Winny Indriani , Beerpletok Minuman Tradisional Bercitarasa Internasional

78

Winny Indriani , istri dari Andik Susilo ini merupakan pemilik produk  minuman  tradisional . Lahir di Bandung  29 Juli 1978, ibu dari Chelsea Alanna, (12 tahun) ini menuturkan, awal usaha menggeluti produksi “Beerpletok” sejak tahun 2015 . Idenya berasal dari sang ibu. Sebelum menikah, Winny Indriani mengaku sering masuk angin,  ibunya suka membuatkan sebuah citarasa minuman . Awalnya tidak mengetahui kalau namanya adalah Beerpletok. Ibunya hanya  bilang, itu adalah minuman jahe rempah. “Ketika saya bikin untuk suami, ia sangat suka dan begitu pula dengan teman-teman saya.

Saya mulai browsing-browsing tentang manfaat minuman ini. Setelah saya lihat i bahan-bahan yang digunakan, ternyata ini adalah Beerpletok, minuman tradisional khas betawi. Awalnya ngak sengaja, cuma pas bikin di rumah dan suami saya mencobanya, dia bilang, ini oke  kalau dijadikan jualan. Begitu juga dengan teman dan kerabat yang mencicipi, mereka menyukainya,” Winny bercerita awal usaha Beerpletok kepada BB , pekan lalu di Bandung.

Winny Indriani mengaku,  kemampuan memproduksi dan mendesain produk berasal dari  suaminya yang sama sekali tidak meniru desain produk orang lain. Jadilah Beerpletok sebagai industri rumahan yang diproduksi di Komplek de Green Grande Residence Margacinta Bandung. Dalam sebulan, produksi Beerpletok cair mampu diproduksi sebanyak 1000 botol. Sedangkan untuk Beerpletok serbuk kurang lebih 50-100kg/bulan. Bahan baku yang digunakannya, antara lain gula, jahe dan rempah-rempah, semuanya bahan baku lokal, asli indonesia. Untuk produksi Bearpletok , Winny memperkerjakan dua orang tenaga kerja. “Apakah dalam memproduksi Beerpletok, harus memiliki  keahlian khusus. Tidak perlu , karena  prosesnya mudah, hanya perlu telaten dan sabar saja,” ungkap Winny menjelaskan soal kemampuan dalam memproduksi Beerpletok.

Penggemar warna biru ini mengklaim dalam sebulan, Beerpletok bisa terjual rata-rata 400-1000 botol . Segmen pasarnya , umumnya kalangan laki-laki dan perempuan yang menyukai minuman rempah-rempah. Produk dijual dengan kisaran harga Rp 12.000 – Rp 35.000. Omzetnya  masih belum stabil , naik turun antara Rp 5-10 juta. Pemasarannya  masih di  Bandung dan Jakarta. Untuk offline bisa didapatkan disejumlah pusat perbelanjaan dan tempat oleh oleh,  sentra kuliner ternama di Kota Bandung dan Jakarta.  Untuk pemesanan online bisa diakses melalui website:www.beerpletok.com atau IG:@beerpletokid. “Kalau Beerpletok sampai keluar negeri, itu karena ada customer yang bawa untuk kerabat atau temannya sebagai buah tangan dari Indonesia, belum fokus ke ekspor.Sewaktu perigatan hari rempah, Beerpletok kami terpilih sebagai souvenir bagi tamu negara,”tutur Winny.

Winny juga mengklaim, ada keunggulan produknya dibandingkan dengan produk sejenis yang beredar dipasaran. Beerpletok buatannya dibuat tanpa pengawet, bebas pewarna serta bahan baku yang dipakai berkualitas baik. Tidak ada persaingan dalam berjualan minuman tradisional ini, yang membedakan hanya dari kualitas bahan baku dan hiegienis dalam pembuatannya.

Selama menjadi pengusaha, Winny mengaku ada beragam pengalaman unik dan menarik. Pengalaman positifnya,  bisa membuat semua orang suka akan Beerpletok dan menjadikan minuman ini sebagai minuman kesukaan dan menyehatkan. Untuk meningkatkan kualitas usaha dan pribadi yang dilakukan, dirinya selalu branding dan mempertahankan kualitas produk, juga  berinovasi. Ciri khas produknya merupakan minuman tradisional khas Betawi yang berbahan baku lokal dan berkualitas. “Minat pasar terhadap produknya Alhamdulillah bagus, indikatornya penjualan yang meningkat dan repeat order dari konsumen,”ujarnya.

Perempuan pengusaha minuman tradisional ini mengimbuhkan,  saat ini perhatian/kepedulian pemerintah, perbankanmaupun pihak swasta terhadap sektor usaha sudah bagus dalam memperhatikan pelaku UKM, melalui pelatihan tentang branding, packaging dan marketing. “Pelatihan WUB merupakan awal pijakan bagi pelaku UKM,” pungkas Winny.  (E-018)***