Rully Indrawan, Meningkatkan Kemaslahatan Dalam Berbuat Kebaikan

24

Rully Indrawan kelahiran  Bogor  26 Maret 1961 ,  Guru Besar Universitas Pasundan (Unpas)  ini, juga sebagai Deputi Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia.Jabatan lainnya antara lain, Wakil Direktur Bidang Akademik Pascasarjana Universitas Pasundan, Ketua Persatuan Guru Besar Indonesia (Pergubi) Jawa Barat, Waketum Dekopin Pusat, Waka Wantim Kadin Jabar serta Sekretaris Dewan Pakar Paguyuban Pasundan.

 Sederet pekerjaan yang pernah diemban Rully , Ketua Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP Unpas (1988-1992), Sekretaris Lembaga Penelitian Unpas (1992-1997), Ketua Lembaga Penelitian Unpas (1997-2003), Plt.Pembantu Rektor I Unpas (2003-2004), Pembantu Rektor II Unpas (2004-2008). Rektor IKOPIN (2007-2011). (7), Ketua DPD RI (2008-2011), Asisten Direktur Pascasarjana (2011-2015), Staf Ahli Wantimpres RI bidang Ekonomi Pembangunan dan Otonomi Daerah (2011-2015) dan Staf Ahli Rektor Unpas Bidang Kerjasama dan Penelitian (2009-2015)

Penghargaan yang pernah diraihnya,  di antaranya  Dosen Teladan I Kopertis Wilayah IV (1991) , Finalis Dosen Teladan Nasional (1991) , Satya Lencana Kesetiaan 10 tahun (2000) , Bakti Koperasi dari Menteri KUMKM (2011) dan Satya Lencana Pembangunan Bidang Perkoperasian dari Presiden RI  sebagai Rektor IKOPIN (2012) ,  Satya Lencana Kesetiaan 20 tahun dari Presiden RI.

Rully Indrawan mengkui, ada keterikatan erat antara revolusi industri ke empat dengan filosofi koperasi , yakni pada penciptaan skala ekonomi terbaik. Pada dasarnya revolusi industri saat ini menyasar pada pengoptimalan layanan turunan produk digital semisal robot yang memangkas berbagai ketidakefisien pemanfatan sumberdaya dan mengembangkan sharing economic atas dasar keadilan pada proses dan hasil yang dicapai.

Sedangkan prinsip koperasi, bekerja bersama-sama sudah dikenal sejak revolusi industri pertama sekitar pertengahan abad ke 19. Dimana manusia yang tersingkirkan oleh peradaban membentuk kekuatan ekonomi mandiri untuk kemaslahatan bersama, ratusan tahun berselang, prinsip kerja bersama masih efektif untuk kegiatan ekonomi, bahkan di era revolusi teknologi. Dengan sharing business dan modal digital menjadi lebih populer untuk generasi muda karena dianggap efisien. Fenomena ini,lanjut Rully , menuntut  lahirnya koperasi kreasi baru.

Sedikitnya ada dua bukti kedekatan prinsip koperasi dengan skema bisnis kekinian. Pertama, banyak bisnis dengan platform digital memanfaatkan konsep sharing pada mekanismenya. Sebut saja ecommerce atau penyedia layanan jasa online (transportasi, perjalanan, tiket). Kedua, di Indoensia sendiri meski puluhan ribu koperasi dinonaktifkan karena disfungsi , namun memancing tumbuhnya koperasi jenis baru dari kalangan anak muda yang berbasis digital serta tidak membutuhkan bantuan pemerintah.

Rully berpendapat, perekonomian Jabar sebagai daerah pertumbuhan yang paling potensial membutuhkan kebersamaan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan kekuatan civil society yang lebih bermutu.

Dalam kesempatan berbincang dengan BB , beberapa waktu lalu , Rully yang saat ini  sebagai Asdir Bidang Akademik Pascasarjana Universitas Pasundan mengisahkan perkenalan pertamanya dengan ilmu ekonomi. Jauh sebelum duduk di bangku kuliah, ilmu ekonomi sudah digeluti alumnus jurusan Pendidikan Ekonomi Umum IKIP (UPI – red) Bandung. Karena keuletannya, ia mendapat beasisiswa mahasiswa berprestasi  (mahasiswa teladan). Jalan ini pula yang mengantarnya ke gerbang karir sebagai dosen PNS.

