Semester I 2018 Meraup Rp 6,5 Triliun Sektor Asuransi Umum Tumbuh Positif

14

BISNIS BANDUNG – Ekonom Universitas Padjadjaran ,  Erie Febrian, PhD mengatakan,  berdasar data OJK pada semester I tahun 2018, industri asuransi umum bisa tumbuh positif . Sektor asuransi mampu merealisasikan underwriting sebesar Rp 6,5 triliun atau tumbuh sekira 10,2% year on year, di tengah kondisi makro ekonomi Indonesia yang kurang bergairah.

Erie menyebut , total investasi di asuransi pada periode Januari-September 2018 pertumbuhannya sangat  kecil,rata-rata sekira 0,2% /bulan.Termasuk pertumbuhan total asset yang rata-rata 0,25%/bulan.

Namun demikian,lanjut Erie , pada sisi pertumbuhan pasar, cukup signifikan. Total premi tumbuh rata-rata 33,32%/bulan. Angka ini diimbangi oleh pertumbuhan nilai klaim per – bulan sebesar 33,57%. Asuransi di sektor properti tampak lesu, dihantui oleh klaim-klaim bernilai besar ,seperti yang terjadi pada tahun 2017. Namun pada periode tiga bulan pertama tahun 2018 , laba bersih industri asuransi umum tumbuh positif 26,2%.

Para pelaku usaha di industri saat ini banyak tertumpu harapannya pada Peraturan Menteri Perdagangan nomor 48/2018 tentang Perubahan Atas Permendag nomor 82/2017 tentang Ketentuan Penggunaan Angkutan Laut dan Asuransi Nasional untuk Ekspor dan Impor Barang tertentu. Karena aturan ini mestimulasi pertumbuhan premi untuk transportasi komoditas, seperti batu bara, CPO dan bahan pangan.

Khusus untuk sektor asuransi syariah, berdasar data OJK, menjelang akhir tahun 2018,  pertumbuhan aset Asuransi Syariah diproyeksi sebesar 15%. Angka ini relatif rendah karena pada tahun 2017 realisasi pertumbuhan aset industri Asuransi Syariah mencapai 23,7% (year-on-year). Pangsa pasar Asuransi Syariah pada 2017 mencapai 4,8%. Untuk segmen Asuransi Jiwa Syariah berupa produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi merupakan produk yang paling diminati konsumen. Kecenderungan tersebut bisa berkembang dalam periode 3 tahun, tergantung pada tingkat kondusivitas makro ekonomi Indonesia.

Diungkapkan Erie, industri jasa keuangan sangat sensitif terhadap kualitas layanan dan perlindungan pemerintah. Khusus di industri asuransi, konsumen paling banyak menyoroti kecepatan dan fleksibilitas perusahaan asuransi dalam menangani klaim, disamping daya tarik format produk. Hal ini karena konsumen menggunakan jasa asuransi untuk menghindari risiko-risiko yang dianggap mengganggu keseharian mereka. Selain itu, terobosan perusahaan dalam mengembangkan produk asuransi dalam bentuk investasi juga tampak memicu peningkatan minat konsumen pada produk asuransi. Pada segmen syariah, produk asuransi yang dikembangkan harus memperhatikan sisi syariah. Konsumen di segmen ini lebih berorientasi pada kepatuhan hukum syariah ketimbang terpenuhinya kebutuhan perlindungan finasial mereka.

Secara umum,ujar Erie , industri asuransi terganggu oleh frekuensi kejadian-kejadian yang mengakibatkan mereka harus membayar klaim. Di sisi supply, bisnis asuransi menghindari tingginya jumlah klaim. Di sisi demand, konsumen menghindari sulitnya realisasi klaim. Mereka memilih jasa asuransi untuk mendapatkan ketenangan karena ada jaminan perusahaan asuransi atas hal-hal yang dihindari (tidak disukai) konsumen. Namun, saat risiko berubah menjadi kerugian, mereka sangat mengharapkan perusahaan asuransi dapat menyelesaikan masalah dengan cepat melalui layanan klaim sesuai yang dijanjikan.

Erie menjelaskan , adanya perbedaan mendasar antara asuransi (konvensional dengan syariah) , seperti halnya bank konvensional dan bank syariah. Namun, konsumen lebih mudah membedakan produk-produk bank syariah dari produk bank konvensional ketimbang  asuransi. Pada dunia asuransi dikenal hukum large number. Konsumen produk asuransi tertentu harus melampaui jumlah tertentu agar produk itu dianggap profitable. Hal ini karena besaran premi jauh lebih kecil dibandingkan uang pertanggungan yang harus dibayar perusahaan asuransi ketika ada klaim dari nasabah. Ketika masyarakat lebih familiar dengan konsep asuransi konvensional, produk-produk  asuransi konvensional lebih mudah melampaui standar minimum large number yang dihitung oleh para ahli statistiknya. Sebaliknya, jumlah konsumen pemakai produk asuransi syariah tidak sebanyak konsumen produk konvensional. Ini yang menciptakan hambatan lanjutan terhadap pertumbuhan produk asuransi syariah.

Peneliti senior Unpad ini mengatakan, agar lebih kompetitif di pasar nasional, perusahaan-perusahaan asuransi perlu mengembangkan produk-produk yang dapat diserap oleh pasar yang didominasi oleh masyarakat muslim. ” Pada tataran ekstrim, sebagian besar produk asuransi konvensional dipandang tidak halal. Sebab itu Indonesia sangat membutuhkan pakar-pakar asuransi syariah dalam jumlah yang memadai ,agar produk-produk yang syariah dapat dihasilkan secara massif,” ungkap Erie.

Menurut Erie , salah satu kelemahan/kekurangan asuransi konvensional dibandingkan dengan asuransi syariah ,  yakni ketika masa pertanggungan selesai, uang premi tidak dikembalikan ke pihak tertanggung. Itu lazim di asuransi konvensional. Dalam hukum muammalah, ini dianggap menyalahi. Ada selisih pendapat di antara pemuka agama Islam tentang asuransi konvensional pada perspektif ilmunya .  Misalnya, pada konsep asuransi konvensional, ada Gharar (ketidakpastian) karena tidak ada kejelasan tentang siapa yang untung dan rugi ketika periode asuransi berakhir. Juga ada riba , misalnya, ketika pembeli polis asuransi membayar sejumlah dana atau premi karena berharap dapat uang yang lebih banyak dikemudian hari, meski mungkin dia tidak mendapatkannya. Tambahan

uang itu adalah riba. Asuransi konvensional juga bersifat spekulasi. Dalam transaksi asuransi konvensional, satu pihak membayar sejumlah uang dengan ekspektasi memperoleh uang lebih banyak melalui spekulasi. ”Bila terjadi pada yang diasuransikannya, seperti kerusakan pada barang, maka orang itu berhak atas kompensasi (uang) yang jadi kespakatan. Sebaliknya, jika tidak ada kecelakaan, ia tidak akan mendapatkan apapun,” tutur Erie, baru-baru ini di Bandung.

Disebutkan Erie  , merujuk pada data OJK di Indonesia terdapat 50 perusahaan asuransi jiwa, 76 perusahaan asuransi umum, 2 perusahaan asuransi sosial, 3 perusahaan asuransi wajib dan 6 perusahaan reasuransi. (E-018)***