KAMI PSI, MEMILIH UNTUK MERDEKA!

33

Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka (Soe Hok Gie)

PARTAI SOLIDARITAS INDONESIA sedang mengalami ujian yang menentukan perjalanan ke depannya. Di hari peringatan kelahirannya, Grace Natalia, Ketua Umum PSI menghentak publik dengan pernyataan kerasnya menolak Perda Agama, Perda Injil dan semua aturan daerah yang berpotensi melahirkan tindak intoleransi dan diskriminasi.

PSI sadar bahwa pernyataan ini akan memicu polemik di masyarakat. Apalagi kasus-kasus penistaan agama sedang marak belakangan ini. Tak pelak, beberapa pimpinan ormas keagamaan mengecam sikap PSI ini dan malah ada yang melaporkan Grace Natalia ke polisi sebagai berlatar penistaan agama.

Sebagai kader PSI, saya pribadi mendukung sikap PSI. Sebagai Partai terbuka dan progressif, kami tak mau lagi melihat di masa depan ada penutupan paksa rumah ibadah, pengusiran warga yang berkeyakinan berbeda, pemaksaan keyakinan atau tafsir atas ayat suci, dan semua tindak intoleransi lainnya.

Semua tindakan intoleransi dan diskriminatif tak sejalan dengan cita-cita bangsa besar ini yang mengedepankan persatuan dalam keragaman. Ketika ada pihak yang menabur benih “kebenaran sepihak”, maka akan ada pihak lain yang menjadi korban.

Kami sadar kami tak sendiri, tak pelak pernyataan PSI yang menolak Perda diskriminatif ini juga didukung tokoh-tokoh hukum nasional, semisal Pak Prof Mahfud MD dan Buya Syafii Maarif. Beliau berdua bersepakat dengan PSI untuk menolak Perda-perda tersebut.

Juga Wapres M Jusuf Kalla menyatakan tak perlu ada Perda Agama, Alasan JK, urusan agama itu merupakan akidah atau keyakinan yang tidak perlu diatur melalui perda. Juga Ketua MUI yang menjadi Cawapres, KH Maruf Amin menganggap bahwa usulan ini wajar saja, tak perlu jadi polemik.

Penolakan Perda Agama ini adalah sikap politik kami, meski ini seperti seperti menggenggam bara api. Kami menerima kritik atas sikap ini, namun sebagai warga yang cerdas sikap politik ini tentu lebih layak ditempatkan juga di ranah politik.

Kalau ada yang tak setuju, kami terbuka atas kritik. Namun menyeret sikap politik ini ke ranah hukum tentu menurut kami tak pantas. Ini tak baik untuk pendidikan politik masyarakat. Sikap politik, menurut keyakinan kami, mesti dihadapi dengan dialektika di ranah politik pula.

Kami PSI, lahir dari sebuah cita-cita besar. Untuk memberikan warna kebaruan, yang progresif dan terbuka bagi masyarakat. Kami lahir dari semangat menggeser system politik lama yang bermuara pada kepura-puraan, juga apatisme.

Kami sadar bahwa masyarakat banyak mulai tak peduli dengan politik yang ada, karena terlalu lama karam dalam samudera pembodohan terus menerus. Politik yang dipenuhi banyak politisi yang hanya pandai berjanji tapi lebih sering lupa menepati ketika duduk di kursi parlemen.

Buat Kami, politik adalah sajadah pengabdian. Bukan lagi saatnya menjadikan politik sebagai tempat untuk berleha-leha, apalagi memperkaya diri. Menjadi politisi adalah menjadi hamba masyarakat.

Karenanya kami PSI berani mengangkat issue sensitive, terutama soal intoleransi dan penegakan hukum yang adil untuk semua.

Kami menolak perda Agama, atau perda Injil karena sangat berpotensi untuk menambah sekat di masyarakat. Kita sudah banyak menyaksikan tindak intoleransi di berbagai tempat, dan kami tak mau itu terjadi lagi.

Kami memahami sepenuhnya bahwa masyarakat perlu untuk menegakkan amal maruf dan menjaga diri dan keluarga mereka dari semua bentuk kemungkaran. Tentu itu kami dukung, namun kami merasa solusi dengan Perda Agama atau Perda Injil bukanlah satu-satunya jalan untuk itu.

Perda Agama atau Perda Injil hanya akan menjadikan hukum tumpang tindih. Kita semua sudah memiliki aturan hukum yang juga memuat pasal-pasal menyangkut penegakan moralitas, missal perzinaan, perjudian, dan hal lain.

Tak perlu lagi ditambah dengan aturan yang mempersempit kebebasan individu. Perda Agama atau Perda Injil tak perlu menjadi aturan turunan dari kitab suci. Kitab Suci tak perlu dipersempit menjadi perda lokal. Kitab Suci ditinggikan kemuliaannya sebagai aturan agama saja.

Kami PSI tak khawatir kalau penolakan akan Perda Agama atau Perda Injil ini akan mengganggu elektabilitas. Kami sadar bahwa ini issue sensitive di tanah air.

Namun seperti kata Soe Hok Gie, Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, kami PSI memilih untuk menjadi manusia merdeka. Kami bersuara menentang aturan yang berpotensi mengkotak-kotakkan masyarakat dan membatasi kebebasan individu.

ZAUMI SIRAD, Ssi.Apt

Caleg PSI-DPRD Kota Bandung 2

(Alumni FA-ITB95)