petani perorangan, sisanya sebesar  20% dikuasai perusahaan,” pungkas Eka menjelaskan sosal kepemilkan perkebunan karet.

 (E-018)***