Memotret sajian tematik di studio foto

30

SELEMBAR foto bisa menjadi kenangan seumur hidup. Itulah yang kita rasakan bila melihat foto-foto masa lampau. Baik dengan keluarga, kerabat maupun teman-teman sekolah.

Dulu, banyak orang mengambil gambar di studio foto. Terutama, saat ingin menggenapi momen-momen berharga. Namun, seiring kehadiran ponsel pintar yang didalamnya terselip kamera nan canggih, studio foto seakan ditinggalkan.

Tapi, tentu saja para pemainnya tak ketinggalan akal. Mereka berkreasi dengan membuat studio foto tematik. Seperti yang dilakukan oleh Lukman Sinara yang mendirikan Studio Sinten sejak 2013. Tema tradisional Indonesia tempo dulu (era tahun 1920-1970-an) menjadi kekuatan Studio Sinten.

Lukman mengatakan, sejak dulu memang sudah mengusung tema budaya dalam pemotretannya. Ia juga melihat bahwa potensi usaha ini masih sangat bagus,  selain memperkenalkan budaya Indonesia, orang-orang juga lebih menghargai budaya-budaya negeri ini.  “Bisnis ini masih bagus potensinya apalagi untuk beberapa kota besar di luar Jawa,” tuturnya kepada wartawan.

Lukman pun sangat meyakini, bisnis ini akan bertumbuh pesat karena adanya unsur pengenalan, pembelajaran dan pengalaman tentang budaya Indonesia. Setiap kali mengambil gambar, ia sangat memperhatikan cara berpakaian, perabot dan aksesoris, serta pose foto dan tata cara sesuai pakaian daerah yang dikenakan. Hal ini juga menjadi nilai lebih dan keunggulan dari Studio Sinten.

Tak hanya di Yogyakarta, kini Lukman sudah membuka Studio Sinten di tiga kota besar lainnya. Yakni, Jakarta, Bandung dan Bali. Sementara, di Kota Gudeg, dia sudah memiliki tiga cabang.

Tema-tema yang disuguhkan Studio Sinten ini antara lain tema Jogja tahun 1950-an, Bali tahun 1920-an, Sumedang 1940-an, Batavia Sumpah Pemuda tahun 1980-an. Selain studio foto, konsumen juga bisa mendapatkan fasilitas seperti makeup, hair-do, property asli untuk melengkapi, baju tradisional, editan untuk foto tempo doeloe.

Lukman bilang, “Konsumen juga boleh selfie sepuasnya menggunakan ponsel mereka. Sementara, dari Lukman mereka akan mendapatkan kualitas foto dengan resolusi tinggi dalam bentuk CD maupun flashdisk. “Semua dikerjakan dengan perangkat Apple, jadi kami benar-benar memberikan kualitas yang terbaik bagi pelanggan,” kata Lukman.

Lukman memang mengutamakan mutu dan kualitas edit yang lebih berkelas internasional. “Jadi kami utamakan dulu mutu dan hasil jadinya, baik dari pose, tema dan kualitas editing menjadi kelas internasional,” tambahnya. Ia mematok tarif paket mulai Rp 250 ribu per orang hingga Rp 2 juta per 10 orang.

Melihat bisnisnya kian potensial, Lukman pun  menargetkan untuk pembukaan cabang baru lagi tahun ini di kota lain. “Potensinya masih besar, apalagi kelas menengah ke atas sedang naik pesat dan bisa juga untuk mendukung perkembangan pariwisata Indonesia,” tambahnya.

Lewat bisnis ini, Lukman mengaku bisa meraup omzet antara Rp 100 juta hingga Rp 200 juta per bulannya.

Pakai rumah sendiri

Peluang studio foto dengan tema vintage atau jaman dulu (jadul) juga digarap oleh Nani Mayor asal Solo, Jawa Tengah. Berawal dari hobi mengoleksi barang-barang etnik dan vintage khas Jawa, ia membuka studio foto Roemah Rakjat sejak Januari 2017 lalu. Meski baru setahun, Nani mengakui jika tren studio foto dengan tema vintage tengah naik daun.

“Sekarang foto dengan tema jadul memang sedang banyak yang suka. Pengunjung Roemah Rakjat mulai beragam, ada yang keluarga, pre-wedding, sampai ada yang rombongan juga,” jelasnya.

Mengusung konsep tradisi Jawa klasik, Roemah Rakjat menawarkan sensasi foto dengan nuansa pedesaan Jawa jaman dulu, lengkap dengan kostum dan propertinya. Merawat Tradisi Jawa, itulah tagline Roemah Rakjat. Pengunjung tak hanya berfoto dengan ala Jawa, tapi juga bisa merasakan langsung suasana pedesaan Jawa yang kental di Roemah Rakjat.

“Studio foto ini sebenarnya rumah saya sendiri. Rumahnya rumah joglo, ada gebyog asli juga. Semua perabotan jadul juga ada, tapi bukan barang baru karena saya mengumpulkannya sudah sejak lama,” jelas Nani.

Roemah Rakjat menawarkan tiga paket, yaitu paket reguler, paket pre-wedding, dan paket rombongan. Untuk paket reguler dikenakan biaya Rp 150.000 per orang, paket pre-wedding Rp 2 juta dan paket kelompok (lebih dari 10 orang) dikenakan Rp 140.000 per orang.

Ada dua studio foto yang ditawarkan, yakni indoor dan outdoor. Dalam studio foto outdoor ada sekitar 6 spot yang ditawarkan ke pengunjung. Sedangkan, studio indoor sekitar 4 spot yang ditawarkan.

Nani mengatakan, kostum yang dikenakan oleh pengunjung juga harus sesuai dengan tradisi dan adat Jawa. Kostum perempuan, misalnya, harus menggunakan kebaya lengkap dengan stagen dan jarik yang di sebelah kiri. Begitu pula dengan kostum kaum pria yang juga menggunakan jarik wiron atau celana dan lurik.

