Bulog Jabar : Terindikasi Ada Pihak yang Mengubah Spesifikasi Beras

21

BISNIS BANDUNG—Kepala Perum Bulog Divre Jabar, Achmad Ma’mun mengatakan, berdasarkan pengamatandan tinjauan pihaknya di lapangan,  harga beras medium di beberapa pasar mengalami kenaikan. Kenaikan terindikasi , selain ada anomali harga, juga karena ada pihak yang mengubah spesifikasi beras dari medium ke premium.

Diakui Achmad Ma’mun , menjelang akhir tahun , harga beras ada kecenderungan naik , seiring dengan berkurangannya pasokan ke pasar karena musim panen sudah berkurang.

Pergerakan harga beras mulai diterjadi sejak bulan Oktober 2018 ,walau kenaikannya masih berada pada ambang bawah inflasi, hal tersebut karena Perum Bulog memiliki stok yang cukup untuk mengantisipasi kenaikan harga.  Achmad Ma’mun menyebut , kenaikan harga beras di atas HET ditemukan di beberapa kota  , seperti di Bandung, Bogor dan Tasikmalaya. Sedangkan di Kota Bekasi dan Depok, harga jual beras masih dibawah HET.

“Kenaikan harga beras di pasaran saat ini mengindikasikan adanya anomali harga dikarenakan adanya pihak yang mengubah spesifikasi beras dari medium ke premium, saat ini Perum Bulog bekerjasama dengan Satgas Pangan setempat terus melakukan pengawasan dan pengecekan langsung ke pasar-pasar,”ungkap Achmad Ma’mun, baru-baru ini mempertegas temuan adanya indikasi kenaikan harga beras di pasar .

Harga beras di pasaran, lanjut Achmad Ma’mun ,  diperkirakan akan kembali stabil setelah panen pada di awal tahun mendatang . Perum Bulog sudah siap mengawal dan mengatasi kenaikan harga  dengan menyediakan pasokan beras medium serta premium yang disalurkan melalui Operasi Pasar/KPSH, Bazar Murah, outlet Rumah Pangan Kita (RPK) dan lainnya Dikemukakan Achmad  ,  saat ini ketersedian beras milik Perum Bulog di Jawa Barat  berasal dari petani lokal.

Perum Bulog menyediakan beras medium dan premium sesuai dengan preferensi konsumen. Persediaan beras CBP milik Perum Bulog Divre Jabar cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga tahun depan.Beras dalam negeri hasil panen petani lokal mayoritas merupakan hasil panen dari daerah Cirebon dan Ciamis.

Achmad Ma’mun menjelaskan adanya kemungkinan  gagal panen akibat banjir yang memang perlu diwaspadai terutama di wilayah Kabupaten Bandung. Kondisi yang menyebabkan kenaikan/penurunan angka serapan Bulog  diakui Achmad , di antaranya karena ketersediaan lahan produksi padi, produktivitas padi, resiko gagal panen, teknologi pasca panen, Harga Pembelian Pemerintah (HPP), dan kepastian penyaluran beras hasil pengadaan Bulog. Sementara itu berdasar data BPS yang dirilis Oktober 2018 , harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani  Jawa Barat dijual Rp 5.044,06/ kilogram.

Harga jual GKP di tingkat penggilingan Rp 5.170,75/kilogram. Untuk harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani Rp 5.444,88/kilogram , di tingkat penggilingan Rp 5.573,72/kilogram. Harga  beras kualitas premium di tingkat penggilingan dijual Rp10.268,14/kilogram . Kemudian harga beras kualitas  medium di penggilingan dijual seharga Rp 9.788,89/kilogram . Sedangkan beras kualitas rendah yang dijual di penggilingan Rp 9.300/kilogram.

Harga jual GKG di penggilingan terendah diketahui terjadi  di Kabupaten Purwakarta , yakni seharga Rp 5.150,00/kilogram  .Harga jual GKG tertinggi Rp 6.100,00 /kilogram  terjadi di Kabupaten Bandung . Sedangkan harga gabah kualitas rendah yang terpantau Tim Survey Monitoring Gabah  BPS Jawa Barat , antara lain di wilayah Kabupaten Bogor , Sukabumi, Cianjur dan Kabupaten Karawang , harga jual gabah terendah di tingkat petani   Rp 3.142,00/kilogram terjadi di Kabupaten Bogor dan harga jual tertinggi gabah kualitas rendah Rp 5.400,00/kilogram terjadi di Kabupaten Ciamis. Di Ciamis , juga terjadi penjualan harga jual GKP tertinggi di tingkat petani Rp 5.800,00/kilogram serta di tingkat penggilingan Rp 5.850,00/kilogram.

Sejak Februari 2018  berdasar Peraturan Menteri Pertanian terjadi perubahan pengelompokan kualitas beras berdasarkan patahan beras . Untuk kualitas beras premium, sebelumnya maksimum patahan beras kurang lebih 10% menjadi 15%. Kualitas rendah sebelumnya 20% menjadi 25%, kualitas medium  sebelumnya antara 10% -20% menjadi 15% – 25%. (E-18/B-003) ***