Di sela-sela kegiatan kuliah, tepatnya di semester 2, Rully ditawari untuk mengelola koperasi yang tengah diambang ”kematian” karena mismanajemen. Berangkat dari titik minus, Rully untuk mengemban tugas tersebut. Bersama beberapa kawannya,  ia berusaha menghidupkan lagi koperasi mahasiswa fakultas. Strateginya cukup ampuh, dengan bermodal pinjaman dan usaha konsinyasi, Kopma tersebut bisa bangkit kembali. Dalam kurun waktu satu tahun, koperasi mendapat penghargaan dari Dinas Koperasi Kota Bandung karena dinilai sukses.

Sejak itu  Rully didaulat menjadi Ketua Koperasi Mahasiswa, dan status koperasi ditingkatkan  dari level fakutas menjadi institut (IKIP). Kini koperasi yang dirintisnya masih tetap eksis dengan nama Koperasi Bumi Siliwangi UPI. Waktu itu , bahkan sempat mendapat bantuan dari Menkop waktu Bustani Arifin

Tahun 2007 ia mendapat kesempatan memimpin Ikopin. Sosok pengelola Ikopin kala itu, Bustanil Arifin,  menyerah mempertahankan mimpinya akan koperasi di tanah air. Namun pada akhirnya ,saya senang karena akhirnya beliau dan keluarganya bisa  berjuang kembali membangkitkan Ikopin.

Selama menekuni ekonomi kerakyatan dan koperasi, banyak program usaha berbasis koperasi yang diluncurkan Rully.

Setelah menamatkan pendidikan doktoral di tahun 1998, Rully diangkat menjadi Guru Besar Pendidikan Ilmu Ekonomi pada tahun 2001. Ini juga merupakan pencapaian tersendiri karena kala itu ia menjadi Guru Besar termuda yang diangkat Presiden.

Tahun 2016, Pergubi lahir di Jawa Barat,  Rully diangkat menjadi Ketua-nya. Pergubi hadir untuk menjaga profesi akademisi tagar terus tumbuh mulai dari hasil riset, karya ilmiah, serta pembangunan masyarakat akademis. Saat ini Indonesia terdapat sekitar 2000 guru besar berbagai keilmuan. Namun tantangan terbesar manfaat profesi guru besar  yang masih kurang dirasakan langsung oleh masyarakat , yakni ide pemikirannya , misalnya melalui tulisan ide .

Bekerjasama dengan koran besar di Jawa Barat, pihaknya mengembangkan kemampuan para dosen yang masih kesulitan menuangkan pemikirannya melalui tulisan di mass media agar ilmu dan pemikirannya bisa dicerna oleh masyarakat . “Ada harapan agar  para guru besar mampu membumikan ilmunya ,hingga bisa lebih bermanfaat bagi khalayak, tradisi ilmiah yang mengutamakan rasionalitas dan empirisme diharapkan juga dapat memutus rantai informasi bohong yang kerap menciptakan konflik di masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikemukakan Rully , di Jawa Barat sendiri ada persoalan besar yang harus segara dicari jalan keluarnya , yakni angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi  (APK PT) yang masih rendah, hanya sekitar 18 %, jauh di bawah angka nasional (33 %). Rully menyebut , hal itu menjadi ironis mengingat ada lebih dari 500 lembaga perguruan tinggi di Jawa Barat dengan jumlah penduduk terbanyak .

Baginya, ilmu sebaiknya disikapi bukan hanya dijadikan sebagai alat mencari uang, namun untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi akan memiliki banyak manfaat karena semakin banyak yang bisa dilakukan bagi kehidupan. Hal itu yang selalu ia sampaikan kepada putera-puterinya,  agar dengan ilmunya memiliki kepedulian kepada masyarakat dan lingkungannya. Sehingga banyak aktivitas sosial yang digeluti putera-puterinya dari organisasi kepemudaan dan ormas, relawan kemanusiaan maupun ekonomi kelompok di kalangan PKL.

Kepedulian itulah yang mendorong mereka bersama-sama mendirikan Yayasan Peduli Wilantara yang kini dirintis di Sukabumi untuk membantu masyarakat disana. Ditambahkan Rully , kepedulian akan pendidikan harus dibarengi oleh keterpanggilan untuk berbuat sesuatu untuk sesama. Kesempatan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, bukan hanya meningkatkan kompetensi pribadi, sehingga tidak kalah bersaing, namun yang paling penting adalah meningkatkan kemaslahatan diri untuk banyak manusia dalam berbuat kebaikan. (E-018)***