Menghadapi persaingan studio foto dengan konsep Jawa klasik yang semakin banyak bermunculan, Nani mengungkapkan lebih mengutamakan kreativitas dan pelayanan terhadap pengunjung. Ia mengaku kerap mendekorasi ulang spot-spot foto di studionya.

“Karena kadang saya bosan lihat dekorasi spotnya begitu melulu, saya ubah dekorasinya. Jadi setiap pengunjung yang datang tidak akan sama persis, karena dekorasi dan properti sering saya ganti dan ubah. Kostum juga beda-beda,” tuturnya.

Gaya arsitektur Eropa

Berbeda dengan Studio Sinten dan Roemah Rakjat yang mengambil tema-tema vintage atau jadul, Studio House Surabaya menampilkan tema-tema gaya arsitektur Eropa klasik sebagai latarbelakang foto. Ambil contoh, gaya victorian yang didominasi warna putih.

Rudi Soegiono, Manager Operasional Studio House Surabaya mengatakan, studio foto tematik memang sedang populer sejak tiga tahun lalu. Biaya foto outdoor yang lumayan besar mendorong masyarakat memanfaatkan studio foto jenis ini. “Selain bertema, kami membuat dekorasi dalam bentuk tiga dimensi,” jelasnya.

Studio House Surabaya sendiri menyiapkan 15 studio tematik. Untuk melengkapi dekorasinya, ada juga tim yang siap mengubah pernak-perniknya. “Hanya butuh waktu 30 menit, karena beberapa tema sudah dipasang dalam ruangan tertentu,” kata Rudi. Studio House Surabaya juga mempunyai studio bertema Juliet yang merupakan studio outdoor berkonsep balkon.

Agar selalu menarik, Rudi bersama timnya menciptakan tema baru sekitar empat bulan sekali. Namun, bila ada satu tema yang tidak diminati konsumen mereka pun tidak segan-segan untuk melakukan perubahan dalam waktu dekat.

Rata-rata dalam sebulan, terdapat sekitar 50 permintaan foto tematik. Kebanyakan konsumen mengambil foto untuk pre-wedding, pre-sweet (perayaan 17 tahun), foto keluarga dan foto bersama teman-teman.

Tarifnya mulai Rp 500.000 sampai Rp 3 juta per jam. Setiap konsumen diberi waktu selama satu jam untuk pengambilan gambar.

Selain melayani permintaan foto studio, Studio House Surabaya juga menyewakan studio untuk para fotografer. Mereka pun juga menyiapkan segala pernak-pernik dengan tema tertentu yang dapat digunakan oleh mereka.

Harga sewanya mulai dari Rp 260.000 sampai Rp 500.000 per jam. “Kami pun mencoba menciptakan studio ini seperti rumah bagi fotografer sehingga mereka nyaman melakukan sesi foto disini,” jelas Rudi.

Menggali kebudayaan dan memberi kenyamanan

Tak hanya sekedar menjadi kenangan, foto-foto yang menampilkan keunikan dan budaya dari daerah tertentu juga bisa menjadi buah tangan saat berlibur. Apalagi, jika pemotretan dilakukan dengan orang-orang tersayang maupun teman-teman sekolah.

Oleh karena itu, para pemilik studio foto tematik ini tak berhenti menawarkan keragaman spot studio atau pernak-pernik perlengkapannya. Bahkan, mereka juga memberikan pelayanan lain supaya konsumen merasa nyaman.

Seperti yang dilakukan Nani Mayor, pemilik Studio Foto Roemah Rakjat. Tak hanya rajin mengganti dekorasi dan properti spot foto, Nani juga terkadang menyuguhkan teh, camilan atau makanan berat khas Jawa. Suguhan tersebut dibuat sebagai layanan tambahan bagi pengunjung.

Dia pun tak mengutip tambahan biaya apapun untuk layanan ini. Bakan, pengunjung juga bebas berfoto dengan menggunakan kamera ponsel di spot manapun. “Kadang memang ada suguhan teh sama camilan getuk atau yang lain. Kadang kalau saya juga pas masak, saya ajak pengunjung buat makan bersama. Tapi menunya ya terserah saya,” ungkapnya sambil tertawa.

Ia berharap dengan layanan tersebut, para pengunjung Roemah Rakjat tidak hanya dikenal sebagai studio foto saja. Tapi juga tempat membangun kebersamaan, sehingga antara Nani dan pelanggan bisa terus terhubung.

Sementara, Lukman Sinara, pemilik Studio Sinten, untuk terus mencuri perhatian konsumen, dia terus menggali kekayaan budaya Indonesia tempo dulu sebagai konsep studio fotonya. Sehingga, tak sekedar menjadi sarana berfoto, studio itu juga disulapnya sebagai tempat bagi konsumen untuk mengenang masa lalu.

Sebab, setiap kali pemotretan, seluruh aksesori dan peralatan asli disertakan untuk memenuhi falsafah masyarakat Jawa. Misalnya, untuk pemotretaan keluarga, Lukman akan melengkapi sesi foto dengan lima perangkat falsafah Jawa, seperti griyo, wanito, kukilo, turonggo dan curigo.

Tak heran, studio fotonya juga menjadi salah satu buruan para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Sebab, sambil berfoto, wisatawan yang mengajak keluarga ini bisa memperkenalkan adat Jawa yang cukup lama. Apalagi, properti kuno yang sudah jarang ditemui bisa dipakai saat berfoto. Dan, akhirnya, hasil jepretan bisa menjadi oleh-oleh berkesan saat berkunjung ke Yogyakarta. (C-003/Bbs)***